Butrint Bertahan Lewati Berabad-abad, Kota Kuno Ini Silih Berganti Dikuasai

Butrint termasuk sedikit kota kuno yang masih memperlihatkan lapisan sejarah dari prasejarah hingga era modern dalam satu kawasan yang relatif utuh. Di selatan Albania, situs ini bertahan bukan hanya karena reruntuhannya, melainkan karena setiap kekuasaan yang datang meninggalkan jejak baru tanpa benar-benar menghapus yang lama.

Nilai strategis Butrint sudah tampak sejak awal karena letaknya berada sekitar 20 kilometer dari Saranda. Kawasan ini menempati semenanjung kecil yang dikepung Danau Butrint dan Saluran Vivari, dekat Selat Korfu yang penting bagi jalur maritim Mediterania.

Jejak hunian paling awal dan naiknya pengaruh Yunani

UNESCO World Heritage Centre mencatat tanda okupasi paling awal di kawasan inti Butrint berasal dari sekitar 50.000 sebelum masehi. Temuan arkeolog di perbukitan kecil dekat danau menunjukkan bahwa wilayah ini sudah dihuni jauh sebelum kota berkembang menjadi pusat yang lebih besar.

Memasuki sekitar 800 sebelum masehi, pengaruh Yunani kuno mulai menguat di wilayah itu. Masyarakat Chaonian kemudian membangun hunian bertahap dengan elemen tata kota yang menyerupai konsep polis.

Pada abad ke-4 sebelum masehi, Butrint berkembang menjadi pusat spiritual. Di atas akropolis didirikan kompleks suci untuk menghormati Asclepius, dewa penyembuhan dalam mitologi Yunani.

PeriodePerubahan UtamaDampak
Sekitar 50.000 SMJejak okupasi awalMenunjukkan hunian prasejarah di kawasan inti
Sekitar 800 SMPengaruh Yunani menguatHunian berkembang dengan unsur tata kota polis
Abad ke-4 SMKompleks suci dibangunButrint menjadi pusat ziarah dan ekonomi
44 SMBerubah menjadi koloni RomawiArsitektur dan infrastruktur kota ikut berubah

Fungsi religius itu ikut mendorong ekonomi kota. Ribuan peziarah datang dari berbagai wilayah Mediterania, dan aliran dana dari aktivitas mereka membantu membiayai monumen publik berskala besar.

Salah satu peninggalan paling menonjol dari masa itu adalah teater batu kuno. Struktur ini masih berdiri dan menjadi bukti kuat bahwa Butrint pernah berada di puncak sebagai pusat medis dan budaya.

Saat Romawi, Bizantium, dan Venesia mengubah wajah kota

Pada 44 sebelum masehi, Butrint beralih menjadi koloni Romawi setelah dominasi Yunani runtuh. Perubahan itu membawa gaya arsitektur baru, termasuk bangunan umum berbata khas Romawi dan kompleks pemandian.

Di bawah kendali Roma, wilayah kota meluas besar-besaran ke selatan melewati Saluran Vivari. Pembangunan itu memanfaatkan reklamasi lahan rawa untuk permukiman para veteran tentara kekaisaran.

Roma juga membangun akuaduk panjang untuk memasok air bersih ke kota. Infrastruktur tersebut menegaskan posisi Butrint sebagai pusat yang terus tumbuh di bawah kepentingan militer dan administrasi kekaisaran.

Ketika pengaruh politik Roma melemah, Butrint berubah lagi menjadi pusat keuskupan agung penting di Balkan pada abad ke-5. Status ini memicu penguatan benteng sekaligus pembangunan rumah ibadah baru.

Bangunan pemandian Romawi yang sudah tidak terpakai kemudian diubah menjadi baptisterium Kristen. Lantainya dihiasi mosaik warna-warni bermotif rumit, sementara komunitas gereja juga membangun basilika agung dengan tiga nave dan apse poligonal.

Setelah itu, Butrint sempat kosong sebelum direkonstruksi total di bawah Kekaisaran Bizantium pada abad ke-9. Dalam proses itu, sisa basilika lama yang rusak akibat perang ikut diperbaiki kembali.

Pada abad ke-14, kendali Butrint berpindah ke Angevin lalu Republik Venesia. Serangan berulang dari penguasa Epirus dan pasukan Kesultanan Utsmaniyah mendorong Venesia memperkuat dinding, menambah menara pengawas, dan memperluas benteng luar.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengamankan rute perdagangan maritim dari serbuan lawan. Posisi Butrint yang dekat jalur laut membuat pertahanan kota selalu menjadi prioritas dalam setiap perubahan kekuasaan.

Pelestarian modern dan peran baru kawasan warisan

Dalam masa modern, nilai Butrint justru diselamatkan lewat kebijakan konservasi. Setelah Albania melewati periode isolasi ekstrem sebagai negara komunis dari tahun 1940-an hingga 1991, pemerintah mulai fokus pada pemulihan kawasan budaya ini melalui pariwisata dan kerja sama global.

Kawasan sekitarnya kemudian dijadikan taman nasional lindung seluas 93 kilometer persegi untuk menjaga keanekaragaman hayati lokal. Teater batu kuno juga kembali hidup sebagai lokasi festival seni drama tahunan, sementara situs ini tetap menjadi ruang penelitian penting bagi para ahli purbakala.

Source: www.idntimes.com
Berita Terkait