Bacaan niat salat Idul Adha perlu disesuaikan dengan posisi masing-masing, karena lafaz untuk imam, makmum, dan orang yang salat sendiri tidak sama. Kesalahan kecil pada bagian ini sering membuat orang ingin memastikan ulang agar ibadah berjamaah berjalan sesuai tata cara yang dianjurkan.
Untuk posisi imam, niat yang dibaca adalah “Ushalli sunnatal li ‘idil adha rak’ataini imaman lillahi ta’ala.” Lafaz ini berarti aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah Ta’ala.
Jika bertindak sebagai makmum, lafalnya berubah pada bagian peran, yaitu “Ushalli sunnatal li ‘idil adha rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala.” Artinya, aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah Ta’ala.
Sementara itu, bagi yang salat sendiri atau munfarid, bacaannya adalah “Usholli sunnatan ‘iidil adhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati lillaahi ta’aalaa.” Artinya, aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.
Perbedaan niat ini penting karena salat Idul Adha biasanya dikerjakan berjamaah di masjid atau lapangan. Meski begitu, salat ini juga tetap boleh dilakukan sendiri bila diperlukan.
Salat Idul Adha sendiri termasuk ibadah utama pada pagi 10 Dzulhijjah. Ibadah ini berkedudukan sebagai sunnah muakkadah dan sangat dianjurkan bagi Muslim laki-laki maupun perempuan.
Selain niat, urutan gerakan salat Idul Adha juga memiliki ciri khas tersendiri. Pada rakaat pertama, ada tujuh takbir tambahan, lalu pada rakaat kedua ada lima takbir tambahan.
Rakaat pertama dimulai dengan takbiratul ihram sambil menghadirkan niat di dalam hati. Setelah itu, jamaah membaca doa iftitah dan melanjutkan takbir tambahan sebanyak tujuh kali.
Di antara takbir tambahan, disunnahkan membaca tasbih “Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.” Setelah takbir selesai, imam dan makmum membaca Surah Al-Fatihah, kemudian surat pendek yang dianjurkan adalah Surah Al-A’la.
Rakaat pertama dilanjutkan seperti salat pada umumnya, yaitu rukuk, iktidal, lalu sujud dua kali. Setelah itu, jamaah berdiri untuk masuk ke rakaat kedua.
Pada rakaat kedua, jamaah bangkit dari sujud sambil bertakbir. Setelah berdiri, dilakukan lagi takbir tambahan sebanyak lima kali dengan bacaan tasbih yang sama di sela-selanya.
Sesudah itu, dibaca Surah Al-Fatihah dan surat pendek yang dianjurkan, yaitu Surah Al-Ghasyiyah. Rakaat kedua kemudian ditutup dengan rukuk, iktidal, sujud dua kali, tahiyat akhir, dan salam.
Setelah salam, jamaah dianjurkan tidak langsung meninggalkan tempat salat. Mereka disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Adha yang disampaikan khatib hingga selesai.
Mendengarkan khutbah memang bersifat sunnah, tetapi kehadirannya menjadi pelengkap yang menyempurnakan pahala ibadah salat Id. Karena itu, jamaah biasanya tetap berada di tempat sampai khutbah berakhir.
Pada hari raya kurban, ada pula amalan sunnah yang biasa mengiringi keberangkatan menuju salat. Di antaranya mandi sebelum berangkat, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik bagi laki-laki, termasuk pakaian berwarna putih.
Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sebelum salat. Makan dilakukan setelah salat Idul Adha selesai.
Saat menuju tempat salat, jamaah juga dianjurkan berjalan kaki jika memungkinkan. Rute pergi dan pulang pun disunnahkan berbeda sebagai bagian dari syiar Islam.
Sepanjang perjalanan menuju masjid atau lapangan, umat Islam dianjurkan mengumandangkan takbir. Kebiasaan ini membuat suasana Idul Adha terasa lebih hidup dan penuh pengagungan kepada Allah.
Source: www.suara.com






