Di saat Steve Jobs sudah meninggal dan Steve Wozniak telah pensiun, Chris Espinosa masih bekerja di Apple. Ia menjadi satu-satunya karyawan yang ikut menyaksikan perjalanan perusahaan itu sejak masa paling awal hingga kini berubah menjadi raksasa teknologi bernilai hampir 4 triliun dollar AS.
Espinosa kini berada di tim tvOS dan tetap menjadi bagian dari perusahaan yang ia kenal sejak Apple masih dirakit di garasi rumah masa kecil Steve Jobs. Selama lima dekade, ia melihat langsung perubahan Apple dari startup kecil menjadi perusahaan dengan lebih dari 2,5 miliar perangkat aktif di seluruh dunia.
Bergabung Saat Masih 14 Tahun
Perjalanan Espinosa dimulai ketika ia bertemu Steve Jobs di Byte Shop, toko komputer tempat Jobs sedang memasang Apple I. Dari pertemuan singkat itu, Jobs merekrut Espinosa yang kala itu baru berusia 14 tahun untuk menulis program dalam bahasa BASIC bagi Apple II.
Tidak lama kemudian, ia juga mengenal Steve Wozniak di Homebrew Computer Club di Menlo Park, California. Meski guru-gurunya di Homestead High School Cupertino sempat mengingatkan agar berhati-hati dengan Jobs dan Wozniak, Espinosa tetap memilih bergabung.
| Tahap | Detail | Keterangan |
|---|---|---|
| Pertemuan awal | Byte Shop | Bertemu Steve Jobs saat Apple I dipasang |
| Rekrutmen | Usia 14 tahun | Diminta menulis program BASIC untuk Apple II |
| Lingkungan awal | Homebrew Computer Club | Mengenal Steve Wozniak di komunitas hobi komputer |
Dari Garasi ke Berkeley
Setelah resmi bergabung, Espinosa bekerja langsung dari garasi rumah Steve Jobs di Los Altos, California. Kantor Apple saat itu masih sangat sederhana, dengan meja kerja seadanya di dalam rumah biasa.
Nomor karyawannya tercatat sebagai nomor 8, yang menjadikannya salah satu karyawan paling muda dalam sejarah Apple. Ia datang setiap Rabu sore setelah sekolah untuk menulis program demo, menguji Integer BASIC untuk Apple II ROM, dan memperagakan Apple II kepada calon pelanggan.
Pada 1978, setelah lulus SMA, Espinosa diterima di University of California, Berkeley. Itu menjadi satu-satunya periode ketika ia berhenti bekerja penuh waktu di Apple, meski tetap berstatus karyawan paruh waktu sambil kuliah.
Selama di Berkeley, ia mendapat proyek dari Apple untuk menulis ulang panduan pengguna Apple II. Hasilnya adalah dokumen teknis setebal 220 halaman yang dibuat dengan sistem UNIX untuk typesetting, lalu menjadi panduan penting bagi pengguna Apple II pada awal 1980-an.
Melihat Apple Hampir Jatuh
Selama bekerja di Apple, Espinosa menyaksikan lahirnya Apple I, Apple II, Macintosh, iMac, iPod, iPhone, iPad, hingga teknologi terbaru perusahaan itu. Ia juga mengalami masa-masa ketika Apple hampir bangkrut, terutama pada era 1990-an sebelum Steve Jobs kembali pada 1997.
Perusahaan itu beberapa kali melakukan PHK massal, dan Espinosa ikut merasakan ketidakpastian yang menyertainya. Menurut penuturannya kepada The New York Times, manajernya pernah mengatakan bahwa ia terhindar dari PHK bukan karena performa, melainkan karena paket pesangonnya terlalu mahal untuk dibayar perusahaan.
Espinosa lalu merangkum sikapnya dengan kalimat, “Saya ada di sini saat kami menyalakan lampu. Saya sekalian saja bertahan sampai kami mematikan lampunya.” Ungkapan itu menggambarkan kenapa ia tetap bertahan di Apple begitu lama meski perusahaan sempat berada di masa sulit.
Tetap Menjadi Penghubung Dua Era
Filosofi itu membuat Espinosa bertahan hingga 50 tahun berikutnya. Kini, ia berdiri sebagai penghubung hidup antara era garasi di Los Altos dan Apple modern yang mencatat keuntungan tahunan lebih dari 100 miliar dollar AS.
Keberadaannya juga menunjukkan betapa panjangnya perjalanan Apple, dari perusahaan kecil yang dirakit tangan ke tangan menjadi salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah teknologi. Di tengah perubahan besar itu, Espinosa tetap berada di dalam perusahaan yang sama sejak remaja.
Source: tekno.kompas.com






