Chip AI Huawei Tertinggal 5 Kali, Ambisi China Kuasai 90 Persen Ekonomi Terancam

Ambisi China menjadikan kecerdasan buatan sebagai penggerak 90 persen aktivitas ekonomi pada 2030 berhadapan dengan kendala mendasar, yaitu pasokan chip AI canggih. Keterbatasan perangkat keras ini dapat menentukan seberapa cepat model AI dilatih dan dijalankan dalam skala besar.

Analisis Council on Foreign Relations yang dihimpun Kompas Tekno menyebut chip AI terbaik Huawei masih memiliki performa sekitar lima kali lebih rendah dibandingkan chip AI terbaik yang tersedia di Amerika Serikat. Kesenjangan tersebut menempatkan pengembangan semikonduktor domestik sebagai pekerjaan utama Beijing.

Chip Menjadi Titik Kritis

Chip AI kelas atas dibutuhkan untuk memproses pelatihan model dalam kapasitas besar serta menjalankan layanan AI secara luas. Saat ini, teknologi chip canggih masih didominasi perusahaan asal Amerika Serikat.

Sejak 2022, pemerintah AS membatasi ekspor chip AI canggih ke China dalam persaingan teknologi kedua negara. Pembatasan itu mendorong China untuk mempercepat pengembangan industri semikonduktor dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan dari luar.

Namun, pengembangan chip lokal belum sepenuhnya menutup jarak kemampuan dengan produk yang tersedia di Amerika Serikat. Kondisi itu menjadi tantangan langsung bagi target penerapan AI di berbagai lini ekonomi.

Target Besar dalam Rencana Lima Tahun

Pemerintah China memasukkan perluasan penggunaan kecerdasan buatan ke dalam Rencana Lima Tahun ke-15. Peta jalan tersebut juga memuat keinginan China untuk menjadi pemimpin pengembangan AI global dalam lima tahun mendatang.

AI tidak diposisikan hanya sebagai chatbot atau asisten digital. Teknologi ini dirancang menjadi fondasi bagi industri, kegiatan bisnis, dan layanan yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Pemerintah disebut menyiapkan investasi hingga miliaran dollar AS untuk mempercepat sejumlah sektor teknologi prioritas. Bidang-bidang itu memperlihatkan luasnya cakupan penerapan AI yang dibidik China.

Bidang PrioritasArah Pengembangan
Robot humanoidMenjalankan tugas manusia di tempat kerja dan rumah.
Sistem AI dunia kerjaMengotomatisasi berbagai pekerjaan rutin.
Penerbangan rendahMencakup mobil terbang dan pengiriman dengan drone.
Antarmuka otak-komputerMenerjemahkan sinyal saraf menjadi perintah digital.
Industri masa depanMeliputi fusi nuklir, kuantum, antariksa, biomanufaktur, dan jaringan 6G.

AI Masuk ke Pabrik hingga Perangkat Pribadi

Produsen mobil China telah mulai memasang asisten AI dan fitur mengemudi pintar pada kendaraan. Perusahaan teknologi di negara itu juga mengembangkan perangkat wearable yang mengandalkan AI.

Model AI pembuat video dari China turut menimbulkan kekhawatiran di industri film dan Hollywood karena mampu menghasilkan video yang sangat realistis. Sementara itu, robot humanoid diproyeksikan mengambil peran lebih nyata di lingkungan kerja maupun rumah.

China juga memberi perhatian pada antarmuka otak-komputer yang menggunakan AI untuk mengubah sinyal saraf menjadi instruksi digital. Pengembangan teknologi penerbangan rendah, termasuk drone pengiriman dan mobil terbang, masuk dalam agenda yang sama.

Ekosistem Dibangun lewat Model Sumber Terbuka

Selain investasi, China mendorong penyebaran AI melalui model sumber terbuka yang dapat diunduh, digunakan, dan dimodifikasi lebih bebas oleh pengembang. Pendekatan ini berbeda dari banyak model AI terkemuka asal Amerika Serikat yang umumnya tertutup dan berbayar.

Peneliti Brookings Institute, Kyle Chan, menyatakan, “Pendekatan open-source China bertujuan mendorong adopsi dengan memberikan model AI secara gratis, membangun ekosistem perangkat lunak yang lebih luas, lalu menawarkan layanan berbayar untuk integrasi dan dukungan teknis.” Strategi tersebut membuat persaingan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model, melainkan juga oleh kecepatan membangun basis pengguna dan ekosistem perangkat lunak.

Ekosistem yang luas dapat memperbesar pemakaian AI China untuk kebutuhan komersial. Meski demikian, keberhasilan target 2030 tetap sangat bergantung pada kemampuan negara tersebut memperkuat rantai pasok chip AI di dalam negeri.

Berita Terkait