Tekanan ambil untung dari investor asing masih membayangi pasar, tetapi arus beli di saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG tetap punya ruang untuk bergerak menuju 8.300. Di saat indeks mendekati area resistansi penting, perhatian pelaku pasar justru tertuju pada blue chip yang dinilai masih kuat dikoleksi.
Di tengah kondisi itu, pasar saham Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang baik. Sentimen domestik relatif stabil sepanjang kuartal kedua, sementara akumulasi investor lokal masih aktif di pasar reguler dan memberi penopang tambahan bagi indeks.
Blue chip tetap jadi pusat perhatian
Saham berkapitalisasi besar kembali menjadi pilihan utama ketika pasar mencari saham dengan fundamental yang lebih solid. BBCA masih disebut sebagai pilihan utama untuk investasi jangka panjang, sedangkan TLKM dinilai mulai pulih di area support kuat seiring ekspansi infrastruktur data.
MDKA juga mendapat dorongan sentimen dari kenaikan harga logam mulia dunia. Di sisi lain, ASII ikut mencuri perhatian karena volume akumulasinya terpantau stabil, sejalan dengan peningkatan data penjualan otomotif nasional yang memberi dukungan tambahan bagi saham tersebut.
Teknikal IHSG masih memberi ruang naik
Dari sisi pergerakan indeks, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi di atas support kuat 7.265 hingga 7.355. Posisi ini memberi ruang bagi indeks untuk mencoba menembus rekor tertinggi baru selama dorongan beli tetap terjaga.
Pada perdagangan terakhir, IHSG berada di level 8.150 dengan target resistansi 8.300. Kondisi ini membuat area tersebut menjadi titik yang diawasi ketat karena pasar sedang bergerak mendekati batas psikologis yang penting.
Asing berpotensi jual, domestik masih menahan tekanan
Meski peluang penguatan masih terbuka, pasar belum bebas dari risiko profit taking. Investor asing masih berpotensi mencatat net sell, bahkan dalam catatan historis nilainya bisa mencapai triliunan rupiah dalam satu hari perdagangan.
Di sisi lain, investor domestik masih terlihat aktif menyerap saham di pasar reguler. Pola ini membantu menjaga tenaga beli tetap hidup saat indeks mendekati area resistansi yang semakin dekat.
Sentimen psikologis ikut menjaga minat beli
Purbaya Effect masih memberi efek psikologis positif bagi investor domestik. Sentimen itu ikut membantu menjaga minat transaksi, terutama ketika pasar mulai memasuki area yang dekat dengan resistansi penting.
Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner LPS, menilai kondisi pasar saat ini mencerminkan kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya disiplin menentukan titik masuk agar investor tidak terseret fluktuasi jangka pendek.
Data pasar masih menunjukkan tenaga beli
Sejumlah indikator pasar masih memperlihatkan kondisi yang relatif sehat. Volume transaksi tercatat 15,56 miliar saham, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp 11.345 triliun.
Bursa Efek Indonesia juga memantau rata-rata volume transaksi harian saham yang berada di kisaran 15,56 miliar saham. Sepanjang tahun berjalan, arus dana asing masih tercatat Rp 5,78 triliun dan masuk kategori akumulasi, sehingga tenaga beli belum benar-benar hilang dari pasar.
Sektor yang bergerak dan risiko eksternal
Sektor perbankan dan infrastruktur digital masih menjadi penopang utama pergerakan indeks. Teknologi juga kembali masuk radar setelah sebelumnya sempat menguat signifikan hingga 4,55%, sementara sektor energi justru tertekan oleh fluktuasi harga komoditas global.
Risiko dari luar negeri tetap perlu diperhatikan karena pasar domestik sensitif terhadap ekonomi Amerika Serikat. Kebijakan suku bunga The Fed dapat memengaruhi nilai tukar rupiah sekaligus minat investor asing di pasar obligasi dan saham Indonesia.
Bagi investor yang aktif di saham berfluktuasi tinggi, disiplin risiko tetap penting. Batas toleransi kerugian 3% hingga 5% dari harga beli disarankan untuk saham teknologi atau tambang, sedangkan aksi jual sebagian dinilai tepat saat saham mencapai target teknikal atau tren harian mulai patah.







