ChatGPT Ternyata Bisa Menjebak Pembeli ke Toko Palsu, Ini Celah yang Terbuka

Author: Redaksi Android62

ChatGPT dilaporkan sempat mengarahkan pengguna ke toko online palsu yang tampak sangat meyakinkan. Kasus ini memperlihatkan bahwa penipuan kini bisa masuk lewat jawaban chatbot AI, bukan hanya melalui iklan atau pesan mencurigakan.

Risikonya tidak berhenti pada tautan yang keliru. Sejumlah pengguna dilaporkan kehilangan uang, sementara data pembayaran mereka terekspos setelah bertransaksi di situs tiruan yang muncul dari hasil belanja buatan AI.

Toko tiruan yang sulit dibedakan

The Guardian melaporkan bahwa ChatGPT dalam beberapa kasus mengarahkan pengguna ke situs ritel palsu yang terlihat sah. Layanan pendeteksi penipuan Ask Silver juga menemukan toko online hasil kloning mulai muncul dalam rekomendasi belanja yang dibuat ChatGPT.

Situs-situs itu meniru tampilan toko asli dan memanfaatkan nama merek yang sudah dikenal publik. Dalam beberapa kasus, pelaku memasang tautan yang berkaitan dengan merek populer seperti Russell & Bromley atau Dunelm agar terlihat lebih kredibel bagi calon korban.

Contoh yang menonjol muncul pada Russell & Bromley. Kebingungan terjadi setelah perusahaan itu tidak lagi berdiri sebagai peritel independen usai masuk administrasi pada Januari 2026 dan kemudian diambil alih oleh Next.

Kondisi tersebut membuka celah yang cepat dimanfaatkan pelaku penipuan. Saat konsumen masih mencari situs lama merek itu, pelaku membuat halaman tiruan yang menyerupai toko resmi untuk menangkap trafik pencarian dan menipu pembeli.

Masalahnya bukan hanya tautan salah

Laporan itu juga menyebut ChatGPT bukan hanya terhubung ke toko palsu, tetapi dalam beberapa kasus bahkan menyarankan produk yang sebenarnya tidak pernah ada. Temuan ini menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar salah alamat tautan.

Masalah utamanya adalah kualitas informasi yang dipakai model untuk menyusun jawaban. Jika data yang masuk sudah tercemar, hasil yang muncul bisa tampak rapi di layar tetapi berbahaya saat dipakai untuk belanja sungguhan.

Karena itu, pengguna kerap menganggap rekomendasi dari AI lebih netral daripada iklan biasa. Padahal, pakar perlindungan konsumen menegaskan bahwa saran dari chatbot tidak otomatis bisa dipercaya hanya karena disampaikan oleh sistem AI.

Dugaan “AI poisoning” dan dampaknya

Peneliti menduga serangan semacam ini terbantu oleh teknik yang disebut “AI poisoning”. Caranya adalah membanjiri internet dengan informasi palsu dan halaman kloning hingga materi itu terserap oleh model bahasa besar dan kemudian muncul lagi sebagai rekomendasi.

Jika dugaan itu benar, penipuan menjadi lebih sulit dikenali karena tampil lewat saluran yang selama ini dianggap membantu pengguna mencari informasi. AI dalam kondisi seperti ini justru tanpa sadar mempromosikan sumber palsu seolah-olah valid.

Fenomena tersebut memperlihatkan tantangan baru bagi ekosistem pencarian dan belanja digital. Saat chatbot makin sering dipakai untuk menemukan produk, kesalahan rekomendasi bisa langsung berubah menjadi kerugian finansial bagi konsumen.

Peringatan untuk pengguna dan platform

Louise Baxter, kepala tim penipuan di National Trading Standards, mengatakan pelaku kriminal sangat cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Menurutnya, mereka akan memanfaatkan saluran apa pun yang memberi akses ke calon korban.

Peringatan untuk pengguna pun tetap sama seperti pada penipuan online pada umumnya. Diskon yang terlalu besar, alamat situs yang aneh, informasi kontak yang buruk, dan permintaan transfer bank harus dianggap sebagai tanda bahaya.

Ahli juga menyarankan pengguna mengunjungi langsung situs resmi peritel, alih-alih bergantung penuh pada tautan yang dihasilkan AI. Langkah ini penting terutama saat mencari merek yang sedang berubah kepemilikan, berhenti beroperasi mandiri, atau sedang ramai dicari publik.

Sebagian situs yang dilaporkan telah diturunkan oleh OpenAI setelah mendapat laporan. Namun, penanganan setelah laporan masuk belum menyelesaikan masalah yang lebih besar, yakni bagaimana mencegah halaman palsu masuk ke sistem rekomendasi sejak awal.

Kasus ini menunjukkan bahwa kualitas jawaban AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan model, tetapi juga pada kebersihan ekosistem web yang menjadi sumber informasinya. Ketika halaman tiruan dan data palsu lolos masuk, risiko yang muncul bukan sekadar salah klik, melainkan juga salah beli dengan konsekuensi finansial yang nyata.

Bagi pengguna, kejadian ini menjadi pengingat bahwa antarmuka yang cerdas tetap perlu diperiksa dengan teliti. Tautan dari chatbot harus diperlakukan sama hati-hatinya seperti tautan dari sumber lain, terutama saat menyangkut pembayaran, identitas toko, dan keaslian produk.

Source: www.androidauthority.com
Berita Terbaru