Daftar Diesel Yang Paling Siap Menyambut B50, Dari Innova Hingga Pajero Sport

Mulai 1 Juli mendatang, B50 disiapkan masuk sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan diesel di Indonesia. Artinya, solar yang digunakan akan terdiri dari 50 persen bahan bakar nabati berbasis FAME dari minyak sawit dan 50 persen solar fosil.

Bagi pemilik mobil diesel, kabar yang paling penting bukan hanya soal jadwal penerapan, tetapi juga soal kecocokan mesin. Sejumlah model disebut sudah siap memakai B50, sementara sebagian lain masih mungkin memerlukan penyesuaian teknis sebelum bisa digunakan secara rutin.

Di daftar kendaraan yang dinilai cocok, Toyota Kijang Innova Diesel menjadi salah satu model yang paling disorot. Mobil ini disebut sebagai kendaraan uji utama dan berhasil menempuh perjalanan jarak jauh dengan B50.

Toyota Fortuner juga masuk kelompok yang dinyatakan kompatibel. SUV diesel ini berada dalam daftar kendaraan Toyota yang dinilai mendukung penggunaan campuran baru tersebut.

Selain itu, Toyota Hiace ikut disebut sebagai kendaraan yang bisa memakai B50. Model yang biasa dipakai untuk angkutan penumpang ini tercantum di antara kendaraan diesel yang dianggap siap.

Lini kendaraan niaga Toyota juga masuk perhatian, termasuk Hilux Diesel dan Hilux Rangga. Keduanya disebut memiliki mesin yang mendukung penggunaan biodiesel B50.

Di luar Toyota, Mitsubishi Pajero Sport muncul sebagai salah satu model yang berpotensi menggunakan B50. SUV diesel ini menjadi sorotan karena ikut masuk jajaran kendaraan yang disebut siap menyambut bahan bakar baru tersebut.

Sementara itu, beberapa model lain tidak ditempatkan dalam kelompok yang sama persis. Referensi menyebut kendaraan seperti Isuzu Panther, Suzuki Ertiga Diesel, KIA Grand Sedona, Hyundai Santa Fe, dan Renault Duster biasanya bisa memakai B50, tetapi kemungkinan tetap ada penyesuaian pada sistem atau kebutuhan teknis tertentu.

Catatan itu penting terutama bagi pemilik kendaraan yang lebih lama atau model yang belum masuk daftar uji utama. Dalam penerapan B50, kecocokan mesin diesel tetap menjadi faktor utama sebelum bahan bakar ini dipakai secara berkala.

Penerapan B50 sendiri tidak dibatasi hanya pada mobil penumpang. Bahan bakar ini juga diarahkan untuk kendaraan niaga dan alat berat bermesin diesel, termasuk truk, tractor, bulldozer, dan excavator.

Cakupan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan B50 dirancang untuk mendukung lebih banyak sektor sekaligus. Jadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna mobil harian, tetapi juga oleh dunia logistik dan alat kerja berat.

Dari sisi kebijakan energi, B50 diposisikan sebagai kelanjutan dari program biodiesel setelah B40. Pemerintah melihat langkah ini sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada impor solar sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa impor solar akan dihentikan saat B50 mulai berjalan. Ia menegaskan, “Solar kita tidak impor lagi. Tahun 2026, pada 1 Juli 2026 kita stop, B50 masuk.”

Pernyataan serupa datang dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan program B50 tetap dilanjutkan meski harga minyak dunia turun di bawah USD 100 per barel.

Pemerintah juga menempatkan B50 sebagai bagian dari mitigasi risiko geopolitik. Dengan begitu, pasokan energi diharapkan tidak terlalu bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah.

Keberhasilan penerapan B50 tetap bergantung pada pasokan bahan baku dan pembiayaan dari industri sawit. Stok sawit domestik disebut menjadi salah satu faktor penting agar implementasinya berjalan sesuai rencana.

Bahan baku biodiesel B50 umumnya berasal dari CPO dan limbah minyak goreng. Prosesnya meliputi pengumpulan feedstock, pretreatment, transesterifikasi untuk FAME atau hydrotreatment untuk HVO, lalu pemurnian dan blending dengan diesel mineral hingga mencapai kadar B50.

Dari sisi dampak, pemerintah menargetkan penggunaan B50 bisa menekan konsumsi solar fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun. Kebijakan ini juga disebut berpotensi menghemat fiskal Rp48 triliun pada paruh kedua 2026.

Dengan skema tersebut, kendaraan diesel yang sudah diuji atau dinilai kompatibel menjadi kelompok paling siap menghadapi transisi bahan bakar baru ini. Sementara itu, kendaraan yang belum masuk daftar utama tetap perlu memastikan kecocokan mesin dan kemungkinan penyesuaian sebelum digunakan secara rutin dengan B50.

Source: www.suara.com

Berita Terkait