Cadangan Minyak Kian Menipis, Raksasa Minyak AS Khawatir Harga Akan Melonjak Lagi

Pasar minyak kini menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dari sekadar gangguan jalur pengiriman. Tiga raksasa minyak Amerika Serikat, Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips, melihat ruang penahan guncangan makin menipis sehingga harga minyak berisiko kembali melonjak tajam.

Kekhawatiran itu menguat ketika Selat Hormuz tetap tertutup. Jalur air tersebut membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di sana langsung memukul pergerakan energi global.

Cadangan penyangga mulai menipis

Di tengah kondisi itu, Chevron menilai pasar sudah kekurangan bantalan pasokan. CFO Chevron Eimear Bonner mengatakan kapasitas cadangan yang tersedia kini sangat terbatas setelah berbulan-bulan digunakan untuk menutup hilangnya pasokan harian.

Bonner menilai kondisi pasar sangat rentan karena hanya sedikit persediaan yang masih bisa dipakai untuk menstabilkan harga. Ia juga menyebut tekanan pasar terjadi saat harga minyak sudah melampaui US$100 per barel sejak penutupan jalur air tersebut.

Exxon dan ConocoPhillips melihat risiko belum selesai

Dari sisi lain, CEO Exxon Darren Woods menilai pasar belum sepenuhnya merasakan dampak gangguan minyak dan gas dunia. Ia menegaskan risiko akan meningkat tajam bila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Woods juga melihat hilangnya salah satu sumber pasokan komersial akan memperburuk volatilitas harga. Menurut dia, selama penutupan berlangsung lebih lama, pasar akan terus menghadapi potensi kenaikan yang lebih besar.

ConocoPhillips juga membawa nada peringatan serupa. CFO Andy O’Brien mengatakan pasar minyak masih berada dalam masa tenggang sejak akhir Februari karena kargo yang dikirim sebelum perang pecah baru tiba di negara tujuan.

Masa penahan dampak mulai berakhir

O’Brien menjelaskan kondisi yang sempat menahan lonjakan harga itu kini selesai. Seluruh kapal yang dikirim lebih awal telah sampai di tujuan, sehingga hilangnya arus pasokan harian akan terasa lebih jelas dalam sistem distribusi energi internasional.

Di titik ini, pasar tidak lagi memiliki banyak ruang untuk meredam gangguan. Ketika cadangan komersial mendekati level minimum operasional, kemampuan pasar untuk menahan lonjakan harga ikut menyusut.

Asia disebut paling rentan

ConocoPhillips menilai dampak paling berat akan terasa di Asia. Wilayah tersebut mulai melakukan penghematan energi, sementara negara-negara yang sangat bergantung pada impor berisiko menghadapi kekurangan kritis pada periode Juni hingga Juli.

Peringatan itu menambah kekhawatiran bahwa penyangga pasokan global tidak lagi cukup kuat. Jika kondisi penutupan terus berlanjut, tekanan pada negara pengimpor bisa muncul lebih cepat dari yang diperkirakan pasar.

Harga sempat turun, tetapi risiko tetap ada

Di tengah ketegangan tersebut, harga West Texas Intermediate sempat turun 4% ke level US$102 per barel setelah muncul sinyal diplomasi dari Iran. Namun, penurunan itu tidak menghapus ancaman utama yang datang dari menyusutnya cadangan penyangga.

Woods mengingatkan pasar akan terus memantau pergerakan cadangan minyak hingga September, saat level minimum operasional diprediksi tercapai jika blokade tidak berakhir. Selama Selat Hormuz tetap tertutup, pasar energi global akan sangat bergantung pada persediaan yang terus menipis.

Berita Terkait