Bank Indonesia tetap menempatkan pasar sebagai arena utama untuk meredam tekanan pada rupiah yang sempat mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Langkah ini diambil karena nilai tukar masih mudah bergejolak di tengah sentimen global yang berubah cepat dan kebutuhan valas di dalam negeri yang belum mereda.
Tekanan tersebut datang dari dua arah sekaligus. Dari luar negeri, ketidakpastian global kembali naik setelah perkembangan konflik di Timur Tengah memicu kehati-hatian pelaku pasar dan menjaga volatilitas pasar keuangan dunia tetap tinggi.
Di dalam negeri, kebutuhan valuta asing secara musiman juga ikut menambah tekanan. Kebutuhan itu terutama terkait pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS masih terbatas.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa kondisi itu membuat ruang stabilitas rupiah tetap rentan. Karena itu, BI menjaga kehadirannya di pasar agar gejolak nilai tukar tidak berkembang lebih jauh.
BI perkuat langkah stabilisasi
Bank sentral menegaskan akan terus hadir untuk menahan tekanan di pasar valas. Selain itu, BI juga memperkuat koordinasi dengan pihak terkait supaya dinamika pasar keuangan tetap terkendali.
Pengawasan terhadap pembelian dolar AS oleh bank dan korporasi ikut ditingkatkan. Kebijakan itu dijalankan secara konsisten dan terukur, mengikuti perkembangan pasar global maupun domestik.
Di sisi kebijakan moneter, BI sebelumnya menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam RDG BI pada 19–20 Mei 2026. Pada saat yang sama, suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25% dan lending facility menjadi 6,00%.
Langkah lain yang ditempuh adalah memperketat ketentuan pembelian valuta asing tanpa underlying. Mulai Juni 2026, batas transaksi ditetapkan menjadi US$ 25.000 per pelaku per bulan untuk menahan tekanan permintaan dolar di pasar.
Rupiah masih tertekan di pasar
Tekanan di pasar tercermin dari pergerakan rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 35 poin atau 0,20% menjadi Rp 17.880 per dolar AS.
Posisi itu menunjukkan rupiah masih berada sangat dekat dengan level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Dengan kondisi global yang belum sepenuhnya stabil dan kebutuhan valas domestik yang tetap tinggi, BI masih harus menjaga langkah stabilisasi agar pergerakan rupiah tidak semakin tertekan.
