Sistem kecerdasan buatan dari Stanford University menunjukkan bahwa burger dengan dampak lingkungan jauh lebih rendah tetap bisa menandingi burger klasik dalam uji rasa. Dalam pengujian di sebuah restoran di San Francisco, burger berbahan jamur bahkan unggul dalam keberlanjutan lebih dari 10 kali lipat, sementara burger berbahan kacang-kacangan hampir dua kali lebih unggul dari Big Mac dalam nilai gizi.
Temuan itu memperlihatkan bahwa desain makanan tidak lagi harus bergantung pada intuisi dan coba-coba semata. Dengan pendekatan yang lebih terukur, AI kini dapat membantu merancang resep yang mempertimbangkan rasa, tekstur, gizi, dan keberlanjutan sekaligus.
Uji rasa di dunia nyata
Tim peneliti Stanford menguji sistem ini melalui tes buta bersama 101 sukarelawan. Para peserta mencicipi lima burger hasil rancangan AI yang disiapkan secara profesional, lalu membandingkannya dengan Big Mac.
Hasilnya menarik perhatian karena burger-burger rancangan AI itu mampu bersaing langsung pada penilaian rasa. Berdasarkan skala tujuh poin untuk rasa, tekstur, dan penilaian keseluruhan, para peserta menilai burger tersebut setidaknya setara dengan burger klasik pembanding.
| Jenis Burger | Hasil Utama | Catatan |
|---|---|---|
| Burger jamur | Lebih unggul dalam keberlanjutan | Selisih lebih dari 10 kali lipat |
| Burger berbahan kacang-kacangan | Lebih unggul dalam nilai gizi | Hampir dua kali dibanding Big Mac |
| Burger AI secara umum | Setara dalam penilaian rasa | Dinilai pada skala tujuh poin |
Mesin peracik resep bernama BurgerAI
Untuk memetakan ruang kombinasi bahan yang sangat luas, Ellen Kuhl bersama dua koleganya mengembangkan alat daring publik bernama BurgerAI. Sistem ini dilatih menggunakan 2.216 resep dan dirancang untuk menilai lebih dari sekadar cita rasa.
BurgerAI juga menghitung tekstur, kandungan nutrisi, dan dampak lingkungan untuk berbagai kelompok usia, jenis kelamin, serta gaya hidup konsumen. Pendekatan ini membuat rancangan burger tidak hanya diarahkan agar enak, tetapi juga lebih relevan bagi kebutuhan konsumsi yang berbeda.
Kuhl, profesor bioengineering Stanford, menegaskan bahwa sistem tersebut benar-benar menghasilkan burger yang disukai orang sungguhan. Dalam tulisannya di jurnal Computer Methods in Applied Mechanics and Engineering, ia menjelaskan bahwa burger modern memang muncul pada akhir abad ke-19 sebagai kombinasi sederhana daging cincang dan roti.
Namun, menurut Kuhl, variasi kemungkinan bahan burger belum banyak dieksplorasi meski sekitar 50 miliar hamburger dikonsumsi di Amerika Serikat setiap tahun. Dari perhitungan tim peneliti, jumlah resep burger yang mungkin di seluruh dunia mencapai 10 septiliun, atau satu diikuti 43 nol.
Dampaknya bagi cara makanan dirancang
Penulis utama Vahidullah Tac mengatakan tim awalnya mengira akan ada pertukaran antara keberlanjutan dan penerimaan konsumen. Kenyataannya, burger dengan dampak lingkungan jauh lebih rendah tetap bisa menyaingi salah satu burger paling sukses di dunia.
Tac menambahkan bahwa pilihan makanan termasuk keputusan harian yang paling penting. Satu keputusan dapat memengaruhi kesehatan planet sekaligus kesehatan pribadi, sehingga riset semacam ini dinilai penting dan berdampak.
Temuan Stanford memberi arah baru bagi pengembangan resep makanan di masa depan. Jika sebelumnya banyak resep lahir dari intuisi, kini AI membuka jalan bagi peracikan makanan yang lebih terukur tanpa mengorbankan daya terima konsumen.







