BYD Bagi Hybrid Jadi Tiga Jalur, Dari Irit Harian Sampai Tampang 600 Hp

Di keluarga teknologi Dual Mode atau DM, BYD tidak menempatkan hybrid sebagai solusi tunggal. Pabrikan asal Tiongkok itu membaginya menjadi tiga karakter berbeda, sehingga tiap model bisa diarahkan ke kebutuhan yang spesifik, mulai dari efisiensi harian, tenaga besar, sampai kemampuan menghadapi medan berat.

Pembagian itu membuat pendekatan BYD terasa tidak sama dengan hybrid konvensional. Pada sistem ini, tenaga listrik justru dijadikan sumber gerak utama terlebih dahulu, sementara mesin bensin hadir saat diperlukan.

Electric First menjadi dasar utama

Filosofi Electric First menjadi pembeda paling jelas dari sistem BYD. Mobil diupayakan berjalan dengan motor listrik lebih dulu, lalu mesin bensin baru mengambil peran ketika baterai mulai rendah, saat tenaga ekstra dibutuhkan, atau ketika mobil melaju konstan pada kecepatan tinggi.

Pola kerja seperti ini membuat karakter berkendaranya terasa lebih dekat ke mobil listrik. Di saat yang sama, fleksibilitas plug-in hybrid tetap dipertahankan sehingga pengguna tidak sepenuhnya bergantung pada pengisian daya.

DM-i untuk kebutuhan harian

Dari tiga varian yang ada, DM-i menjadi yang paling populer di keluarga Dual Mode. Nama ini merupakan singkatan dari Dual Mode-intelligent dan arahnya jelas, yaitu mengejar efisiensi bahan bakar setinggi mungkin tanpa mengorbankan kenyamanan.

Pada sistem DM-i, motor listrik memegang peran utama sebagai penggerak kendaraan. Mesin bensin bekerja pada putaran yang paling efisien dan lebih sering bertugas sebagai generator untuk mengisi baterai.

Karakter itu membuat DM-i cocok untuk penggunaan perkotaan. Pengemudi bisa merasakan sensasi berkendara yang mirip EV dalam rutinitas harian, tetapi tetap punya keleluasaan saat harus menempuh perjalanan luar kota.

DM-p mengejar performa

Jika DM-i fokus pada irit, DM-p justru diarahkan untuk konsumen yang mencari tenaga besar. Huruf “p” mengacu pada kata powerful, dan orientasi sistem ini memang berada di area performa.

Konfigurasi DM-p umumnya menggabungkan beberapa motor listrik dengan penggerak all-wheel drive. Kombinasi tersebut memberi akselerasi instan dan distribusi tenaga yang lebih agresif.

Pada beberapa model BYD, DM-p disebut mampu menghasilkan tenaga gabungan lebih dari 600 hp. Akselerasi 0-100 km/jam juga berada di kisaran empat detik, menegaskan bahwa hybrid tidak lagi selalu identik dengan kendaraan hemat semata.

DM-O untuk medan yang lebih menantang

Di atas dua pendekatan itu, BYD juga menyiapkan DM-O sebagai sistem hybrid serbaguna. Fokusnya bukan hanya efisiensi atau lari cepat di jalan lurus, tetapi juga kemampuan menghadapi berbagai kondisi jalan.

DM-O tetap memakai basis electric-first, namun dirancang dengan struktur penggerak yang lebih siap untuk medan berat dan kondisi ekstrem. Salah satu model yang disebut memakai pendekatan ini adalah Yangwang U8.

Kehadiran DM-O memperlihatkan bahwa elektrifikasi BYD tidak berhenti di mobil kota atau mobil berperforma tinggi. Teknologi yang sama juga dibawa ke kendaraan yang menuntut daya jelajah dan ketahanan lintas medan.

Relevan untuk masa transisi

Di pasar negara berkembang, pendekatan seperti ini dinilai relevan sebagai jembatan menuju kendaraan listrik penuh. Alasannya sederhana, kebutuhan pengguna belum selalu cocok dengan mobil listrik murni.

Masih banyak konsumen yang membutuhkan efisiensi tinggi, rasa berkendara modern, dan fleksibilitas jarak tempuh dalam satu paket. Karena itu, DM-i, DM-p, dan DM-O bisa dibaca sebagai tiga jawaban berbeda dari satu filosofi yang sama, yaitu mendahulukan tenaga listrik sebelum mesin bensin turun tangan.

Source: otodriver.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer