Bitcoin, Emas, dan Perak Tertekan, Wall Street Veteran Sebut Ini Gejala Penyerahan Besar

Penurunan serempak Bitcoin, emas, dan perak dinilai bukan sekadar gejolak biasa. Veteran Wall Street Jordi Visser menyebutnya sebagai tanda “debasement capitulation”, yakni peluruhan posisi pada perdagangan yang terlalu padat.

Visser, yang memimpin riset AI-makro di 22V Research dan memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di Wall Street, melihat tekanan pasar kali ini sebagai pembongkaran posisi yang ramai dipegang banyak investor. Ia menilai dorongan itu lebih berkaitan dengan arus portofolio dan penguatan dolar AS daripada kerusakan pada fundamental aset kripto.

Tekanan pasar datang dari perdagangan yang terlalu padat

Menurut Visser, pelemahan Bitcoin, emas, dan perak terjadi karena banyak pelaku pasar serentak keluar dari perdagangan makro yang sama. Ia menggambarkan posisi tersebut sebagai taruhan beli pada aset-aset itu yang dipasangkan dengan ekspektasi bahwa obligasi akan turun.

Ia juga menilai perdagangan itu sebelumnya banyak dipegang oleh perusahaan manajemen kekayaan dan dana pensiun. Tekanan kemudian meningkat setelah Kevin Warsh, yang ia sebut sebagai Ketua Federal Reserve, mengambil nada yang lebih hawkish dan ikut mendorong penguatan dolar AS.

AsetPergerakan terbaruKeterangan
BitcoinTurun 0,5%Terseret pembongkaran posisi yang lebih luas
EmasMelemahMasuk dalam perdagangan makro yang padat
PerakMelemahTerpengaruh unwind perdagangan serupa

Bitcoin dinilai ikut terseret, bukan kehilangan fondasi

Visser menolak anggapan bahwa pelemahan Bitcoin muncul karena masalah mendasar pada aset tersebut. Ia mengatakan kripto itu sedang “lumped in” bersama pembongkaran posisi yang lebih luas, termasuk saham perangkat lunak yang juga berada di bawah tekanan.

Menurutnya, sampai Oktober lalu Bitcoin masih mengungguli ekuitas dan obligasi. Karena itu, tekanan terbaru ia baca sebagai hasil rebalancing portofolio kuartal akhir, short-selling agresif, dan skeptisisme yang masih kuat dari banyak investor institusional.

Dalam 24 jam terakhir, sentimen ritel di Stocktwits terhadap Bitcoin bergeser ke “neutral” dari zona “bearish”. Pergeseran itu muncul ketika harga aset kripto terbesar tersebut tercatat turun 0,5%.

Harga rumah yang diam membuat ketimpangan terasa makin jelas

Di sisi lain, Visser menyoroti ketimpangan antara aset keuangan yang terus naik dan rumah yang tidak bergerak. Ia menilai reli berbasis kecerdasan buatan memang menguntungkan saham dan instrumen keuangan, tetapi tidak menjangkau rumah yang menjadi aset utama banyak keluarga di Amerika.

Karena harga rumah “tidak bergerak”, menurut dia, banyak orang merasa tertinggal saat pasar finansial terus naik. Ia menambahkan bahwa kekayaan rumah tangga lebih banyak tersimpan di perumahan daripada di saham-saham dan nama infrastruktur yang ikut diuntungkan oleh AI.

Kondisi itu, kata Visser, memperlebar jarak antara bagian ekonomi yang digerakkan informasi dan komputasi dengan investasi perumahan yang stagnan. Ia menilai reli AI tidak memberi manfaat dengan cara yang sama untuk semua orang, sehingga rasa frustrasi publik ikut menguat.

Masih ada ruang pulih jika tokenisasi meluas

Meski pasar tampak rapuh, Visser tetap melihat kelemahan ini sebagai fase sementara. Ia mengaitkan potensi pemulihan Bitcoin dan aset kripto dengan AI agents dan tokenisasi yang dinilai dapat mempercepat velocity of money dan menjadi “third wave” bagi kripto.

Ia juga menilai ratusan triliun dolar aset yang saat ini tidak likuid, termasuk real estate, bisa menjadi lebih mudah diperdagangkan jika tokenisasi meluas. Dalam pandangannya, tren itu dapat mengurangi peran perantara dan mengubah aktivitas ekonomi secara lebih luas.

Sementara itu, tekanan pasar juga mulai menguji kepercayaan investor institusional. Satu analisis menyebut investor rata-rata BlackRock IBIT berpindah dari gain 30% menjadi loss 40% akibat penurunan Bitcoin, sedangkan tekanan pada Strategy meningkat di tengah investigasi class-action dan peringatan kebangkrutan dari Peter Schiff.

Berita Terkait