Hanya 4,9 persen pasien berisiko kardiovaskular tinggi di Indonesia yang berhasil mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL. Angka ini menandakan pengendalian lipid masih sangat jauh dari optimal pada kelompok pasien yang paling rentan mengalami komplikasi jantung dan pembuluh darah.
Temuan tersebut menjadi alarm penting karena pengelolaan kolesterol jahat tidak bisa lagi dianggap sebagai pelengkap dalam penanganan diabetes melitus tipe 2. Pada pasien dengan risiko berlapis, pengendalian gula darah saja tidak cukup bila lipid tetap berada di atas target yang disarankan.
Target yang belum tercapai
Dalam data yang dipaparkan pada simposium ilmiah Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes, hanya 21,2 persen pasien yang mencapai LDL-C di bawah 70 mg/dL. Sementara itu, sebagian besar lainnya masih berada di atas batas yang dianjurkan untuk pencegahan kejadian kardiovaskular.
Gambaran ini menunjukkan tantangan besar dalam praktik klinis, terutama pada pasien diabetes tipe 2 yang kerap memiliki risiko kardiovaskular berlapis. Kondisi tersebut membuat penurunan LDL-C menjadi salah satu sasaran terapi yang harus dikejar sejak awal.
Dislipidemia sangat sering menyertai diabetes
Data lain dari studi 2025 yang dipublikasikan di Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal menunjukkan dislipidemia ditemukan pada 74 persen dari 100 pasien diabetes tipe 2. Pada kelompok pasien diabetes tipe 2 yang juga memiliki penyakit jantung koroner, angkanya bahkan mencapai 85 persen dari 40 pasien.
Angka itu memperlihatkan bahwa gangguan lipid sangat umum ditemukan pada pasien diabetes dan penyakit jantung koroner. Karena itu, pengelolaan LDL-C perlu ditempatkan sejajar dengan penanganan faktor risiko lain agar pencegahan komplikasi kardiovaskular berjalan lebih efektif.
Pengobatan perlu disesuaikan dengan risiko pasien
Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care menegaskan bahwa pasien diabetes tipe 2 di Indonesia umumnya memiliki banyak faktor risiko kardiovaskular. Ia menyebut penurunan LDL-C sebagai salah satu prioritas terapi penting dalam praktik klinis.
Menurut Sidartawan, strategi terapi harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing pasien. Pendekatan ini dibutuhkan agar target lipid dapat dicapai lebih cepat dan lebih tepat, terutama pada pasien yang memerlukan intensitas terapi lebih tinggi.
| Data | Hasil | Konteks |
|---|---|---|
| Capaian LDL-C di bawah 55 mg/dL | 4,9 persen | Pasien berisiko kardiovaskular tinggi |
| Capaian LDL-C di bawah 70 mg/dL | 21,2 persen | Pasien berisiko kardiovaskular tinggi |
| Dislipidemia pada pasien diabetes tipe 2 | 74 persen dari 100 pasien | Studi 2025 di Surabaya |
| Dislipidemia pada diabetes tipe 2 dengan penyakit jantung koroner | 85 persen dari 40 pasien | Studi 2025 di Surabaya |
Panduan terbaru mendorong penanganan lebih agresif
Simposium itu juga menyoroti panduan internasional terbaru, termasuk ESC/EAS 2025 Focused Update dan ACC/AHA Guideline 2026. Keduanya mendukung penurunan LDL-C yang lebih intensif, pemberian terapi penurun lipid berbasis bukti sejak dini, dan pencapaian target secara lebih cepat.
Sidartawan mengatakan semakin rendah kadar LDL-C dicapai sejak dini dan dipertahankan lebih lama, semakin besar potensi penurunan risiko kardiovaskular sepanjang hidup pasien. Pandangan ini memperkuat perlunya tindakan lebih awal pada kelompok berisiko tinggi.
Terapi kombinasi menjadi opsi bagi pasien sulit mencapai target
Prof. Da Hea Seo dari Division of Endocrinology, Inha University Hospital, Korea Selatan, menilai pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes tipe 2 memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Ia menyebut pasien yang sulit mencapai target dengan monoterapi dapat menjadi kandidat untuk terapi kombinasi.
Da Hea Seo menjelaskan bahwa terapi kombinasi dapat menargetkan sintesis dan absorpsi kolesterol secara bersamaan. Dalam simposium itu, Daewoong memperkenalkan terapi kombinasi ezetimibe/rosuvastatin sebagai salah satu pilihan yang bekerja pada dua jalur tersebut, yaitu sintesis kolesterol di hati dan absorpsi kolesterol di usus.
Kolaborasi dan riset klinis terus didorong
CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menyatakan perusahaan akan terus mengembangkan kolaborasi dengan komunitas medis di Indonesia. Ia menegaskan upaya itu tidak hanya berfokus pada penyediaan obat, tetapi juga pada solusi terapi yang dibutuhkan pasien penyakit kronis di Indonesia.
Daewoong juga berencana mendorong penelitian bersama berbasis data klinis pasien di Indonesia. Langkah ini ditujukan untuk membangun bukti klinis yang lebih relevan bagi pasien Asia sekaligus memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara tenaga medis Indonesia dan Korea Selatan.
Rendahnya capaian LDL-C pada pasien berisiko tinggi menunjukkan bahwa pengelolaan lipid masih menjadi tantangan nyata dalam layanan kesehatan di Indonesia. Data yang dibahas dalam simposium PERKENI 2026 menegaskan perlunya pendekatan yang lebih intensif agar target LDL-C bisa tercapai lebih banyak pada pasien diabetes tipe 2 dan kelompok berisiko kardiovaskular lainnya.
Source: www.suara.com






