Jika wacana pembatasan Pertalite benar diterapkan mulai 1 Juni 2026, daftar mobil yang terdampak tidak hanya mengarah ke kendaraan besar. Segmen 1.500 cc justru menjadi sorotan utama karena populasinya sangat banyak dan dipakai luas untuk kebutuhan harian.
Paling banyak disebut dalam pembahasan ini adalah mobil keluarga atau MPV. Model seperti Toyota Avanza varian 1.5, Toyota Veloz, Mitsubishi Xpander, Mitsubishi Xpander Cross, Hyundai Stargazer, Suzuki Ertiga Hybrid, dan Suzuki XL7 Hybrid masuk dalam kelompok yang berpotensi terkena dampak.
Sorotan ke MPV tidak lepas dari posisinya di pasar Indonesia. Mobil-mobil ini kerap dipakai untuk perjalanan rumah tangga, aktivitas rutin, dan mobilitas sehari-hari, sehingga perubahan aturan BBM subsidi akan langsung terasa di kantong banyak pengguna.
Bukan hanya MPV, deretan SUV bermesin di atas 1.400 cc juga ikut disebut dalam pembahasan. Toyota Rush, Daihatsu Terios, Honda BR-V, Honda HR-V 1.5, Hyundai Creta, Chery Omoda 5, Wuling Almaz RS, Toyota Kijang Innova Zenix bensin, Honda CR-V Turbo, dan Toyota Fortuner bensin termasuk nama-nama yang muncul.
Masuknya SUV populer membuat isu ini meluas ke lebih banyak segmen. Artinya, wacana pembatasan tidak hanya menyentuh mobil murah atau mobil menengah, tetapi juga kendaraan yang berada di kelas harga lebih tinggi.
Di kelompok sedan, beberapa model juga ikut terseret dalam daftar yang disebut berpotensi terdampak. Honda Civic RS, Mazda 3, dan Toyota Camry termasuk di antaranya, terutama karena karakter mesinnya yang lebih besar dan performanya yang lebih tinggi.
Mobil di kelas sedan dan premium memang sejak lama lebih cocok memakai BBM beroktan tinggi. Karena itu, sebagian model di segmen ini sebenarnya sudah lebih dekat dengan penggunaan BBM non-subsidi dibandingkan Pertalite.
Di balik ramainya pembahasan itu, tujuan kebijakan ini dikaitkan dengan upaya agar subsidi energi lebih tepat sasaran. Selain itu, pembatasan juga disebut berkaitan dengan dorongan untuk menekan beban anggaran negara.
Pengawasan di lapangan diperkirakan akan memanfaatkan digitalisasi melalui MyPertamina dan identifikasi kendaraan di SPBU. Sistem tersebut dinilai dapat membantu memilah kendaraan yang berhak dan yang tidak berhak membeli BBM subsidi.
Meski begitu, status aturan ini belum final. Hingga kini, belum ada kepastian resmi dari pihak berwenang soal larangan Pertalite untuk mobil di atas 1.400 cc mulai Juni 2026.
Penting juga dicatat bahwa pembatasan BBM subsidi yang sebelumnya pernah dibahas pemerintah lebih banyak dikaitkan dengan kuota pembelian harian. Skema itu berbeda dengan pembatasan berdasarkan kapasitas mesin kendaraan, sehingga wacana yang beredar sekarang memunculkan perdebatan baru di publik.
