Chery Tiggo 7 HEV Mulai Diuji, Indonesia Masih Menimbang di Tengah Rival Hybrid

Chery Tiggo 7 HEV mulai tampil dalam tahap pengujian dan langsung memunculkan pertanyaan soal peluangnya masuk ke Indonesia. Namun, PT Chery Sales Indonesia menegaskan bahwa model tersebut masih dalam tahap dipelajari untuk pasar lokal.

Arthur Panggabean, Head of Marketing PT Chery Sales Indonesia, mengatakan Chery masih terus mempelajari pasar Indonesia. Sikap itu menunjukkan belum ada arah peluncuran dalam waktu dekat, meski minat terhadap model ini cukup besar.

Posisi di antara MHEV dan PHEV

Di keluarga Tiggo 7, Chery sudah menawarkan beberapa pilihan penggerak, mulai dari mesin pembakaran internal hingga elektrifikasi. Di antaranya ada versi Mild Hybrid Electric Vehicle 48 volt dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle.

Pada MHEV, mobil tidak bisa berjalan hanya dengan tenaga listrik. Sebaliknya, varian PHEV disebut Chery Australia mampu menempuh jarak hingga 90 km dalam mode listrik.

HEV berada di tengah dua pendekatan itu karena bisa memakai mode listrik untuk waktu singkat tanpa perlu pengisian dari sumber eksternal. Energi baterainya berasal dari mesin atau dari pemulihan saat pengereman.

Karakter tersebut membuat HEV sering dipandang lebih praktis bagi konsumen yang ingin efisiensi tanpa kebiasaan mengisi daya dari luar. Dalam konteks Tiggo 7, kehadiran HEV berpotensi menjadi jembatan antara MHEV yang lebih sederhana dan PHEV yang lebih kompleks.

Petunjuk pengembangan untuk pasar ekspor

Teaser pengujian yang ramai dibahas memperlihatkan sebuah Tiggo 7 hybrid sedang mengisi daya. Menurut laporan Carnewschina yang dikutip Minggu (21/6), mobil itu menampilkan nama pengembangan “T1E HEV” pada kap mesin, emblem Chery berbahasa Inggris, dan desain interior yang disebut khusus untuk pasar ekspor.

Detail itu memunculkan dugaan bahwa Tiggo 7 HEV disiapkan untuk pasar global. Jika benar demikian, lini hybrid Chery di luar China berpotensi menjadi lebih lengkap, termasuk untuk negara seperti Indonesia.

Sistem hybrid yang diperkirakan dipakai

Tiggo 7 HEV terbaru ini diperkirakan akan menggunakan sistem hybrid Kun Peng 2.0 milik Chery. Sistem tersebut disebut memakai baterai berkapasitas 5,1 kWh dan mendukung motor listrik hingga 150 kW atau 201 hp.

Kombinasinya adalah mesin turbo 1,5 liter dengan total tenaga yang diperkirakan mencapai 260 kW atau 349 hp. Chery juga mengklaim sistem HEV itu memungkinkan pengguna berkendara dalam mode EV lebih lama.

Selain itu, sistem tersebut disebut mendukung fungsi pengisian daya AC kendaraan-ke-beban atau Vehicle-to-Load berdaya tinggi. Jika spesifikasi ini benar masuk ke versi produksi, Tiggo 7 HEV tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga menawarkan karakter performa dan fungsi elektrifikasi yang lebih fungsional.

Gambaran ukuran dan harga di pasar lain

Di pasar Australia, Tiggo 7 bermesin bensin dijual mulai 29.990 dolar Australia. Varian PHEV dengan label “Super Hybrid” dipasarkan mulai 34.990 dolar Australia.

Di China, model ini dipasarkan sebagai Tiggo 7 Plus. Untuk saat ini, versi yang tersedia di sana adalah varian ICE dan PHEV.

Varian PHEV di pasar domestik dijual pada rentang 129.900 yuan sampai 149.900 yuan. Penetapan harga itu memperlihatkan Chery menempatkan Tiggo 7 elektrifikasi sebagai produk yang cukup agresif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Dari sisi dimensi, Chery Tiggo 7 memiliki panjang 4.540 mm, lebar 1.870 mm, tinggi 1.170 mm, dan jarak sumbu roda 2.661 mm. Bobot kosongnya berkisar dari 1.489 kg hingga 1.788 kg, tergantung sistem penggeraknya.

Mobil ini memakai suspensi depan MacPherson strut dan suspensi belakang multi-link. Dengan detail tersebut, Tiggo 7 HEV berpotensi mengisi segmen SUV menengah yang menempatkan teknologi hybrid sebagai nilai utama, meski untuk Indonesia arah akhirnya masih menunggu hasil kajian Chery Sales Indonesia.

Source: otodriver.com

Berita Terkait