China Makin Dekat ke Listrik Fusi, Target 2030 Kian Nyata

Author: Redaksi Android62

China semakin dekat pada target menghasilkan listrik dari fusi nuklir sekitar 2030. Dorongan terbarunya datang dari keberhasilan dua magnet superkonduktor buatan dalam negeri untuk reaktor EAST yang telah lolos uji teknis dan pengujian beban penuh.

Pencapaian itu menempatkan proyek Experimental Advanced Superconducting Tokamak, yang dijuluki Matahari buatan, pada tahap penting menuju pembangkit listrik fusi nuklir pertama di negara tersebut. Bagi China, ini bukan sekadar uji komponen, melainkan langkah untuk menutup salah satu hambatan paling sulit dalam energi fusi.

Komponen inti yang akhirnya lolos uji

Menurut laporan China Central Television yang dikutip www.cnnindonesia.com dari Global Times, dua magnet superkonduktor utama untuk EAST telah mencapai tahap akhir pengembangan. Pengujian parameter penuh yang mereka lewati juga disebut menandai lokalisasi menyeluruh atas semua teknologi inti dalam proyek itu.

Qin Jinggang, Wakil Direktur Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China, mengatakan timnya mendapat dua target ketika mulai menangani proyek ini enam tahun lalu. Target itu adalah meningkatkan performa sekaligus menekan biaya.

Setelah enam tahun penelitian dan pengembangan, tim disebut berhasil menaikkan performa alat secara signifikan dan stabil. Di saat yang sama, mereka juga membangun rantai pasok dan peralatan produksi untuk menopang pengembangan berikutnya.

Komponen Data Utama Dampak
Magnet superkonduktor Lolos uji teknis dan pengujian beban penuh Masuk tahap akhir pengembangan
Kumparan yang diuji Bobot naik dari 350 ton menjadi 580 ton Mendukung operasi pada tingkat energi lebih tinggi
Biaya bahan superkonduktor Turun dari sekitar 400 yuan menjadi 100 yuan per meter Menekan biaya produksi secara drastis

Penurunan biaya bahan superkonduktor menjadi salah satu hasil yang paling mencolok. Qin menyebut harga yang sebelumnya sekitar 400 yuan per meter kini turun menjadi sekitar 100 yuan per meter.

Skala kumparan yang diuji juga meningkat tajam. Dibanding desain sebelumnya, bobotnya naik dari 350 ton menjadi 580 ton, sementara dimensi dan kapasitas penyimpanan energinya ikut membesar.

Masih ada tahap tersulit sebelum klaim penuh

Qin menegaskan bahwa lolos uji terbaru ini baru mencakup 80 persen dari seluruh perjalanan proyek. Tahap berikutnya adalah memasang kumparan ke dalam perangkat lalu menguji stabilitas jangka panjang dan masa pakainya dalam kondisi operasional yang sangat berat.

Baru setelah tahap itu berhasil dilewati, China dapat mengklaim telah sepenuhnya menguasai teknologi superkonduktor suhu tinggi. Karena itu, target 2030 masih bergantung pada kelanjutan pengujian dan integrasi komponen di lapangan.

EAST sendiri sudah lebih dulu mencatat capaian penting lain. Pada Januari 2025, perangkat itu berhasil mempertahankan suhu plasma 100 juta derajat Celsius selama 1.066 detik dan memecahkan rekor dunia.

Terobosan magnet superkonduktor dianggap sebagai salah satu hambatan paling menantang menuju pembangkit listrik fusi praktis. Upaya ini merupakan hasil penelitian lintas generasi para ilmuwan China sejak 1980-an, dan kini tanda-tanda menuju listrik fusi mulai terlihat semakin jelas.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru