BeeMa Honey kini menembus pasar ekspor rutin ke Singapura dengan nilai transaksi sekitar Rp60 juta hingga Rp100 juta per bulan. Produk madu artisan premium ini dipasarkan melalui distributor yang memasok hotel-hotel di negara tersebut.
Perjalanan itu berangkat dari upaya membangun madu lokal premium yang bisa bersaing di pasar domestik dan luar negeri. Di tengah dominasi produk impor, BeeMa Honey mendorong madu Nusantara tampil sebagai produk yang lebih terjamin keaslian dan kualitasnya.
Pasar luar negeri melihat madu sebagai kebutuhan harian
Ketertarikan terhadap BeeMa Honey juga datang dari calon pembeli di Eropa, termasuk Bulgaria, Bosnia, dan Norwegia. Namun, peluang ekspor ke kawasan itu belum sepenuhnya bisa diwujudkan karena Indonesia belum masuk daftar negara produsen madu yang diakui oleh Uni Eropa.
Fransisca Natalia Widowati berharap Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA dapat membuka jalan ke pasar Eropa. Di sisi lain, permintaan yang terus muncul menunjukkan madu Indonesia punya ruang besar jika hambatan administratif dapat diatasi.
Ia juga melihat perbedaan cara pandang antara konsumen Indonesia dan pasar internasional. Di luar negeri, madu lebih sering diposisikan sebagai bagian dari konsumsi harian, baik sebagai pemanis alami, campuran minuman, maupun pelengkap makanan.
Mengangkat madu lokal dari isu keaslian hingga kualitas
BeeMa Honey dirintis sejak 2017 dan resmi berbadan hukum sebagai perseroan terbatas pada 2019. Perusahaan ini berfokus pada madu mentah atau raw honey yang diproses minim agar kandungan alaminya tetap terjaga.
Fransisca melihat masih ada jarak antara potensi madu Indonesia dan pengenalan pasar terhadap produk lokal. Ia juga menaruh perhatian pada isu keaslian karena madu rentan mengalami adulterasi atau pemalsuan.
Dalam pencariannya, ia sempat mendatangi sejumlah sentra produksi madu di Indonesia. Pengalaman di Pati, Jawa Tengah, menjadi salah satu titik penting karena ia menemukan karakter rasa madu lokal yang khas dan kualitasnya dinilai tidak kalah dari produk luar negeri.
Dari modal terbatas ke kapasitas produksi puluhan ton
BeeMa Honey memulai usaha dengan modal awal Rp20 juta yang dikumpulkan Fransisca bersama suaminya. Dari modal itu, perusahaan berkembang hingga memiliki kapasitas produksi sekitar 25 ton per bulan.
Nama BeeMa diambil dari sosok Bima dalam pewayangan Jawa, yang dipandang sebagai simbol kekuatan, kejujuran, dan integritas. Nilai tersebut kemudian dibawa ke dalam cara perusahaan membangun reputasi produk dan menjaga transparansi kepada para pemangku kepentingan.
Membina peternak lebah di berbagai daerah
Di balik pertumbuhan bisnis, BeeMa Honey membina sekitar tiga kelompok peternak lebah yang tersebar di Sumatra, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Total peternak yang didampingi mencapai sekitar 30 orang.
Fransisca menilai banyak peternak lebah belum mendapat dukungan yang memadai dan kerap menjual madu curah dengan harga rendah. Karena itu, BeeMa Honey memberi pendampingan soal sustainable beekeeping atau budidaya lebah berkelanjutan, termasuk teknik panen, penyimpanan madu, dan pemahaman tentang peran lebah sebagai agen penyerbuk bagi ekosistem pertanian.
Pendekatan tersebut ikut berdampak pada kesejahteraan peternak karena perusahaan memberi kepastian pasar melalui kerja sama yang terstruktur. Sebagian peternak bahkan disebut mampu meningkatkan produksi hingga tiga kali lipat.
Panen lestari dan habitat yang lebih aman
BeeMa Honey juga mendorong praktik panen lestari, terutama untuk madu hutan. Dalam metode ini, peternak hanya mengambil sebagian hasil dan menyisakan sekitar 30% sarang agar koloni lebah bisa berkembang kembali.
Model tersebut membantu lebah tidak harus memulai produksi dari awal setelah panen. Bagi peternak, cara ini menjaga keberlanjutan produksi sekaligus membuka peluang untuk mempekerjakan lebih banyak orang di tingkat lokal.
Komitmen keberlanjutan itu diperkuat lewat gerakan Save the Bees. BeeMa Honey menggandeng pemilik lahan organik bebas pestisida, termasuk BSP Farm di Bogor, untuk membangun bee sanctuary di kawasan Gunung Salak.
Di lokasi itu, BeeMa Honey mengembangkan stingless bee meliponini dan memproduksi Java Trigona, madu dari lebah klanceng yang dikenal memiliki kandungan antioksidan tinggi. Lebah dibiarkan hidup bebas tanpa gangguan di habitat yang disiapkan khusus.
Produk beragam dan sertifikasi lengkap
Selain madu murni, BeeMa Honey juga memasarkan produk infused honey. Beberapa varian yang dihadirkan antara lain coffee infused honey, madu infused jahe, dan madu infused cabai.
Varian madu cabai ditujukan untuk konsumen yang menyukai rasa pedas, tetapi ingin menghindari bahan kimia dan pengawet. Produk-produk BeeMa Honey dijual dengan kisaran harga Rp110 ribu hingga Rp250 ribu.
Perusahaan juga telah mengantongi sertifikat halal, Nomor Kontrol Veteriner atau NKV, izin edar BPOM untuk produk formula, dan sertifikasi HACCP. Kelengkapan ini menjadi modal penting untuk memperluas pasar dan memenuhi persyaratan ekspor.
BRI membuka akses pasar lebih luas
Perjalanan BeeMa Honey ke pasar yang lebih besar mendapat dorongan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Dukungan itu dimulai ketika Fransisca mengikuti program Brilianpreneur 2019 dan kemudian bergabung sebagai UMKM binaan BRI.
Melalui pembinaan dan Rumah BUMN, BeeMa Honey memperoleh akses promosi yang lebih luas. Perusahaan juga difasilitasi untuk mengikuti pameran, termasuk Food & Hotel Asia di Singapura, yang membuka kesempatan bertemu calon pembeli baru.
Dukungan itu ikut memperkuat langkah BeeMa Honey membuktikan bahwa madu lokal bisa naik kelas tanpa meninggalkan basis produksi di daerah. Di saat yang sama, rantai usaha yang dibangun perusahaan memberi ruang lebih besar bagi peternak lebah untuk ikut merasakan dampak ekonomi.
Source: mediaindonesia.com






