China Buka Jalan Jual Komersial Chip Otak Pertama Dunia, Neuralink Masih Tertinggal

Persetujuan NEO oleh National Medical Products Administration menandai langkah besar China dalam pasar chip otak dunia. Perangkat itu menjadi invasive brain-computer interface pertama di dunia yang boleh dijual secara komersial, sementara Neuralink milik Elon Musk masih berada dalam tahap uji coba.

Keputusan ini langsung menempatkan China di depan dalam persaingan teknologi brain chip yang selama ini identik dengan nama Musk. Di saat Neuralink baru menguji implan N1 pada sembilan pasien, ekosistem medis yang didukung negara di China sudah melangkah ke arah produksi massal.

Keunggulan NEO tidak hanya terletak pada status regulasinya, tetapi juga pada pendekatan teknis yang dipilih. Berbeda dari Neuralink N1 yang memerlukan robot bedah untuk menanamkan elektroda mikro langsung ke korteks serebral, NEO menempatkan delapan sensornya sepenuhnya di luar jaringan otak, tepatnya pada dura mater.

Desain itu membuat perangkat seukuran koin tersebut tergolong lebih minim invasif. Implan ini dikembangkan oleh startup Neuracle Technology yang berbasis di Shanghai bersama peneliti dari Tsinghua University.

Avinash Singh, peneliti brain-chip dari University of Technology Sydney, menilai strategi seperti ini hampir pasti mempercepat langkah NEO menuju garis akhir. Alasannya, perangkat tidak perlu menembus lapisan dalam otak untuk membaca neuron secara individual.

Pendekatan yang lebih dangkal itu juga dinilai menekan sejumlah risiko klinis. Potensi penolakan imun berat, perdarahan, jaringan parut jangka panjang, dan kerusakan jaringan disebut bisa jauh lebih rendah dibanding metode yang menanamkan elektroda langsung ke bagian dalam otak.

Fokus awal NEO juga menunjukkan arah pemakaian yang sangat jelas. Chip ini dirancang untuk rehabilitasi, bukan untuk menghadirkan kemampuan yang jauh melampaui kebutuhan medis dasar.

Dalam uji coba, implan tersebut membaca gelombang otak secara agregat lalu mengirimkannya secara nirkabel ke hub pemrosesan terdekat. Sinyal itu kemudian diterjemahkan menjadi perintah digital untuk mengendalikan perangkat lain.

Pada praktiknya, pasien lumpuh yang memakai chip ini dapat mengoperasikan sarung tangan robotik bertenaga pneumatik yang lembut. Dengan bantuan itu, mereka bisa melakukan aktivitas harian secara mandiri, termasuk makan, minum, dan menggenggam benda.

Target awal teknologi ini menyasar lebih dari 3 miliar orang di dunia yang hidup dengan gangguan neurologis dan gerak. Meski demikian, minat terhadap chip otak tidak berhenti pada kebutuhan medis, karena sebagian pelaku industri teknologi melihatnya sebagai langkah awal menuju masa depan cyborg.

Scott Phoenix, seorang venture capitalist, pernah mengatakan dalam TED talk di Vancouver bahwa kemungkinan besar akan ada orang yang lebih dulu mendapatkannya, lalu orang lain akan ikut karena manfaat integrasinya sulit ditolak. Elon Musk sendiri kerap berbicara dengan arah serupa, termasuk menyebut pemulihan kontrol bagi penderita tetraplegia dan pemulihan penglihatan sebagai “Jesus-level technologies”.

Di balik peluang itu, risiko medis tetap menjadi perhatian utama. Tubuh manusia dapat bereaksi terhadap benda asing dengan membentuk jaringan parut di sekitar implan atau bahkan menolak perangkat tersebut.

Dr. David Tuffley dari Griffith University mengatakan setiap jenis implan otak dapat menimbulkan kerusakan fisik yang memengaruhi kerja area otak di sekitarnya. Ia mencontohkan bahwa perdarahan di bagian otak yang mengendalikan bicara atau gerakan dapat mengganggu fungsi penting, sementara infeksi meski jarang tetap bisa memicu pembengkakan dan komplikasi lanjutan.

Kekhawatiran itu membuat teknologi brain-computer interface terus diawasi ketat saat bergerak dari laboratorium ke pasar. Di satu sisi, manfaat medisnya besar; di sisi lain, keamanan klinis tetap menjadi alasan utama regulator bersikap hati-hati.

Saat pasar berkembang, persoalan privasi ikut masuk ke pusat perdebatan. Future Market Insights memprediksi industri brain-implant akan tumbuh dari sektor niche menjadi pasar senilai 1,7 miliar dolar pada 2035.

Perkembangan itu membuat chip otak tidak lagi sekadar isu kesehatan, melainkan juga persoalan kepentingan korporasi dan geopolitik. Para pakar keamanan siber mulai mempertanyakan privasi dan kebebasan kognitif ketika teknologi ini keluar dari ruang penelitian.

Berbeda dari ponsel pintar atau smart speaker yang mengumpulkan lokasi fisik dan data suara, brain chip berpotensi menangkap pikiran paling intim yang tidak pernah diucapkan. Data semacam itu dipandang sangat berharga oleh perusahaan iklan pengawas seperti Meta, Amazon, dan Google.

Kekhawatiran lain muncul dari kemungkinan penyalahgunaan oleh rezim politik yang tertarik pada kepatuhan pikiran. Dr. Tuffley juga memperingatkan bahwa implan otak secara teoretis dapat memberi peretas akses ke data saraf sensitif, termasuk pikiran dan memori pasien.

Ancaman itu tidak berhenti pada pencurian identitas. Dalam skenario terburuk, peretasan bisa mengganggu konsentrasi atau memanipulasi sinyal motorik untuk memengaruhi cara seseorang bergerak, sehingga batas antara pemulihan medis dan risiko penyalahgunaan menjadi semakin tipis.

Berita Terkait