Cahaya layar ponsel saat sleep call bisa menjadi pengganggu utama tidur malam. Paparan ini dinilai lebih berisiko terhadap kualitas istirahat dibandingkan radiasi perangkatnya sendiri karena dapat menunda rasa kantuk.
Kebiasaan tidur sambil tetap tersambung dalam panggilan telepon memang terasa mendekatkan, terutama bagi pasangan jarak jauh. Namun, jika dilakukan terus-menerus, rutinitas itu bisa membuat waktu tidur bergeser dan tubuh tidak mendapat pemulihan yang cukup.
Tidur yang Tetap Terganggu Meski Terasa Tenang
Sleep call sering dianggap sebagai cara sederhana untuk menjaga kedekatan. Ponsel bahkan kerap diletakkan di samping kepala atau di bawah bantal agar percakapan tetap tersambung sampai tertidur.
Masalahnya, kondisi yang tampak nyaman ini dapat memicu gangguan pada ritme istirahat. Saat layar tetap menyala atau perangkat masih aktif di dekat tubuh, otak dan tubuh tidak sepenuhnya masuk ke suasana tidur yang optimal.
Peneliti dari Australian Centre for Electromagnetic Bioeffects Research, Sarah Loughran, menjelaskan bahwa penggunaan ponsel saat tidur dapat menimbulkan perubahan kecil pada aktivitas otak. Perubahan itu terlihat pada fase tidur tertentu, termasuk alpha dan sleep spindle, yang berhubungan dengan proses pemulihan tubuh.
Meski begitu, Loughran menegaskan bahwa temuan tersebut belum membuktikan dampak langsung terhadap kualitas tidur, memori, atau kesehatan secara umum. Artinya, perhatian utama bukan hanya pada gelombang ponsel, tetapi juga pada kebiasaan menggunakan layar menjelang tidur.
Cahaya Biru dan Peran Melatonin
Dari berbagai faktor yang ada, cahaya biru dari layar ponsel dinilai lebih berpotensi mengacaukan tidur. Paparan ini dapat menghambat produksi melatonin, yaitu hormon yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Saat melatonin terganggu, tubuh jadi lebih sulit mengenali waktu istirahat. Akibatnya, seseorang bisa tidur lebih larut, lebih mudah terbangun di malam hari, atau bangun dalam keadaan kurang segar meski durasi tidurnya terasa cukup.
Kondisi tersebut bisa muncul tanpa disadari karena sleep call sering dibingkai sebagai bentuk perhatian. Padahal, kebiasaan yang dilakukan berulang justru dapat menggeser jam tidur secara perlahan.
Dampak yang Terasa Hingga Keesokan Hari
Kurang tidur tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada emosi dan aktivitas harian. Orang yang tidurnya terganggu cenderung lebih sensitif, lebih sulit fokus, dan komunikasi pun bisa ikut terdampak pada hari berikutnya.
Dalam hubungan, efek ini kerap tidak langsung terlihat. Rasa dekat yang tercipta sebelum tidur bisa berubah menjadi kelelahan, mudah tersinggung, dan produktivitas yang menurun bila waktu tidur terus dipangkas.
Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan, penggunaan ponsel sebelum atau saat tidur juga dikaitkan dengan sejumlah risiko lain. Beberapa di antaranya adalah insomnia atau gangguan tidur, penurunan kualitas tidur, gangguan konsentrasi, sakit kepala, serta rasa tidak nyaman karena layar digunakan terlalu lama.
Ada pula risiko ponsel menjadi panas atau bahkan terbakar, terutama jika perangkat diletakkan terlalu dekat dengan bantal saat sedang diisi daya. Karena itu, kebiasaan yang terlihat sepele tetap perlu diperhatikan dengan cermat.
Menjaga Kedekatan Tanpa Mengorbankan Tidur
Komunikasi dengan pasangan tidak harus berlangsung hingga benar-benar terlelap. Mengatur waktu panggilan sebelum jam tidur dapat membantu menjaga kedekatan tanpa mengganggu ritme istirahat.
Langkah sederhana juga bisa diterapkan, seperti meletakkan ponsel agak jauh dari tempat tidur, mengaktifkan mode malam, meredupkan layar, serta mengatur pengingat untuk menutup panggilan. Mengisi daya ponsel di meja terpisah juga dapat mengurangi risiko perangkat terlalu dekat saat tidur.
Jika sleep call sudah menjadi kebiasaan, penting untuk menilai kembali apakah rutinitas itu benar-benar mendukung hubungan. Dalam banyak kasus, kedekatan yang terasa hangat justru perlu diimbangi dengan tidur yang cukup agar tubuh tetap pulih dengan baik setiap malam.
Source: lifestyle.bisnis.com






