Di segmen ponsel murah, Realme melihat satu hal yang kini lebih menentukan pilihan pembeli di Indonesia: perangkat yang kuat dipakai seharian. Bagi perusahaan, daya tahan sudah naik kelas menjadi nilai utama, melampaui daya tarik spesifikasi yang hanya terlihat besar di atas kertas.
Pandangan itu lahir dari berbagai riset internal Realme terhadap pengguna smartphone entry-level di Indonesia. PR Lead Realme Indonesia, Krisva Angnieszca, menjelaskan bahwa konsumen di kelas ini makin menaruh perhatian pada durability atau ketahanan perangkat, bukan sekadar mengejar angka-angka spesifikasi.
Perubahan arah itu ikut menggeser cara Realme menyusun produk untuk pasar bawah. Perusahaan kini lebih menekankan fitur yang benar-benar relevan dalam penggunaan harian, bukan fitur yang hanya tampil meyakinkan di materi promosi.
Salah satu bagian yang paling menonjol dari perubahan selera tersebut adalah baterai. Di kelas harga terjangkau, baterai besar dianggap semakin penting karena banyak pengguna memakai ponsel secara intens dari pagi hingga malam.
Realme menilai kebutuhan itu berkaitan erat dengan pola aktivitas yang semakin padat. Mahasiswa dan pekerja blue collar disebut menjadi kelompok yang banyak mengandalkan ponsel untuk berbagai keperluan sepanjang hari.
Baterai besar jadi sorotan utama
Pola penggunaan tersebut menjadi dasar kehadiran Realme C100 Series di Indonesia. Ponsel entry-level ini dibekali baterai 8.000 mAh yang diklaim sebagai kapasitas terbesar di kelasnya.
Dalam peluncurannya di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta Selatan, Realme menempatkan baterai sebagai fitur yang paling ditekankan. Perangkat ini juga disorot lewat bodi yang diklaim tahan jatuh, sehingga daya tahan tidak hanya soal kapasitas daya, tetapi juga ketahanan fisik.
Arah ini menunjukkan perubahan strategi yang cukup jelas di pasar entry-level. Jika sebelumnya ponsel murah kerap ditonjolkan lewat chipset atau kamera, Realme justru memilih daya tahan sebagai nilai jual utama.
Krisva menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin hanya menampilkan fitur yang terlihat bagus di atas kertas. Yang dicari adalah fitur yang paling sering dipakai dan paling terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Fitur lain tetap ada, tetapi bukan pusat perhatian
Meski durability menjadi fokus komunikasi, Realme tidak menghapus fitur lain dari perangkat entry-level mereka. Realme C100 Series tetap membawa kecerdasan buatan atau AI di dalamnya.
Namun, AI tidak dijadikan sorotan utama dalam komunikasi produk tersebut. Krisva menyebut sejumlah fitur AI di perangkat itu diturunkan dari Realme Number Series, tetapi tidak ditempatkan sebagai highlight utama.
Pendekatan yang sama juga berlaku untuk chipset dan kamera. Dua komponen itu tetap disematkan, tetapi tidak diposisikan sebagai daya tarik paling depan untuk konsumen entry-level yang dibidik.
Dengan susunan seperti itu, Realme membaca pasar bawah dengan ukuran yang berbeda. Yang dikejar bukan lagi sekadar spesifikasi tinggi, melainkan kombinasi fitur yang terasa berguna dalam pemakaian nyata.
Dampak ke bisnis dan posisi pasar
Realme menilai penyesuaian strategi berdasarkan kebutuhan pengguna ikut memberi efek positif pada bisnisnya di Indonesia. Krisva mengklaim pangsa pasar Realme meningkat dalam setahun terakhir meski kondisi pasar ponsel dan komponen sedang tidak mudah.
Ia juga menyinggung daya beli yang secara umum disebut sedang menurun. Di tengah situasi tersebut, Realme mengaku tetap mampu mencatat peningkatan pangsa pasar karena menawarkan produk yang sesuai kebutuhan pengguna.
Meski begitu, Krisva tidak membeberkan data rinci soal besaran kenaikan itu. Klaim tersebut muncul di saat posisi Realme dalam laporan terbuka firma riset global juga tidak terlihat menonjol.
Pada laporan pasar ponsel global kuartal I-2026 dari IDC dan Counterpoint Research, Realme tidak masuk lima besar merek ponsel terlaris dunia. Merek ini berada di kelompok “merek lainnya” bersama sejumlah vendor lain di luar lima besar.
Dalam dua laporan itu, gabungan merek lain juga tercatat mengalami penurunan pengiriman. IDC mencatat penurunan 4 persen, sedangkan Counterpoint Research mencatat penurunan 10 persen, dengan pangsa pasar yang turun sekitar 1 persen lebih rendah dari sebelumnya.
Di tengah kondisi itu, penekanan Realme pada daya tahan menjadi sinyal bahwa persaingan ponsel murah kini bergerak ke arah yang lebih spesifik. Untuk konsumen Indonesia, baterai besar dan bodi tahan banting tampak makin menentukan dalam memilih perangkat yang siap dipakai setiap hari.
Source: tekno.kompas.com






