Boston Dynamics Dianggap Terlalu Jauh Dari Pasar, Google Akhirnya Melepasnya Karena Bukan Mesin Duit Cepat

Author: Redaksi Android62

Boston Dynamics memang dikenal sebagai pembuat robot yang memukau, tetapi justru bukan itu yang dicari Google saat masih memilikinya. Bagi raksasa teknologi tersebut, persoalan utamanya ada pada jarak antara riset robotika yang sangat maju dan kebutuhan bisnis yang menuntut produk cepat punya pasar.

Di titik itulah penjualan Boston Dynamics pada 2017 menjadi masuk akal. Google tidak melepas perusahaan itu karena teknologinya lemah, melainkan karena arah pengembangannya tidak sejalan dengan fokus pada solusi industri yang bisa segera menghasilkan nilai komersial.

Riset yang kuat, tetapi sulit masuk pasar

Boston Dynamics sejak awal berdiri pada 1992 di bawah Marc Raibert dengan fokus pada locomotion dinamis. Tujuannya sederhana di atas kertas, tetapi sangat sulit diwujudkan, yakni membuat robot bergerak lincah, seimbang, dan adaptif seperti hewan.

Fokus itu membuat Boston Dynamics cepat dikenal sebagai pionir robotika. Banyak proyek awalnya didorong oleh riset mendalam dan dukungan lembaga seperti DARPA, sehingga prioritas utamanya adalah terobosan teknis, bukan produk yang langsung siap dijual.

Pendekatan seperti ini melahirkan pencapaian besar, tetapi juga membawa masalah yang sama berulang kali. Robot-robotnya sangat canggih, namun belum tentu langsung punya kegunaan komersial yang jelas.

Contoh yang menunjukkan jarak antara demo dan bisnis

Big Dog menjadi salah satu contoh paling awal. Robot berkaki empat yang dikembangkan untuk DARPA pada 2003 itu dirancang untuk melintasi medan berat, tetapi mesin bertenaga gas yang berisik membatasi penggunaannya di lapangan.

Petman juga memperlihatkan pola yang sama. Robot humanoid ini dibuat untuk menguji perlengkapan pelindung, sehingga lebih menonjol sebagai demonstrasi kemampuan teknis daripada sebagai produk massal yang siap masuk pasar.

Atlas lalu menjadi simbol paling kuat dari ambisi Boston Dynamics. Robot bipedal itu memperlihatkan kelincahan dan kemampuan beradaptasi yang mengesankan, tetapi tetap berada di jalur riset eksperimental yang sulit diterjemahkan menjadi bisnis jangka pendek.

Google dan kebutuhan yang berbeda

Saat Google mengakuisisi Boston Dynamics pada 2013, langkah itu terlihat cocok dengan ambisi perusahaan di bidang robotika dan otomasi. Google saat itu memang agresif berinvestasi pada teknologi masa depan.

Namun setelah akuisisi berjalan, perbedaan tujuan semakin terlihat jelas. Google menginginkan robot yang bisa menjawab kebutuhan industri secara langsung, sementara Boston Dynamics tetap berpegang pada pengembangan prototipe canggih untuk eksplorasi jangka panjang.

Di sinilah letak masalah utamanya. Mutu teknologi Boston Dynamics tidak menjadi persoalan, tetapi arah pengembangannya tidak cocok dengan fokus Google pada solusi yang punya aplikasi pasar jelas dan cepat.

Arah baru setelah berpindah tangan

Setelah diakuisisi SoftBank pada 2017, Boston Dynamics mulai mengubah prioritasnya. Perusahaan ini bergerak ke aplikasi yang lebih praktis dan lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Perubahan itu tampak lewat Spot. Berbeda dari sejumlah robot awal yang sangat eksperimental, Spot hadir sebagai robot elektrik yang lebih senyap dan dirancang untuk tugas yang bisa langsung dipakai industri.

Spot kemudian diarahkan untuk inspeksi industri, pemantauan keamanan, dan pengumpulan data. Kemampuannya bergerak di lingkungan yang rumit membuatnya relevan untuk sektor seperti konstruksi, energi, dan manufaktur.

Tekanan komersial yang makin kuat

Boston Dynamics juga memperkuat kemampuan robotnya lewat akuisisi Kinema Systems. Perusahaan itu bergerak di bidang visi robotik, yang membantu meningkatkan otonomi dan kemampuan adaptasi robot terhadap lingkungan.

Saat Hyundai mengambil alih pada 2021, fokus pada keberhasilan komersial menjadi makin tegas. Perhatian diarahkan pada otomasi pabrik dan gudang, dua area yang dinilai punya nilai langsung bagi industri karena robot bisa dipakai untuk tugas berulang, inspeksi, dan efisiensi operasional.

Di bawah Hyundai, Spot berkembang sebagai alat yang andal untuk pekerjaan inspeksi. Sementara itu, Atlas mulai dilihat potensinya untuk tugas kerja berulang di lingkungan yang lebih terkendali.

Dukungan Hyundai juga memberi ruang untuk memperluas produksi dan menyempurnakan teknologi agar bisa diadopsi lebih luas. Perubahan ini menandai pergeseran penting dari perusahaan yang dulu terkenal karena demo robot spektakuler menjadi bisnis robotik yang lebih siap masuk ke operasi industri.

Perjalanan Boston Dynamics menunjukkan bahwa robotika canggih tidak cukup hanya mengandalkan terobosan teknis. Agar bertahan dan berkembang, inovasi perlu dipadukan dengan otonomi, kesadaran lingkungan, desain elektrik, dan terutama kegunaan yang bisa langsung dirasakan pasar.

Source: www.geeky-gadgets.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru