Biaya Listrik Diesel di Pulau Rengit Bisa Turun Tajam dengan Hidrogen

Biaya pembangkitan listrik berbasis diesel di Pulau Rengit, Kepulauan Bangka Belitung, disebut dapat ditekan dari sekitar Rp 20.000 per KWh menjadi 25 sen melalui pemanfaatan hidrogen. Skema ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan hidrogen sebagai media penyimpanan energi.

Pengurangan biaya tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong dedieselisasi di wilayah yang masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel. Pulau-pulau terpencil menghadapi biaya pembangkitan tinggi karena penggunaan diesel sebagai sumber energi utama.

Hidrogen Menjadi Penyimpan Energi

Di Pulau Rengit, listrik dari tenaga surya tidak hanya digunakan saat produksi berlangsung. Energi tersebut juga dikaitkan dengan sistem hidrogen agar dapat berperan sebagai cadangan energi.

Kerja sama dengan PLN di pulau itu masuk dalam program Dedieselisasi PLTD. Program serupa juga disiapkan untuk pembangkit diesel di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

ProgramLokasiFungsi Hidrogen
Dedieselisasi PLTDSumba, Nusa Tenggara TimurMendukung konversi pembangkit diesel ke energi terbarukan
Dedieselisasi PLTDPulau Rengit, Kepulauan Bangka BelitungPenyimpanan energi dari pembangkit listrik tenaga surya
Bus H2 DDFProgram percontohan transportasiBahan bakar ganda bersama biosolar

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pemanfaatan hidrogen juga diposisikan sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.

Eniya memaparkan perkembangan itu dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026 di Jakarta. Pemerintah mencatat terdapat 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Seluruh inisiatif tersebut telah menarik investasi sebesar Rp 32 triliun. Pemerintah menyatakan investasi itu akan dikawal dalam pengembangan proyek-proyek hidrogen.

Transportasi Ikut Menjadi Sasaran

Penerapan hidrogen tidak hanya diarahkan pada sistem kelistrikan di pulau terpencil. Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) dan Perum Damri juga menyiapkan proyek percontohan Bus H2 DDF.

Sistem itu memadukan biosolar dan gas hidrogen dalam satu mesin diesel. Pendekatan bahan bakar ganda memungkinkan pengurangan pemakaian bahan bakar fosil tanpa mengganti seluruh armada bus yang telah beroperasi.

Bus percontohan tersebut menggunakan mesin diesel Hino enam silinder berkapasitas 7.684 cc. Kendaraan itu dilengkapi 16 tabung hidrogen dengan kapasitas masing-masing 50 liter, tekanan nominal 200 bar, dan tekanan kerja 150 bar.

Jenis EmisiPenurunan Hasil Pengujian
Opasitas57,66 persen
Karbon monoksida45,45 persen
Karbon dioksida39,37 persen
Nitrogen oksida21,16 persen

PT Sucofindo (Persero) mendukung pengujian, inspeksi, serta sertifikasi independen untuk proyek bus tersebut. Hasil pengujiannya mencatat penurunan opasitas hingga 57,66 persen, diikuti penurunan karbon monoksida, karbon dioksida, dan nitrogen oksida.

PT Tritunggal Prakarsa Global bertindak sebagai pelaksana proyek percontohan bus. Pengembangan sistem bahan bakar ganda selanjutnya juga diarahkan untuk mobil penumpang, drone, serta alat angkat seperti forklift.

Langkah di Pulau Rengit memperlihatkan bahwa hidrogen sedang diuji untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni ketersediaan energi dan biaya pembangkitan. Sementara itu, proyek transportasi membuka ruang pemanfaatan teknologi yang sama pada kendaraan berbasis mesin diesel.

Source: money.kompas.com
Berita Terkait