Bonucci Minta Italia Berani Pilih Guardiola, Seruan Bangun Ulang Setelah Tiga Kali Absen Di Piala Dunia

Leonardo Bonucci melihat Italia membutuhkan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian pelatih. Mantan kapten Juventus itu bahkan membuka kemungkinan paling berani, yakni menunjuk Pep Guardiola untuk menangani tim nasional Italia.

Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan tajam terhadap Gli Azzurri setelah kembali gagal menembus Piala Dunia. Situasi itu membuat evaluasi terhadap tim nasional Italia mengarah bukan hanya ke bangku pelatih, tetapi juga ke dasar pembinaan dan arah permainan secara keseluruhan.

Dorongan untuk langkah besar

Bonucci menilai masalah yang dihadapi Italia sudah terlalu dalam untuk diselesaikan dengan langkah kecil. Ia melihat perlu ada pembenahan menyeluruh yang menyentuh cara bermain, pembinaan, serta struktur tim dari belakang hingga depan.

Menurut Bonucci, ide mendatangkan Guardiola memang tidak mudah diwujudkan. Namun, ia menegaskan bahwa sebuah mimpi tetap pantas disuarakan jika tujuannya adalah membangun ulang tim nasional dengan serius.

“Saya tahu itu akan sangat sulit. Tapi yang namanya mimpi, boleh-boleh saja bukan?” ujar Bonucci, seperti dikutip dari Marca.

Guardiola dipandang sebagai sosok yang bisa membawa arah baru

Dalam pandangan Bonucci, Guardiola punya kapasitas untuk memberi warna berbeda pada timnas Italia. Ia percaya filosofi pelatih asal Spanyol itu dapat membantu Italia tampil lebih modern dan lebih kompetitif.

“Jika boleh berharap, saya akan mau Italia dilatih Pep Guardiola,” kata Bonucci. Ia juga menilai kehadiran Guardiola bisa memberi dampak besar pada struktur permainan tim nasional.

Pandangan itu datang bukan sekadar sebagai komentar lepas. Bonucci adalah sosok yang punya pengalaman panjang bersama timnas Italia, dengan catatan 121 penampilan, sehingga ucapannya dianggap mewakili evaluasi dari dalam.

Masalah Italia dinilai tidak berhenti di pelatih

Bonucci menegaskan bahwa Italia tidak bisa mengandalkan pergantian pelatih sebagai solusi tunggal. Ia meminta perombakan dimulai dari akar, terutama pada sektor yang selama ini menjadi identitas sepak bola Italia.

“Yang terpenting adalah membangun kembali sepak bola Italia dari nol, dimulai dari lini pertahanan,” ucap Bonucci seperti dikutip Foot Mercato.

Ia juga menyoroti keberadaan banyak pemain muda berbakat di Italia. Menurutnya, para pemain itu butuh waktu dan pembinaan yang tepat agar bisa berkembang dan naik ke level internasional.

“Ada banyak pemain muda berbakat; kita harus memberi mereka waktu untuk berkembang dan maju,” lanjutnya.

Evaluasi besar setelah rangkaian kegagalan

Italia kini berada dalam fase evaluasi menyeluruh setelah absen di Piala Dunia 2018, 2022, dan 2026. Tiga kegagalan beruntun itu memunculkan pertanyaan besar tentang arah pembinaan, identitas permainan, dan efektivitas sistem yang berjalan.

Sorotan pun meluas ke fondasi sepak bola Italia secara keseluruhan. Banyak pihak menilai pembenahan perlu mencakup pengembangan pemain muda dan gaya bermain yang lebih sesuai dengan tuntutan sepak bola modern.

Bonucci berada di jalur pandangan itu. Ia menyebut bahwa jika FIGC benar-benar menginginkan perubahan radikal, maka Guardiola adalah figur yang paling pas untuk memimpin proses tersebut.

“Waktu adalah satu-satunya solusi ajaib, dan jika perubahan radikal diinginkan, Pep adalah orang yang tepat untuk tugas ini. Ini sulit, tapi bermimpi itu gratis,” katanya.

Masih dekat dengan struktur FIGC

Komentar Bonucci juga punya bobot tambahan karena ia masih terhubung dengan kerja teknis FIGC. Ia mengonfirmasi bahwa dirinya tetap membantu pemantauan pemain muda meski staf kepelatihan sebelumnya sudah mengundurkan diri.

“Saya diminta tetap bertahan untuk menghubungkan bagian pemantauan pemain muda yang bisa dipanggil untuk pertandingan Juni,” kata Bonucci.

Keterlibatan itu membuat pandangannya tidak lepas dari proses internal yang sedang berjalan. Di saat yang sama, masa depan kursi pelatih timnas Italia masih berada dalam masa transisi dan belum menunjukkan kepastian penuh.

Guardiola sendiri sebelumnya pernah menyatakan akan berhenti sejenak dari dunia kepelatihan setelah masa baktinya di Manchester City berakhir pada 2027 atau lebih awal pada musim panas 2026. Ia juga sempat mengatakan ingin beristirahat setelah kontraknya selesai, meski belum memastikan apakah langkah itu berarti pensiun.

Sementara itu, FIGC masih menyiapkan agenda penting lainnya, termasuk pemilihan Presiden FIGC yang dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Selain itu, Silvio Baldini akan menangani laga persahabatan tim U21 melawan Yunani dan Luksemburg pada awal Juni mendatang.

Berita Terkait