Candaan Pria Soal PMS Tuai Kritik, Dianggap Mengabaikan Pengalaman Perempuan

Reaksi keras muncul di media sosial setelah sebuah video parodi yang menampilkan sekelompok pria menirukan perempuan saat PMS beredar luas. Konten dari akun TikTok @hngoutzne itu dianggap banyak warganet tidak peka karena menggambarkan kondisi tersebut dengan adegan berlebihan, mulai dari kesakitan, berguling, hingga gestur yang dinilai menyerupai kesurupan.

Perdebatan kemudian meluas bukan hanya karena isi videonya, tetapi juga karena teks yang menyertainya. Caption seperti “alay #cewealay #pmsday #eventbulanan #fyp” dan kalimat “POV gender sebelah kalau ada event bulanan” membuat sejumlah pengguna merasa bahwa pengalaman perempuan saat PMS diposisikan semata-mata sebagai bahan lawakan.

Mengapa Konten Itu Memantik Kritik

Banyak komentar menilai parodi tersebut gagal membaca batas antara humor dan pengalaman kesehatan yang nyata. PMS bukan sekadar perubahan suasana hati yang berlangsung singkat, melainkan rangkaian gejala yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Keluhan yang kerap muncul saat PMS antara lain nyeri perut, tubuh terasa lelah, payudara nyeri, mudah tersinggung, dan perubahan emosi yang cukup tajam. Karena itu, sebagian warganet memandang konten semacam ini meremehkan kondisi yang bagi banyak perempuan justru terasa berat.

Fakta Medis tentang PMS

Menurut Mayo Clinic, PMS umumnya muncul satu hingga dua minggu sebelum menstruasi. Gejalanya bisa meliputi emosi yang naik turun, keinginan makan tertentu, kelelahan, perasaan mudah tersinggung, hingga depresi.

Dalam banyak kasus, PMS juga berkaitan dengan dismenore atau nyeri haid. Kondisi ini terjadi akibat kontraksi rahim yang dipicu hormon prostaglandin, sehingga rasa sakit bisa cukup intens dan mengganggu rutinitas harian.

Ringkasan fakta penting yang relevan dalam pembahasan ini:

  1. PMS biasanya muncul satu hingga dua minggu sebelum menstruasi.
  2. Gejalanya dapat mencakup nyeri perut, perubahan mood, dan kelelahan.
  3. Sekitar 3 dari 4 perempuan yang menstruasi pernah mengalami PMS.
  4. Nyeri haid dapat dipicu kontraksi rahim akibat prostaglandin.
  5. Sejumlah negara telah menerapkan cuti haid, termasuk Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Zambia.

Data Mayo Clinic yang menyebut sekitar 3 dari 4 perempuan yang menstruasi pernah merasakan setidaknya beberapa gejala PMS menunjukkan bahwa kondisi ini sangat umum. Karena itu, pembicaraan tentang PMS semestinya ditempatkan sebagai isu kesehatan, bukan sekadar materi hiburan.

Gelombang Komentar di Dunia Maya

Setelah video tersebut tersebar, kolom komentar dipenuhi kritik dari pengguna media sosial. Banyak yang menilai para pembuat konten tidak memahami bahwa nyeri menstruasi bukanlah dramatisasi, melainkan pengalaman fisik yang nyata dan tingkatnya bisa berbeda pada setiap orang.

Sebagian warganet juga menyoroti bahwa perempuan tetap harus menjalankan banyak kewajiban meski sedang mengalami nyeri haid. Tidak sedikit yang tetap bekerja, belajar, mengurus rumah, atau menyelesaikan tanggung jawab lain saat tubuh tidak nyaman, sehingga parodi seperti itu dianggap mengabaikan realitas yang mereka hadapi.

Dalam diskusi yang mengalir, ada pula yang membandingkan video tersebut dengan period pain simulator. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa alat ini umumnya menggunakan teknologi TENS atau Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation untuk mengirim impuls listrik dan meniru kontraksi otot perut seperti kram menstruasi.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa simulator tidak bisa menggambarkan keseluruhan pengalaman PMS. Gejalanya tidak hanya sakit fisik, tetapi juga dapat mencakup mual, kelelahan, dan gangguan emosional, sehingga kondisinya jauh lebih kompleks daripada simulasi singkat.

Sensitivitas Saat Topik Kesehatan Dijadikan Candaan

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa humor di ruang digital bisa berubah menjadi persoalan ketika tidak disertai empati. Saat materi yang dijadikan lelucon berkaitan dengan pengalaman tubuh yang nyata, sensitivitas menjadi penting agar candaan tidak berujung pada peremehan.

Di Indonesia, cuti haid memang telah dikenal dalam aturan ketenagakerjaan, meski penerapannya masih sering dinilai belum optimal. Karena itu, perbincangan tentang PMS tidak hanya menyangkut kesehatan, tetapi juga pemahaman sosial terhadap perempuan yang tetap menjalankan banyak tanggung jawab saat kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.

Source: www.beautynesia.id
Berita Terkait