Bitcoin Masih Sulit Bangkit ke $100.000, Novogratz Menunggu The Fed Bergerak

Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah Michael Novogratz menilai peluang aset kripto terbesar itu untuk menembus lagi level $100.000 masih terlihat berat. Pendiri sekaligus CEO Galaxy Digital tersebut menilai pasar belum mendapat dukungan makro yang cukup kuat untuk mendorong reli besar berikutnya.

Sikap hati-hati itu terutama diarahkan pada bank sentral Amerika Serikat. Novogratz melihat ruang pelonggaran The Fed belum terbuka lebar, karena inflasi masih berpotensi terdorong oleh konflik di Iran.

Dalam konferensi melalui telepon, Novogratz menegaskan pandangannya dengan mengatakan, “I don’t think the Fed does anything but sits and watches.” Pernyataan itu menggambarkan ekspektasinya bahwa The Fed kemungkinan masih akan menunggu sambil memantau perkembangan ekonomi lebih dulu.

Bitcoin Masih Rentan di Tengah Koreksi

Kekhawatiran Novogratz datang ketika harga Bitcoin kembali melemah di pasar. Pada perdagangan Selasa, aset kripto itu turun sekitar 1% ke kisaran $76,100.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan Bitcoin belum benar-benar kokoh. Sebagai aset digital terbesar, Bitcoin tetap menjadi penentu utama sentimen pasar karena menyumbang sekitar 60% dari total nilai pasar sektor kripto.

Riwayat pergerakan harga juga menunjukkan betapa cepat arah pasar bisa berubah. Sebelumnya, Bitcoin sempat mencetak rekor $126,000 pada awal Oktober sebelum terkoreksi tajam setelahnya.

Pasar Menunggu Sinyal Kebijakan

Di tengah kondisi seperti itu, pasar kripto masih bergantung pada pemicu baru dari arah kebijakan moneter. Selama bank sentral belum memberi sinyal yang lebih dovish, aset berisiko seperti Bitcoin dinilai sulit mendapat dorongan yang cukup kuat untuk kembali mendekati resistance psikologis besar.

Pandangan tersebut ikut dipengaruhi kekhawatiran bahwa inflasi bisa tetap tinggi akibat ketidakpastian geopolitik. Jika tekanan semacam itu berlanjut, The Fed berpeluang memilih pendekatan yang lebih berhati-hati ketimbang segera mengubah sikap kebijakan.

Novogratz sendiri menilai bank sentral akan cenderung “sits and watches” sambil menunggu perkembangan berikutnya. Bagi pelaku pasar, sikap menunggu itu berarti peluang reli besar Bitcoin belum punya dasar yang cukup jelas dalam waktu dekat.

Galaxy Digital Tetap Bertahan di Tengah Pasar Lesu

Saat pasar kripto melemah, Galaxy Digital justru membukukan hasil kuartal pertama yang rugi bersihnya lebih kecil dari perkiraan. Perusahaan mencatat rugi $216 juta atau 49 sen per saham, terutama karena depresiasi harga aset digital selama periode tersebut.

Pendapatan Galaxy turun 22% menjadi sekitar $10 miliar, tetapi angka itu masih berada di atas estimasi analis yang sebesar $8.8 miliar. Saham perusahaan yang berbasis di New York itu bergerak nyaris datar di sekitar $25 pada awal perdagangan setelah laporan dirilis.

Di sisi operasional, Galaxy masih menghadapi volume perdagangan yang lemah. Namun, perusahaan menyebut beberapa sumber pendapatan tetap menunjukkan perbaikan, terutama dari biaya berulang dan pendapatan transaksi.

Arah Bisnis Bergeser ke AI dan Infrastruktur

Galaxy juga terus memperluas bisnis ke data center untuk kecerdasan buatan. Pergeseran itu didorong oleh perbaikan pendapatan yang bersifat berulang serta pendapatan transaksi yang dinilai semakin mendukung arah baru perusahaan.

Pada saat yang sama, rata-rata buku pinjaman Galaxy senilai $1.4 miliar turun 20% pada kuartal pertama. Meski begitu, perusahaan menegaskan ekspansi infrastrukturnya tetap berjalan sesuai target kapasitas.

Galaxy dikenal memiliki model bisnis yang cukup beragam, mulai dari perdagangan, lending, market making, investasi ventura, hingga penambangan kripto. Perusahaan ini juga mulai mengubah fasilitas mining menjadi infrastruktur komputasi berkinerja tinggi untuk AI, mengikuti langkah miner publik lain seperti TeraWulf dan Cipher Digital.

Hyperliquid Mencuri Perhatian

Novogratz juga menyebut Galaxy berada dalam posisi yang lebih baik dari perkiraan setelah memangkas sejumlah posisi dan memindahkan banyak eksposur level dua ke Hyperliquid. Ia menilai token tersebut kini menjadi salah satu yang paling sering dibicarakan karena memiliki model ekonomi yang lebih jelas dibanding banyak token lain.

Hyperliquid sendiri berkembang sebagai blockchain untuk perpetual futures, yaitu kontrak berleverage tanpa tanggal kedaluwarsa yang aktif diperdagangkan di pasar kripto. Platform itu juga memungkinkan perdagangan perpetual futures yang terkait dengan aset dunia nyata seperti minyak, perak, dan indeks S&P 500.

Bagi Novogratz, perkembangan Hyperliquid menunjukkan ke mana arah industri kripto bergerak saat pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat. Sementara itu, Bitcoin masih harus membuktikan bahwa ia bisa kembali menembus $100.000 di tengah kebijakan The Fed yang belum memberi sinyal perubahan berarti.

Berita Terkait