Cakupan Imunisasi Baru 80,2 Persen, Pemerintah Siapkan Insentif Agar Target 90 Persen Tercapai

Pemerintah Kota Banda Aceh bersiap mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi anak dengan sejumlah langkah yang lebih agresif. Di wilayah ini, sekitar 63% anak masih berstatus zero dose atau belum pernah menerima imunisasi sama sekali.

Kondisi itu membuat pemerintah daerah bergerak dengan pendekatan jemput bola, penguatan layanan dasar, dan pemetaan anak hingga tingkat gampong. Upaya ini dilakukan karena rendahnya cakupan imunisasi ikut berkaitan dengan munculnya kasus campak di tengah masyarakat.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono juga menyiapkan skema insentif untuk mendorong lebih banyak anak mendapat imunisasi lengkap. Dorongan ini muncul karena cakupan imunisasi nasional baru berada di angka 80,2%, sedangkan target pemerintah masih 90%.

Dalam kunjungan kerja ke Banda Aceh, Dante menilai penghargaan yang selama ini diberikan belum cukup kuat untuk mendorong partisipasi orang tua. Selama ini, anak yang sudah imunisasi lengkap baru memperoleh sertifikat sebagai bentuk apresiasi.

Pemerintah kini mempertimbangkan bentuk insentif tambahan agar keluarga lebih terdorong membawa anak imunisasi. Dante menyebut akan mengusulkan penghargaan yang lebih menarik, termasuk makanan tambahan atau sekolah gratis bagi anak yang mau imunisasi.

Gagasan tersebut diarahkan terutama untuk daerah yang masih tertinggal dalam cakupan imunisasi. Pemerintah tidak hanya mengandalkan imbauan, tetapi juga stimulus agar minat masyarakat meningkat dan target nasional lebih cepat dikejar.

Banda Aceh menjadi sorotan khusus karena angka cakupan imunisasinya jauh di bawah rata-rata nasional. Di kota itu, cakupan imunisasi anak baru sekitar 33%, padahal sebelum pandemi Covid-19 pernah mencapai 83%.

Setelah pandemi, angka tersebut terus menurun dan ikut memengaruhi risiko penularan penyakit. Dante menyinggung kemunculan kasus campak ketika cakupan imunisasi melemah, termasuk di Provinsi Aceh yang disebut sudah mencatat 263 kasus pada kondisi cakupan 33%.

Di Kota Banda Aceh sendiri, jumlah kasus campak tercatat 24 kasus. Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan bahwa temuan 119 kasus campak di wilayahnya berkaitan dengan tingginya jumlah anak yang belum pernah imunisasi.

Illiza juga menyebut angka tuberculosis di wilayah itu telah mencapai 1.600 lebih. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peringatan serius karena rendahnya imunisasi berdampak langsung pada penyebaran penyakit.

Untuk mengejar ketertinggalan, Pemerintah Kota Banda Aceh menyiapkan beberapa strategi. Langkah pertama adalah memperkuat layanan primer melalui Puskesmas dan Posyandu agar akses masyarakat lebih mudah.

Langkah berikutnya adalah pemetaan hingga tingkat gampong atau desa agar data anak yang belum imunisasi lebih akurat. Pemerintah daerah juga mendorong gerakan jemput bola karena sebagian keluarga dinilai bukan menolak imunisasi, melainkan belum mendapatkan informasi yang utuh.

Pendekatan persuasif dan manusiawi kepada orang tua menjadi bagian lain dari strategi itu. Dengan cara tersebut, pemerintah berharap lebih banyak keluarga bersedia membawa anak mereka untuk imunisasi lengkap, terutama di wilayah dengan angka zero dose yang masih tinggi.

Dorongan insentif dari pemerintah pusat dan langkah jemput bola di daerah sama-sama mengarah pada tujuan yang sama. Cakupan imunisasi diharapkan naik, sementara risiko penularan penyakit pada anak bisa ditekan lebih cepat.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait