China Makin Sulit Dikejar, Teknologi Energi Bersihnya Kini Menjadi Andalan Dunia

China semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat penting rantai pasokan energi bersih dunia. Di Pameran Rantai Pasokan Internasional China atau CISCE di Beijing, kekuatan itu terlihat dari bagaimana perusahaan, teknologi, dan mitra lintas negara berkumpul dalam satu ekosistem industri yang saling terhubung.

Daya dorong terbesar bukan hanya pada besarnya skala produksi, tetapi juga pada kemampuan menekan biaya sehingga teknologi energi bersih menjadi lebih mudah dijangkau banyak negara. Kombinasi itulah yang membuat transisi hijau global semakin bergantung pada perangkat dan sistem buatan China.

Skala Industri China Menjadi Fondasi Utama

Menurut pejabat senior Administrasi Energi Nasional China, Liang Changxin, negara itu telah membangun sistem energi terbarukan terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Konsumsi energi nonfosil China juga disebut memimpin dunia selama 11 tahun berturut-turut.

Energi terbarukan kini menyumbang lebih dari 60 persen kapasitas daya terpasang di China. Liang juga menambahkan bahwa instalasi tenaga angin dan surya telah melampaui tenaga termal, sementara dua sektor tersebut menyumbang lebih dari setengah penambahan kapasitas baru global.

Angka itu menunjukkan bahwa pengaruh China tidak berhenti di pasar domestik. Dari basis industri yang sangat besar, negara ini memperluas perannya melalui proyek energi hijau dengan lebih dari 100 negara dan kawasan.

Teknologi Murah yang Menekan Biaya Transisi

Di area pameran, perusahaan seperti Shenglong Electric menampilkan bagaimana kecerdasan buatan ikut mengubah cara sistem energi dikelola. Perusahaan swasta yang bergerak di jaringan pintar dan manajemen energi cerdas itu meluncurkan switchgear tegangan rendah generasi baru yang didukung AI.

Shenglong juga memperlihatkan sistem manajemen energi cerdas berbasis replika digital atau digital twin. Menurut insinyur Shenglong, Hu Jia, AI berfungsi sebagai “otak cerdas” di balik peralatan energi bersih untuk memantau distribusi daya, memprediksi kegagalan, mengatur pemeliharaan, dan menghemat energi.

Hu Jia menyebut penerapan tersebut dapat memangkas biaya operasional hingga 60 persen. Sistem manajemen energinya juga diklaim membantu menurunkan konsumsi energi bangunan secara signifikan.

Teknologi Shenglong sudah dipakai di berbagai negara, termasuk pabrik minyak nabati di Brasil, perguruan tinggi putri di Niger, dan pabrik material baru di Indonesia. Cakupan bisnis perusahaan itu kini menjangkau lebih dari 50 negara dan kawasan.

Energi Fosil Juga Dibawa ke Jalur Rendah Karbon

CISCE juga menampilkan perubahan arah di sektor energi tradisional. Salah satu yang mencuri perhatian datang dari China National Offshore Oil Corporation atau CNOOC, yang menghadirkan pajangan silinder menjulang dengan visi masa depan peralatan ekstraksi minyak lepas pantai yang berdampingan harmonis dengan kehidupan laut.

Pajangan itu menegaskan bahwa energi fosil di China kini tidak lagi diposisikan semata sebagai sumber emisi tinggi. Presiden CNOOC Huang Yongzhang mengatakan pembangunan rendah karbon telah menjadi konsensus global, dan perusahaannya berkomitmen bekerja sama dengan mitra internasional di seluruh rantai nilai.

Angin, Surya, dan Penyimpanan Energi Menjangkau Pasar Dunia

Di sisi lain, Ming Yang Smart Energy Group memperlihatkan ekspansi lewat inovasi di bidang energi angin, surya, dan penyimpanan energi. Perusahaan itu memanfaatkan data luas dari ladang angin lepas pantai untuk mengembangkan teknologi turbin angin terapung yang disebut terdepan di dunia.

Ming Yang kini mengoperasikan lebih dari 20.000 turbin angin di seluruh dunia. Perusahaan tersebut juga melihat sambutan kuat di pasar Amerika Selatan, Jepang, dan Vietnam, serta memperdalam kehadirannya di Eropa dan Timur Tengah, termasuk melalui kemitraan terbaru di Arab Saudi.

Di tengah pameran itu, tampak jelas bahwa China tidak lagi hanya menjual perangkat energi. Negara tersebut menawarkan ekosistem lengkap, mulai dari produksi, inovasi, hingga kerja sama lintas negara yang membuat teknologi bersihnya makin sulit dipisahkan dari transisi energi global.

Pandangan itu juga didukung kalangan akademik internasional. Ned Ekins-Daukes dari Universitas New South Wales di Australia menilai teknologi surya fotovoltaik, penyimpanan baterai, dan tenaga angin dulunya terlalu mahal untuk dipertimbangkan serius.

Kini, menurut dia, China telah membangun manufaktur dan rantai pasokan yang sangat efisien sehingga teknologi tersebut mampu menyediakan listrik dengan biaya paling murah. Efisiensi itulah yang membuat perangkat keras energi bersih China semakin diburu negara-negara dengan kebutuhan pembangunan yang berbeda.

Berita Terkait