BRI Perkuat Arah Berkelanjutan, Pembiayaan Sosial Tembus Rp718,7 Triliun dan Hijau Rp93,2 Triliun

BRI menutup arah strategi keberlanjutan dengan basis pembiayaan yang sudah sangat besar. Hingga akhir 2025, bank ini mencatat kredit untuk Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan sebesar Rp93,2 triliun dan pembiayaan Kegiatan Usaha Berwawasan Sosial mencapai Rp718,7 triliun.

Porsi pembiayaan sosial menjadi yang terbesar dalam komposisi tersebut, dengan total gabungan setara 53,5 persen dari seluruh portofolio. Angka ini menunjukkan bahwa pembiayaan berorientasi sosial masih menjadi tumpuan utama BRI dalam mendorong dampak ekonomi yang lebih luas.

Arah keberlanjutan masuk ke inti bisnis

Manajemen BRI menegaskan bahwa pembiayaan hijau dan sosial bukan sekadar program tambahan. Arah itu disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun 2026 pada 10 April, dengan penekanan pada dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan prinsip keberlanjutan terus diintegrasikan ke seluruh aspek bisnis dan operasional. Menurut dia, pendekatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi ketentuan regulator, tetapi juga untuk membangun nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

Dengan cara itu, keberlanjutan tidak diposisikan sebagai agenda terpisah. Prinsip tersebut masuk ke dalam pola kerja harian perusahaan dan menjadi bagian dari pengelolaan pertumbuhan bisnis.

Instrumen pendanaan ikut diperkuat

Selain lewat penyaluran kredit, BRI juga memakai instrumen pendanaan yang mendukung agenda sosial. Perseroan menerbitkan social bond senilai Rp5 triliun untuk memperkuat sektor masyarakat dan memperluas dampak pembiayaan yang berorientasi sosial.

Langkah ini memperlihatkan bahwa strategi keberlanjutan BRI berjalan dari dua sisi. Di satu sisi ada kredit dan pembiayaan yang mengalir ke kegiatan usaha tertentu, sementara di sisi lain ada instrumen pendanaan yang membuat arah penggunaan dana lebih terfokus.

BRI juga mempublikasikan Laporan Keberlanjutan 2025 melalui situs resmi perseroan dan Bursa Efek Indonesia. Publikasi tersebut menjadi bagian dari transparansi dan memberi gambaran kepada publik mengenai kebijakan keberlanjutan yang ditempuh perusahaan.

Rencana jangka panjang sudah disiapkan

Untuk menjaga arah implementasi tetap terukur, BRI menyiapkan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) periode 2026–2030. Selain itu, perseroan juga memiliki rencana jangka pendek sebagai panduan pelaksanaan di tingkat operasional.

Dokumen tersebut dipakai sebagai acuan agar agenda keberlanjutan berjalan konsisten di seluruh lini usaha. Akhmad menyebut strategi ini juga membantu perusahaan menjaga kualitas bisnis sambil tetap mematuhi regulasi Otoritas Jasa Keuangan.

Pendekatan tersebut membuat keberlanjutan tidak berhenti di level pernyataan. Arah itu diterjemahkan ke dalam rencana kerja yang digunakan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kepatuhan.

Jangkauan layanan keuangan makin luas

Di luar portofolio pembiayaan, BRI juga memperluas inklusi keuangan melalui layanan yang menjangkau lebih dari 140,5 juta nasabah pada akhir tahun lalu. Jangkauan itu diperkuat oleh 45,93 juta pengguna aplikasi BRImo dan lebih dari 1,19 juta Agen BRILink di berbagai wilayah Indonesia.

Kombinasi layanan digital dan jaringan agen membuat akses keuangan semakin dekat dengan masyarakat. Model ini juga memperkuat peran BRI dalam memperluas layanan keuangan hingga ke lapisan yang lebih luas.

Perseroan turut mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui program Desa BRILiaN yang telah melibatkan lebih dari 5.245 desa. Program tersebut melengkapi pembiayaan hijau dan sosial karena menyentuh penguatan kapasitas masyarakat di tingkat akar rumput.

Pengakuan atas tata kelola dan risiko iklim

Dari sisi tata kelola, BRI memperoleh peringkat A dari MSCI ESG Rating dan masuk dalam S&P Global Sustainability Yearbook selama empat tahun berturut-turut. Pencapaian itu menunjukkan pengakuan pasar atas konsistensi perseroan dalam menjalankan agenda lingkungan, sosial, dan tata kelola.

BRI juga sudah menerapkan Climate Risk Stress Testing untuk memperkuat ketahanan perusahaan terhadap risiko perubahan iklim. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi tantangan bisnis yang makin dipengaruhi faktor lingkungan.

Dengan portofolio pembiayaan hijau Rp93,2 triliun, pembiayaan sosial Rp718,7 triliun, social bond Rp5 triliun, dan perluasan inklusi keuangan yang terus berjalan, BRI menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan yang berjalan serempak dengan layanan, pendanaan, dan tata kelola perusahaan.

Berita Terkait