BI Masih Menilai Rupiah Di Bawah Nilai Wajar, Penguatan Diperkirakan Muncul Juli-Agustus

Bank Indonesia masih menilai rupiah berada di bawah nilai wajarnya, meski kurs domestik kini berada di atas Rp17.600 per dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo melihat masih ada ruang bagi rupiah untuk bergerak menuju kisaran Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar AS.

Perry menyampaikan pandangan itu dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Ia menegaskan bahwa arah rupiah masih sejalan dengan asumsi makro APBN dan peluang penguatan dapat mulai terlihat pada Juli-Agustus.

Masih dianggap undervalue

BI menempatkan nilai fundamental rupiah di sekitar Rp16.500 per dolar AS, sesuai asumsi dalam APBN. Karena itu, posisi rupiah yang masih berada di atas Rp17.600 dinilai belum mencerminkan nilai wajarnya.

Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada pergerakan kurs harian. BI juga melihat hubungan kurs dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, termasuk data pertumbuhan Indonesia yang mencapai 5,61% secara tahunan pada kuartal I/2026.

Stabilitas tetap dijaga

Meski rata-rata rupiah sepanjang tahun berjalan berada di Rp16.900, Perry menyebut kondisi pasar masih terkendali. BI mencatat deviasi rupiah saat ini sebesar 5,4% dan masih menganggapnya stabil.

Ia menjelaskan bahwa penilaian stabilitas kurs tidak semata-mata ditentukan oleh level rupiah. BI menggunakan standar deviasi rolling 20 hari untuk melihat apakah pergerakan nilai tukar masih berada dalam rentang yang terjaga.

Tekanan musiman mulai mereda

BI melihat tekanan pada rupiah meningkat pada April, Mei, dan Juni karena permintaan dolar yang lebih tinggi. Perry menyebut kebutuhan valuta asing pada periode itu ikut memberi beban tambahan terhadap rupiah.

Setelah periode tersebut lewat, BI memperkirakan ada ruang penguatan pada Juli dan Agustus. Perry mengaitkannya dengan selesainya musim haji, repatriasi dividen korporasi, dan pembayaran utang luar negeri yang dapat mengubah arus permintaan valuta asing.

Risiko global masih membayangi

Di sisi lain, tekanan eksternal belum hilang sepenuhnya. Perry membandingkan kondisi sekarang dengan gejolak saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor resiprokal pada Februari 2025, ketika rupiah sempat tertekan sebelum kembali menguat.

Ia juga menyoroti naiknya risiko geopolitik akibat serangan AS-Israel ke Iran yang memicu gejolak di kawasan Teluk. Kondisi itu turut mendorong kenaikan credit default swap atau CDS, yang mencerminkan persepsi investor terhadap risiko gagal bayar utang suatu negara.

Peluang menuju level fundamental

Perry menilai tekanan seperti itu tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga banyak negara lain. Karena itu, BI masih melihat peluang rupiah kembali mendekati kisaran fundamentalnya selama tekanan musiman berkurang dan risiko global tidak bertambah besar.

Dengan kondisi domestik yang masih tumbuh dan tekanan permintaan valas yang mulai menurun, BI membaca arah rupiah bukan sebagai pelemahan permanen. Dari sudut pandang otoritas moneter, ruang penguatan masih terbuka menuju sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terkait