Bitcoin Kehilangan Daya, Modal Justru Mengalir ke SpaceX dan Saham AI

Author: Redaksi Android62

Bitcoin dinilai sedang berada dalam fase lesu karena modal investor bergerak ke saham-saham terkait artificial intelligence. Veteran macro investor Jordi Visser menyebut kondisi itu membuat Bitcoin “tidak punya energi” di tengah rotasi momentum pasar.

Pandangan tersebut ia sampaikan dalam podcast Anthony Pompliano pada Sabtu. Menurut Visser, pergerakan ini menunjukkan bahwa minat spekulatif saat ini lebih kuat tersedot ke sektor teknologi dan saham bertema AI ketimbang ke aset kripto.

Keyakinan yang menggerakkan aset tanpa valuasi klasik

Visser membandingkan Bitcoin dengan SpaceX karena keduanya dinilai sama-sama bertumpu pada keyakinan terhadap masa depan, bukan pada ukuran valuasi tradisional. Ia menilai aset seperti itu sulit diukur memakai laba, arus kas, atau metrik klasik lain yang lazim dipakai pasar.

Ia menjelaskan bahwa investor membeli SpaceX karena percaya pada koloni Mars, infrastruktur bulan, dan ekspansi ruang angkasa komersial. Sementara itu, pembeli Bitcoin bertaruh pada lahirnya sistem moneter alternatif yang mampu menyaingi struktur keuangan saat ini.

Visser juga menegaskan bahwa jika sebuah aset tidak punya valuasi, maka aset itu tidak bisa disebut overvalued atau undervalued. Dalam pandangannya, semua kembali menjadi tebakan tentang masa depan.

Bitcoin tertahan di tengah pergeseran minat pasar

Meski sama-sama berbasis narasi masa depan, arah pasar keduanya justru berlawanan. Visser menilai modal investor kini mengalir ke saham-saham AI, sementara Bitcoin kehilangan daya tarik baru.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan pelemahan minat ritel terhadap kripto dan lemahnya sentimen di sektor perusahaan treasury Bitcoin. Salah satu faktor yang ia sorot adalah saham preferen STRC milik Strategy yang disebutnya tampak lemah dan ikut menekan persepsi pasar.

Pandangan itu sejalan dengan komentar dari tokoh industri lain. Executive Chairman Strategy Inc. Michael Saylor menyebut situasi ini sebagai “AI summer slump,” sedangkan CEO Galaxy Digital Mike Novogratz mengatakan pasar kripto saat ini “tidak punya energi” dan “tidak ada pembeli baru.”

SpaceX justru menarik perhatian investor

Di saat Bitcoin terlihat tertahan, SpaceX justru menjadi pusat perhatian pasar. Perusahaan itu baru saja menyelesaikan IPO yang sangat dinanti pada harga $135 per saham, dengan valuasi sekitar $1.77 trillion.

Penawaran tersebut juga menghasilkan hingga $85.7 billion setelah underwriter menggunakan opsi greenshoe, yaitu mekanisme yang memungkinkan bank menjual saham tambahan ketika permintaan investor melebihi ekspektasi. Di Stocktwits, sentimen ritel terhadap SPCX tetap berada di zona “bullish”, sementara tingkat percakapan tercatat “extremely high” dalam satu hari terakhir.

Meski saham SpaceX ditutup turun 3% pada Jumat, minat pasar ritel terhadap emiten itu tampak tetap kuat. Situasi ini membuat SpaceX terus ramai diperbincangkan ketika Bitcoin justru bergerak lebih lambat.

Bitcoin menunggu giliran berikutnya

Visser menilai kenaikan Bitcoin berikutnya mungkin baru terjadi setelah perdagangan AI mendingin dan investor kembali masuk ke aset berisiko lain. Ia bahkan menyebut peluang itu bisa muncul lebih cepat jika pasar ekuitas yang lebih luas ikut kehilangan momentum.

Pandangan tersebut berbeda dari sikapnya sebelumnya pada awal tahun, ketika ia menyebut Bitcoin sebagai “ultimate AI-era scarcity asset” dan memperkirakan rekor tertinggi baru pada 2026. Kini, ia melihat kripto itu bisa tetap tertahan sampai antusiasme terhadap AI mulai mereda.

Pada saat yang sama, harga Bitcoin tercatat berada di $64,065. Di Stocktwits, sentimen ritel terhadap BTC bergeser ke “neutral” dari “bullish”, sementara tingkat percakapan tetap berada di level “low” dalam satu hari terakhir.

Berita Terbaru