Langit Indonesia pada Mei menyimpan penutup bulan yang menarik perhatian, yakni Blue Moon pada 31 Mei. Istilah ini merujuk pada bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender, bukan pada perubahan warna Bulan menjadi biru.
Menjelang momen itu, sejumlah peristiwa langit lain juga ikut mewarnai bulan yang sama. Kombinasi inilah yang membuat Mei terasa padat bagi pengamat langit, terutama karena beberapa fenomena dapat dilihat dengan mata telanjang saat cuaca mendukung.
Salah satu yang paling dinanti muncul lebih awal, ketika hujan meteor Eta Aquariid mencapai puncaknya pada 5-6 Mei. Fenomena ini berasal dari debu sisa Komet Halley yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Dalam kondisi ideal, NASA menyebut Eta Aquariid dapat menampilkan hingga sekitar 50 meteor per jam. Dari Indonesia, peluang pengamatan cukup baik karena letaknya dekat garis khatulistiwa, terutama bila arah pandang diarahkan ke timur menjelang fajar.
Sorotan awal bulan
Mei dibuka dengan Bulan purnama yang dikenal sebagai Flower Moon pada 1 Mei. Nama tersebut berasal dari tradisi di Amerika Utara yang mengaitkan purnama Mei dengan mekarnya bunga pada musim itu.
Dari Indonesia, Bulan akan tampak bulat penuh dan terang sepanjang malam selama langit cerah. Fenomena ini termasuk yang paling mudah diamati karena tidak memerlukan alat bantu.
Pada 18 Mei, ada juga momen ketika Bulan sabit tampak berdekatan dengan Venus di langit barat setelah Matahari terbenam. Venus dikenal sebagai objek paling terang setelah Matahari dan Bulan, sehingga kedekatan ini relatif mudah dikenali oleh masyarakat umum.
Planet yang kembali muncul
Menjelang akhir bulan, Jupiter mulai kembali terlihat setelah senja. Planet raksasa ini dapat diamati rendah di ufuk barat dan menjadi target menarik, terutama bagi pengguna teleskop kecil.
Dengan alat sederhana, pengamat berpeluang melihat satelit-satelit Galilea yang mengelilinginya. Namun, posisi Jupiter yang rendah membuat langit barat yang terbuka menjadi faktor penting agar pengamatan lebih nyaman.
Peluang terbaik bagi pengamat di Indonesia
Sejumlah wilayah di Indonesia biasanya lebih diuntungkan saat musim kemarau karena langit cenderung cerah. Kondisi ini membantu pengamatan berbagai fenomena, terutama hujan meteor dan planet terang yang muncul dekat horizon.
Lokasi dengan polusi cahaya rendah akan memberi hasil lebih baik, begitu juga area dengan cakrawala terbuka. Prakiraan cuaca tetap perlu diperhatikan agar awan atau hujan tidak mengganggu momen pengamatan.
Dengan urutan peristiwa yang berdekatan, mulai dari Eta Aquariid, purnama Mei, kedekatan Bulan dan Venus, hingga Blue Moon di akhir bulan, Mei menjadi periode yang kaya tontonan astronomi. Bagi pengamat di Indonesia, langit cerah bisa membuat rangkaian momen ini terlihat lebih jelas tanpa peralatan khusus.
Source: mediaindonesia.com