BYD M6 DM menarik perhatian bukan hanya karena statusnya sebagai PHEV perdana BYD untuk pasar Indonesia, tetapi juga karena mobil ini ternyata cukup memakai bensin RON 92. Padahal, mesin di dalamnya memiliki kompresi tinggi 16:1 yang sering dianggap butuh bahan bakar beroktan lebih besar.
BYD Motor Indonesia menegaskan kebutuhan bahan bakar itu memang sengaja diarahkan ke RON 92. Karena itu, konsumen tidak perlu mencari bensin premium yang lebih mahal untuk menjalankan M6 DM secara optimal.
Mesin kompresi tinggi tetap disiapkan untuk RON 92
Head of Product PT BYD Motor Indonesia, Bobby Bharata, menjelaskan bahwa rancangan mesin dan komponen pendukung pada M6 DM dibuat agar tetap cocok dengan RON minimum. Ia juga menyebut sistem pendinginan mesin sudah disiapkan memadai untuk menjaga performa saat mobil memakai RON 92.
Penjelasan itu disampaikan Bobby saat ditanya wartawan di PIK 2, Jakarta, pada Senin, 18 Mei. Ia menegaskan kembali bahwa mesin tersebut bisa menggunakan RON 92 meski memiliki kompresi tinggi.
Label di penutup tangki bahan bakar pun sudah mengikuti arahan itu. Pada bagian tersebut tertulis RON 92 sebagai acuan penggunaan.
Efisiensi jadi nilai jual utama M6 DM
Selain soal bahan bakar, BYD menonjolkan efisiensi sebagai kekuatan utama M6 DM. Teknologi DM atau Dual-Mode yang baru diperkenalkan untuk konsumen Indonesia menggabungkan mesin 1.5L Atkinson-cycle naturally aspirated dengan motor listrik.
Pabrikan mengklaim kombinasi itu mampu membuat konsumsi bahan bakarnya sangat irit, hingga 65 km/liter. Angka tersebut menjadi daya tarik penting di pasar yang sangat memperhatikan biaya operasional dan ketersediaan bahan bakar.
Dengan rekomendasi RON 92, penggunaan harian juga menjadi lebih sederhana. Pemilik tidak perlu berburu bensin beroktan tinggi agar mobil tetap bekerja sesuai peruntukannya.
Blade battery ikut mendukung karakter berkendara
Sistem hybrid M6 DM tidak hanya bertumpu pada mesin bensin dan motor listrik. BYD juga menyematkan blade battery yang dikembangkan sendiri untuk menopang karakter berkendara mobil ini.
Teknologi baterai tersebut disebut meningkatkan discharge rate hingga 33 persen dan energy density sampai 15,9 persen. BYD mengaitkannya dengan pengalaman berkendara yang anti-lag dan tetap bertenaga.
Karakter itu diproyeksikan membantu mobil saat menanjak dan melintasi jalan curam yang sering ditemui di Indonesia. Dengan begitu, efisiensi dan kemampuan daya tetap berjalan berdampingan.
Relevan untuk pasar MPV tujuh penumpang
Kehadiran M6 DM juga memperkuat fokus BYD pada segmen MPV tujuh penumpang. Segmen ini dinilai relevan untuk konsumen domestik yang membutuhkan mobil keluarga dengan teknologi elektrifikasi.
Di tengah persaingan mobil hybrid dan plug-in hybrid, kombinasi mesin kompresi tinggi, rekomendasi RON 92, dan klaim efisiensi tinggi membuat M6 DM menonjol. BYD tampaknya ingin menunjukkan bahwa hybrid canggih tidak selalu harus bergantung pada bahan bakar beroktan tinggi untuk bekerja maksimal.
Source: www.bincangbincangmobil.com