BYD Dorong PHEV Dipandang Seperti EV, Insentif Jadi Penentu Laju Pasar

Author: Redaksi Android62

BYD menilai plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV layak memperoleh perlakuan yang lebih dekat dengan kendaraan listrik murni. Pabrikan asal China itu melihat insentif, termasuk yang nonfiskal, sebagai kunci agar adopsi PHEV di Indonesia bisa berkembang lebih luas.

Menurut BYD, PHEV berada di tengah jalur transisi menuju mobil listrik penuh karena mengandalkan baterai berkapasitas lebih besar dibanding hybrid konvensional. Teknologi ini juga memungkinkan kendaraan bergerak dalam mode listrik untuk jarak tertentu sebelum mesin bekerja lebih jauh.

Pembedaan Regulasi Dinilai Penting

Head of Marketing PR and Government Relations BYD Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan PHEV semestinya dapat dikategorikan sebagai EV. Ia menilai karakter teknologinya berbeda dari mobil bermesin pembakaran internal atau ICE.

“Secara kapasitas baterai lebih tinggi, teknologi dan skema di ICE beda, jadi betul-betul untuk dukung pengisian baterai,” kata Luther di Jakarta belum lama ini. Ia menegaskan bahwa orientasi PHEV tetap kendaraan listrik, meski masih dilengkapi mesin.

BYD juga mencermati praktik di sejumlah negara lain yang sudah memberi pengakuan regulasi lebih dekat kepada PHEV sebagai EV. Menurut perusahaan, langkah semacam itu bisa membantu mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan elektrifikasi.

Saat ini, PHEV belum mendapat perlakuan khusus seperti mobil listrik murni. Mobil listrik murni memperoleh kebijakan fiskal dan nonfiskal serta pelat nomor lis biru.

Sebaliknya, hybrid dan PHEV masih diperlakukan sama dengan kendaraan konvensional dalam beberapa aturan. Salah satunya berkaitan dengan kebijakan lalu lintas yang tidak memberi pembebasan dari aturan ganjil genap.

Insentif yang Diminta Tidak Harus Sama Persis

Meski mendorong adanya dukungan pemerintah, BYD tidak meminta insentif PHEV disamakan sepenuhnya dengan mobil listrik murni. Luther menegaskan yang terpenting adalah pengguna PHEV mendapat manfaat yang lebih baik dibandingkan memakai mobil bermesin konvensional.

Menurut dia, skema seperti itu akan membantu mempercepat transisi menuju kendaraan elektrifikasi secara masif. “Ini untuk mendukung transisi masif,” ujar Luther.

BYD menilai posisi PHEV penting sebagai jembatan transisi energi di sektor otomotif. Namun tanpa pembedaan insentif dan regulasi, perusahaan melihat laju adopsinya berpotensi tetap tertinggal dibanding kendaraan listrik murni.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru