Beruang Bukan Teman Bermain, Kedekatan Di Alam Liar Justru Bisa Berujung Fatal

Di dunia nyata, beruang bukan hewan yang bisa diperlakukan layaknya teman bermain. Ketika manusia terlalu dekat dengan mereka, risiko yang muncul bukan hanya untuk orang yang berhadapan langsung, tetapi juga untuk beruang itu sendiri.

Kisah yang terlihat hangat di serial Masha and the Bear memang memberi kesan seolah manusia dan beruang bisa hidup berdampingan tanpa masalah. Namun, gambaran seperti itu jauh berbeda dari kenyataan karena beruang tetap hewan liar dengan naluri kuat yang sulit ditebak.

Oded Berger-Tal, profesor ekologi di Ben-Gurion University of The Negev, menilai manusia tidak bisa menjalin persahabatan dengan beruang. Ia menjelaskan bahwa beruang yang tampak bersahabat biasanya hanya mengaitkan manusia dengan makanan, bukan membangun ikatan emosional.

Pandangan itu sejalan dengan banyak situasi di alam liar. Saat beruang terbiasa mendekati manusia karena makanan, kebiasaan itu justru membuat jarak aman semakin hilang dan memicu konflik yang berujung buruk.

Contoh tragis pernah terjadi pada Timothy Treadwell di Alaska. Ia tewas dimangsa beruang grizzly, dan peristiwa itu menjadi pengingat bahwa penampilan jinak tidak pernah benar-benar menghapus sifat liar beruang.

Risiko tersebut tidak berhenti pada manusia yang berinteraksi langsung. Beruang yang terlalu sering mendatangi permukiman atau area manusia karena makanan kerap dianggap berbahaya dan akhirnya dibunuh untuk mencegah ancaman yang dinilai bisa muncul.

Berger-Tal menekankan bahwa beruang hanya bertindak sesuai naluri mereka. Karena itu, gagasan tentang persahabatan yang aman antara manusia dan beruang justru merugikan kedua pihak dan tidak realistis dijadikan pola hidup bersama.

Meski begitu, ada pandangan lain yang memberi ruang pada kedekatan tertentu, terutama pada beruang yang dibesarkan di penangkaran. Gordon M. Burghardt dari University of Tennessee menyebut bonding lintas spesies bisa terjadi dan bahkan bertahan hingga beruang dewasa.

Kedekatan seperti itu tetap tidak otomatis berarti aman. Beruang punya rasa ingin tahu yang tinggi, pola makan yang mirip manusia, dan kemampuan beradaptasi yang membuat mereka tampak mudah akrab dengan orang.

Masalah muncul saat beruang menjadi terlalu terbiasa berada dekat manusia. Habituasi dapat membuat mereka kehilangan rasa takut alami dan terus mencari makanan di sekitar aktivitas manusia atau permukiman.

Dalam banyak kasus, keadaan semacam itu justru berakhir buruk bagi beruang maupun manusia. Hewan itu dianggap membahayakan lalu dibunuh, padahal perilakunya sering kali hanya mengikuti naluri alaminya.

Dari semua jenis beruang, beruang kutub disebut sebagai yang paling mematikan di dunia. Spesies ini juga menjadi beruang terbesar di bumi, dengan tinggi sekitar 3 meter saat berdiri dan berat lebih dari 770 kilogram.

Kekuatan fisiknya membuat beruang kutub sangat berbahaya. Mereka memiliki cakar hampir 10 sentimeter, gigi taring tajam, dan gigitan sangat kuat yang mencapai sekitar 1.200 psi.

Berbeda dari sebagian besar beruang lain yang biasanya menyerang karena merasa terancam atau melindungi anak, beruang kutub juga bisa menyerang manusia untuk dimangsa. Di habitat Arktik, makanan sulit ditemukan sehingga mereka memburu apa pun yang dianggap sebagai sumber makanan.

Beruang kutub bahkan bisa melacak manusia lewat bau tubuh, seperti saat mereka memburu anjing laut. Karena itu, warga di wilayah Arktik kerap memasang perlindungan khusus di sekitar rumah, sementara wisatawan biasanya harus ditemani penjaga bersenjata saat memasuki habitatnya.

Gambaran di layar memang bisa membuat hubungan manusia dan beruang terlihat akrab. Tetapi di alam liar, jarak aman tetap jauh lebih masuk akal daripada membayangkan hidup bersama mereka sebagai sesuatu yang sederhana dan aman.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait