CHUWI UniBook AI langsung menarik perhatian karena membawa kemampuan AI lokal dengan harga awal $499 atau sekitar Rp7,6 juta. Saat masa promo pembukaan, banderolnya turun menjadi $449 atau sekitar Rp6,8 juta, jauh di bawah banyak laptop AI dari Dell, HP, Lenovo, dan ASUS yang umumnya dijual di atas $1.000.
Perbedaan harga itu membuat UniBook AI terlihat agresif di kelasnya, apalagi perangkat ini tidak sekadar mengandalkan embel-embel AI. CHUWI menempatkannya sebagai laptop kerja harian yang tetap serius dalam spesifikasi, port, dan daya tahan baterai.
AI lokal tanpa bergantung cloud
Di sektor pemrosesan, UniBook AI mengandalkan Intel Core 3 304 “Wildcat Lake” yang baru dirilis. Prosesor ini dipadukan dengan Neural Processing Unit terintegrasi untuk menjalankan fungsi AI langsung di perangkat.
NPU tersebut disebut mampu mencapai hingga 15 TOPS dalam format Int8. Angka itu berada di atas ambang minimum Microsoft Copilot+ PC yang 10 TOPS, meski laptop ini tidak memakai label Copilot+.
Dengan pendekatan itu, sejumlah tugas bisa dikerjakan secara lokal, termasuk asisten penulisan cerdas, transkripsi suara real-time, generasi gambar sederhana, serta peningkatan kualitas audio dan video. Jalur pemrosesan lokal juga memberi keuntungan pada privasi dan kecepatan respons karena tidak menunggu jaringan internet.
Port lengkap jadi nilai jual utama
Salah satu pembeda paling kuat dari UniBook AI ada pada kelengkapan konektivitas fisiknya. CHUWI menyertakan 2 port USB-C full-feature, 3 port USB-A, HDMI, Gigabit Ethernet, slot TF card, dan jack audio 3,5 mm.
Gigabit Ethernet jarang ditemukan pada laptop tipis, tetapi fitur itu penting untuk koneksi yang stabil saat bekerja jarak jauh atau saat membutuhkan jaringan yang lebih konsisten. Tiga USB-A juga memudahkan pengguna menghubungkan mouse, flashdisk, dan aksesori lain tanpa dongle tambahan.
Keberadaan dua USB-C memberi fleksibilitas untuk pengisian daya dan docking, sedangkan slot TF card membantu pengguna yang rutin memindahkan file dari kamera atau perangkat penyimpanan lain. Kombinasi ini membuat UniBook AI terasa lebih fungsional dibanding banyak laptop tipis yang hanya mengejar bentuk ramping.
Spesifikasi inti dan layar kerja
CHUWI UniBook AI menjalankan Windows 11 Pro dan dibekali RAM 8GB LPDDR5 6400 MT/s. Penyimpanannya memakai SSD PCIe 3.0 256GB yang masih bisa diperluas.
Layar 14 inci WUXGA 1920×1200 menggunakan panel IPS dengan rasio 16:10, cakupan warna 100% sRGB, dan kecerahan 300 nits. Format ini memberi ruang vertikal yang lebih lega untuk menulis, coding, dan browsing.
Untuk mobilitas, laptop ini membawa baterai 53,38Wh yang diklaim tahan hingga 13 jam untuk video lokal. Pengisian dayanya menggunakan USB-C Power Delivery 65W, sementara bobotnya hanya 1,2 kg dengan dimensi 314,5 × 221 × 16,4 mm.
Desain ramping untuk pengguna harian
UniBook AI memakai bodi logam ramping dan engsel 180 derajat. Bentuk ini membuat layar bisa dibuka datar, yang berguna saat berbagi tampilan dalam rapat kecil, kolaborasi kelas, atau presentasi informal.
CHUWI menempatkan fungsi sebagai prioritas, bukan sekadar tampilan tipis tanpa konektor. Arah itu membuat laptop ini lebih mudah dibayangkan sebagai perangkat harian untuk kerja, belajar, dan aktivitas operasional.
Segmen pengguna yang dibidik
Dengan harga di bawah $500, UniBook AI tampak cocok untuk pelajar, mahasiswa, guru, UMKM, freelancer, dan pengguna rumahan yang ingin mencoba AI lokal dengan biaya rendah. Windows 11 Pro dan port lengkap juga mendukung kebutuhan presentasi serta pekerjaan kantor ringan.
Namun, perangkat ini belum ditujukan untuk gamer berat atau editor video profesional. Grafiknya masih mengandalkan Intel Graphics standar, sehingga kemampuan olah grafisnya tidak setara laptop kelas atas.
CHUWI juga membawa kampanye “AI for Everyone, The Tournament for All” yang memberi diskon pada sejumlah produk lain, termasuk CHUWI CoreBook Air, AuBox X Copilot+ PC, dan Hi10 Max 2-in-1. Di tengah pasar laptop AI yang masih mahal, UniBook AI menjadi salah satu penawaran paling jelas untuk membawa AI lokal ke segmen yang lebih luas.
