Tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya menggeledah 12 lokasi strategis dalam penyidikan tiga perkara korupsi dan pencucian uang. Salah satu temuan paling mencolok muncul di Cafe de’CLAN Signature, Jakarta Selatan, ketika penyidik menemukan brankas tersembunyi di balik lemari besar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto, mengatakan brankas itu berisi uang tunai dalam mata uang Dollar Singapura dan Dollar Amerika Serikat. Dari lokasi yang sama, penyidik juga mengamankan dokumen transaksi keuangan yang dinilai penting untuk pembuktian.
Penggeledahan menyasar rumah dan unit penukaran uang
Operasi yang berlangsung sejak Rabu hingga Kamis dini hari itu tidak hanya berfokus pada kafe. Polisi juga menyisir sebuah rumah mewah di Perumahan Golf Hijau, Sentul City, Bogor, yang diduga milik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah.
Selain itu, sebuah unit money changer ikut diperiksa karena diduga berkaitan dengan skema untuk menyamarkan hasil kejahatan menjadi aset yang tampak legal. Penyidik kini memeriksa dokumen yang disita untuk menelusuri aliran dana dan hubungan antarobjek yang diperiksa.
| Lokasi atau Objek | Temuan atau Dugaan | Keterangan | Catatan Penyidikan |
|---|---|---|---|
| Perumahan Golf Hijau, Sentul City | Diduga milik Febrie Adriansyah | Rumah mewah | Salah satu target penggeledahan |
| Cafe de’CLAN Signature | Brankas tersembunyi berisi uang asing dan dokumen | Dollar Singapura dan Dollar Amerika Serikat | Temuan utama penyidik |
| Unit money changer | Diduga dipakai dalam skema pencucian uang | Objek pemeriksaan | Disisir dalam operasi gabungan |
Tiga perkara yang saling berkaitan
Polisi mendalami tiga perkara yang disebut saling bertautan, yakni dugaan korupsi pengadaan batu bara untuk PT PLN (Persero), penyimpangan dana di PT Asabri untuk periode 2020–2025, serta dugaan tindak pidana pencucian uang dalam skema utang-piutang antara PT CBS dan PT KNI. Ketiganya didalami untuk melihat pola aliran dana dan aset yang diduga dipakai menyembunyikan hasil kejahatan.
Kasus pengadaan batu bara untuk PLN juga dikaitkan dengan dampak luas berupa krisis energi dan blackout di Pulau Sumatera. Sementara itu, dua perkara lain difokuskan pada penelusuran aset dan dokumen keuangan yang diduga memperkuat konstruksi perkara.
Nama Febrie ikut terseret di tengah tekanan politik
Di saat yang sama, nama Febrie Adriansyah ikut mencuat dalam kabar politik dan hukum yang berkembang di Jakarta. Presiden Prabowo Subianto disebut meminta Febrie mengundurkan diri dalam pertemuan di rumah dinas presiden, Widya Chandra, Jakarta, pada Kamis pagi.
Sumber yang mengetahui pertemuan itu menyebut Presiden tidak mendorong pemecatan, melainkan meminta pejabat yang bermasalah untuk mundur agar situasi tidak makin panas. Dalam pembicaraan itu, sempat dibahas pula sejumlah sosok yang disebut layak menggantikan Febrie apabila ia benar-benar mundur.
Hingga berita ini dipublikasikan, Kejaksaan Agung RI belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang diajukan www.suara.com. Proses pemeriksaan dokumen dan pengembangan penyidikan masih terus berjalan setelah temuan brankas rahasia dan keterlibatan beberapa lokasi strategis itu.
