Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam pertarungan kepentingan Amerika Serikat, Iran, dan China. Di saat jalur energi dunia itu berada di bawah tekanan, pertemuan Abbas Araghchi dan Wang Yi di Beijing membuat posisi China tampak semakin menentukan.
Bagi Beijing, krisis ini bukan sekadar soal hubungan diplomatik dengan Teheran. Stabilitas Selat Hormuz menyangkut impor energi, arus perdagangan, dan laju ekonomi China yang masih bergerak cepat.
Jalur tersebut memegang peran besar dalam pasokan energi global. Sekitar seperlima minyak dan gas dunia melintas di sana, sehingga setiap gangguan langsung memicu kekhawatiran di pasar internasional.
Ketegangan di kawasan itu meningkat setelah Iran membatasi pelayaran di Selat Hormuz usai perang pecah. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah gencatan senjata April lalu untuk menekan Teheran agar menerima syarat dalam perundingan.
Di tengah situasi rapuh itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara operasi militer AS terkait pembukaan Selat Hormuz. Meski begitu, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil.
Dalam pertemuan di Beijing, Wang Yi menegaskan bahwa gencatan senjata menyeluruh tidak boleh terus ditunda. Ia juga menilai melanjutkan permusuhan bukan pilihan bijak, sementara perundingan tetap menjadi langkah paling penting saat ini.
China sendiri berada di posisi yang rumit karena krisis ini menyentuh kepentingan langsungnya. Jalur Hormuz menjadi arteri vital bagi impor energi dan perdagangan Beijing, sehingga ketidakpastian berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan ekonominya.
Iran Mencari Pegangan di Beijing
Kunjungan Araghchi juga dibaca sebagai upaya Iran mencari kepastian dari mitra terkuatnya. Di bawah tekanan sanksi Amerika Serikat, China tetap menjadi penopang ekonomi paling penting bagi Iran.
Beijing membeli sebagian besar minyak Iran, kerap dengan harga diskon. Sebagai gantinya, Iran memakai pendapatan itu untuk membeli produk dan jasa dari China.
Hubungan kedua negara semakin dalam setelah kemitraan strategis 25 tahun ditandatangani pada 2021. Kerja sama itu mencakup infrastruktur, perdagangan, dan keamanan, sehingga pertemuan di Beijing dipandang punya bobot yang lebih luas dari sekadar diplomasi biasa.
Teheran juga ingin membaca sejauh mana China bersedia tetap mendukungnya bila Iran memilih meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Di saat yang sama, Iran disebut ingin mengetahui sikap Beijing menjelang pembicaraan Xi Jinping dengan Trump.
Ada juga pertanyaan apakah China akan memberi konsesi kepada Washington yang bisa berdampak pada kepentingan Iran. Karena itu, dialog Araghchi dan Wang Yi tidak hanya menyentuh urusan regional, tetapi juga kalkulasi politik yang lebih besar.
Peran China di Tengah Mediasi yang Masih Terbuka
Sikap Beijing kini menjadi sorotan karena dapat memengaruhi arah negosiasi di PBB maupun pembicaraan langsung antara pihak-pihak terkait. Amerika Serikat bersama sekutu-sekutu Teluk dilaporkan sedang menyusun resolusi PBB untuk menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.
Draf yang dilaporkan kantor berita Jerman DPA itu berisi tuntutan agar Iran menghentikan serangan terhadap kapal, menyingkirkan ranjau laut, dan menghentikan pemungutan biaya transit. Usulan tersebut juga dilaporkan direvisi agar bisa mengamankan dukungan Rusia dan China.
Dalam konteks itu, Beijing punya ruang untuk mendorong deeskalasi. Jodie Wen dari Center for International Security and Strategy, Universitas Tsinghua di Beijing, menilai pesan utama China selama ini berfokus pada pencegahan eskalasi lebih lanjut di sekitar Selat Hormuz.
Ia juga menilai Beijing kemungkinan akan berupaya mendorong Iran kembali ke meja perundingan dan membuka kembali jalur pelayaran seperti semula. Sejalan dengan itu, Pakistan bahkan disebut telah meminta China memainkan peran mediasi yang lebih besar dalam ketegangan regional ini.
Kepentingan yang Melampaui Energi
China memandang Iran sebagai penyeimbang strategis terhadap pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah. Karena itu, Beijing punya alasan geopolitik untuk menjaga hubungan dengan Teheran tetap kuat.
Iran juga semakin aktif mendorong penggunaan yuan China dalam transaksi minyak. Langkah itu sejalan dengan ambisi Beijing memperluas peran mata uangnya di tengah dominasi dolar AS.
Di sisi lain, laporan media AS menyebut China sedang mempertimbangkan opsi meningkatkan dukungan militer kepada Iran. CBS News melaporkan bahwa analis intelijen Pentagon menilai Beijing tengah menimbang pemberian sistem radar canggih dan pertahanan udara, meski belum jelas apakah transfer itu benar-benar terjadi.
Jika Beijing berhasil membantu meredakan konflik, pengaruhnya di antara negara-negara produsen energi Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga dapat meningkat. Di tengah kepentingan energi, diplomasi, dan pengaruh kawasan yang saling berkelindan, pertemuan Araghchi dan Wang Yi menegaskan bahwa China kini memegang peran yang sulit diabaikan.
Source: www.beritasatu.com