Tekanan terhadap hubungan Iran dan Amerika Serikat belum benar-benar hilang, meski jalur perang terbuka disebut telah berhenti sejak 8 April. Di saat yang sama, muncul kabar bahwa Teheran mengirim proposal damai rahasia ke Washington melalui Pakistan, sehingga harapan untuk meredakan ketegangan kembali terbuka.
Langkah itu langsung menimbulkan pertanyaan baru: apakah konflik ini sedang bergerak menuju akhir, atau justru memasuki fase yang lebih senyap tetapi tetap keras. Selama blokade masih berjalan dan posisi politik kedua pihak belum berubah banyak, jawaban atas pertanyaan itu masih jauh dari pasti.
Jalur rahasia lewat Islamabad
Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa dokumen damai tersebut diserahkan ke Islamabad pada Kamis malam untuk diteruskan ke Gedung Putih. Pengiriman lewat Pakistan menunjukkan bahwa komunikasi tidak langsung masih menjadi pilihan utama ketika jalur resmi tidak berjalan.
Cara ini juga memperlihatkan bahwa Iran ingin membuka ruang pembicaraan tanpa terlihat tunduk pada tekanan. Pesan yang dibawa lewat Islamabad memberi sinyal bahwa Teheran masih mencari formula politik untuk menghentikan eskalasi, meski jarak antara dua kubu masih lebar.
Gedung Putih memilih menahan diri
Respons dari Washington datang dengan sangat hati-hati. Juru bicara Anna Kelly menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membeberkan rincian diplomasi yang disebut bersifat rahasia.
Kelly juga mengulang sikap Presiden Donald Trump yang menempatkan keamanan nasional sebagai prioritas. Dalam posisi itu, Gedung Putih menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.
Perang belum sepenuhnya reda
Walau baku tembak disebut berhenti, situasi di lapangan belum bisa disebut tenang. Iran masih mempertahankan blokade ketat di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak, gas, dan pupuk ke pasar internasional.
Amerika Serikat membalas dengan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran. Kondisi ini membuat konflik bergeser menjadi perang blokade yang menekan perdagangan energi global dan memicu kekhawatiran di pasar internasional.
Dampaknya sudah terasa pada harga energi dunia. Harga minyak mentah dilaporkan naik sekitar 50 persen dibanding level sebelum perang, sementara Bank Sentral Eropa tetap mempertahankan suku bunga tinggi karena khawatir inflasi makin sulit dikendalikan.
Sinyal dari Teheran masih terbuka, tetapi keras
Dari sisi Iran, nada yang muncul tidak sepenuhnya menutup pintu dialog. Kepala Yudisial Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menyebut Republik Islam tidak pernah menghindari negosiasi.
Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima syarat yang dianggap sebagai pemaksaan dari pihak luar. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran masih ingin bicara, tetapi tetap menjaga garis keras pada tuntutan yang dianggap tidak adil.
Tekanan politik juga mengarah ke Washington
Di Washington sendiri, pemerintahan Trump menghadapi sorotan soal dasar hukum keterlibatan militer. Para pengkritik menilai presiden telah melewati batas 60 hari untuk meminta persetujuan Kongres melalui War Powers Resolution.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah kritik itu dan menyatakan gencatan senjata telah menghentikan hitungan waktu legal tersebut. Perdebatan ini membuat arah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh diplomasi luar negeri, tetapi juga oleh tarik-menarik hukum di dalam negeri Amerika Serikat.
Di tengah semua itu, proposal damai rahasia dari Iran memang menambah harapan baru. Namun selama blokade masih berlangsung, posisi politik masih keras, dan Washington belum membuka rincian langkah lanjut, peluang perdamaian tetap rapuh.
Source: www.beritasatu.com






