Cadangan Modal Dan Data Jadi Ujian, AAJI Minta Transisi New RBC Dijalankan Bertahap

Author: Redaksi Android62

Otoritas Jasa Keuangan masih menyiapkan aturan turunan untuk New RBC, sementara industri asuransi jiwa diminta bersiap menghadapi perubahan cara menghitung kecukupan modal. Dalam pandangan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, pembaruan ini tidak cukup dijawab dengan penyesuaian angka, karena perusahaan juga harus membenahi sistem, data, hingga kemampuan teknis secara menyeluruh.

AAJI melihat tantangan terbesar justru ada pada kesiapan internal industri. Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat, menyebut data, teknologi, sistem, aktuaria, manajemen risiko, dan sumber daya manusia sebagai titik penting yang perlu diperkuat agar perusahaan dapat mengikuti arah kebijakan yang baru.

Tekanan modal bisa berbeda di tiap perusahaan

Salah satu perhatian utama AAJI adalah potensi kenaikan kebutuhan modal pada sebagian perusahaan. Skema New RBC yang lebih peka terhadap risiko dinilai dapat memberi tekanan lebih besar pada perusahaan dengan profil risiko atau struktur bisnis tertentu.

Karena itu, AAJI menilai perusahaan asuransi perlu menjaga kecukupan cadangan teknis sejak awal. Kualitas pengelolaan risiko juga harus diperkuat agar tekanan modal tidak langsung mengganggu ketahanan usaha.

Asosiasi ini juga menyoroti pentingnya strategi investasi yang selaras dengan profil liabilitas. Dengan cara itu, tekanan terhadap modal diharapkan bisa dikelola lebih baik saat kerangka baru mulai diterapkan.

Transisi dinilai harus berjalan bertahap

Di tengah dorongan perubahan, AAJI tetap mendukung langkah OJK dalam mengembangkan New RBC yang lebih risk-sensitive dan forward-looking. Namun, asosiasi ini menilai penerapannya tidak bisa dilakukan secara cepat karena transisi yang tergesa berisiko mengganggu stabilitas industri.

Emira menilai pendekatan bertahap dan kolaboratif dari OJK akan sangat membantu. Ia menyebut pilot project dan forum diskusi teknis sebagai ruang penting agar industri bisa menyesuaikan diri tanpa menghadapi guncangan besar selama masa peralihan.

Kerangka baru ubah cara melihat modal

New RBC disiapkan untuk memperkuat kerangka permodalan dengan fokus yang lebih besar pada available capital dibanding required capital. Dalam skema ini, available capital akan dibagi menjadi dua tingkat, yakni tier 1 sebagai modal inti dan tier 2 sebagai modal tambahan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan penyusunan POJK terkait perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi dan reasuransi masih berjalan. Ia juga menilai RBC yang berlaku saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kecukupan modal untuk mengantisipasi risiko secara komprehensif.

Bagi AAJI, penyempurnaan itu penting karena industri membutuhkan fondasi yang lebih kuat dan adaptif. Kerangka baru juga dipandang sejalan dengan standar internasional serta diharapkan mendorong disiplin pengelolaan risiko yang lebih baik.

Kesiapan teknis jadi ujian berikutnya

Di luar aspek modal, industri masih menghadapi pekerjaan besar pada sisi operasional. AAJI menilai kesiapan data, sistem, kemampuan teknis, dan tata kelola risiko menjadi syarat agar perusahaan tidak tertinggal saat kebijakan permodalan baru mulai berlaku.

Penguatan kapasitas teknis juga dianggap penting agar perusahaan dapat membaca risiko dengan lebih tepat. Dengan fondasi itu, industri asuransi jiwa diharapkan mampu menjaga ketahanan menghadapi dinamika pasar dan potensi tekanan keuangan yang bisa muncul dari perubahan kerangka permodalan.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru