Gejala hantavirus sering menipu karena pada awalnya terlihat seperti flu biasa. Padahal, infeksi ini dapat berkembang cepat dan berujung fatal bila tidak dikenali sejak dini.
Perhatian terhadap hantavirus kembali menguat setelah tiga kematian terjadi di sebuah kapal pesiar. Kasus itu membuat banyak orang menyadari bahwa ancaman virus ini tidak hanya muncul di area pedesaan, tetapi juga bisa muncul di ruang tertutup dengan ventilasi bersama.
Penularan hantavirus terutama berkaitan dengan rodensia. Centers for Disease Control and Prevention menjelaskan bahwa virus ini berasal dari hewan pengerat dan dapat menimbulkan penyakit berat di berbagai wilayah dunia.
Jalur penularannya juga tidak sama dengan flu. American Lung Association menyebutkan bahwa seseorang dapat terpapar saat menghirup partikel dari kotoran tikus yang mengering, menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah, atau lebih jarang melalui gigitan tikus.
Dalam situasi tertentu, risiko bisa meningkat bila ada infestasi hewan pengerat di area yang jarang terlihat, seperti ruang penyimpanan atau jalur teknis. Kotoran maupun urine tikus yang kering dapat berubah menjadi partikel halus di udara, lalu terhirup oleh orang yang berada di sekitarnya.
Karena itu, sanitasi di fasilitas transportasi dan pariwisata menjadi sangat penting. Area dengan ventilasi bersama dan ruang tertutup perlu dijaga agar paparan material dari tikus tidak terjadi tanpa disadari.
Gejala awal yang sering disalahartikan
Keluhan hantavirus biasanya tidak langsung dikenali karena mirip infeksi saluran napas biasa. Masa inkubasinya umumnya berlangsung satu hingga delapan minggu setelah paparan, lalu gejala awal muncul bertahap.
Tanda yang sering muncul meliputi demam tinggi, menggigil, nyeri otot berat terutama di punggung, pinggul, dan paha, kelelahan, sakit kepala, serta pusing. Pada sebagian pasien, mual, muntah, dan diare juga dapat muncul sejak fase awal.
Setelah 4–10 hari, kondisi bisa memburuk menjadi sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pada tahap ini, pasien memerlukan pertolongan darurat karena risiko gagal napas meningkat tajam.
Mengapa perlu diwaspadai
Hantavirus tidak boleh dipandang ringan karena tingkat keparahannya tinggi. Pada hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, angka kematian dilaporkan sekitar 38 persen.
Penyakit ini juga memiliki sebaran yang luas. National Institutes of Health memperkirakan ada sekitar 150.000 kasus hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS setiap tahun di seluruh dunia, terutama di Asia dan Eropa.
Tiongkok menyumbang lebih dari 50 persen total kasus global. Di Amerika Serikat, pemantauan sejak 1993 hingga 2023 mencatat 890 kasus, yang menunjukkan bahwa ancamannya tetap nyata di berbagai kawasan.
Nama hantavirus sendiri berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Virus ini pertama kali diisolasi oleh Ho Wang Lee pada 1978 setelah banyak tentara jatuh sakit selama Perang Korea.
Keberadaan strain seperti Seoul virus juga menjadi perhatian. Virus ini dibawa tikus Norwegia atau tikus cokelat dan tersebar secara global, termasuk di kawasan padat penduduk.
Penanganan dan pencegahan
World Health Organization menekankan pentingnya deteksi dini dan perawatan intensif. Hingga kini belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus.
Pasien biasanya dirawat di unit perawatan intensif dengan dukungan oksigen atau ventilasi bila gangguan napas memburuk. Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central juga menunjukkan bahwa penanganan yang lebih awal dapat meningkatkan peluang pemulihan.
Pencegahan berfokus pada meminimalkan kontak dengan hewan pengerat. Langkah yang disarankan antara lain membersihkan area terkontaminasi dengan aman tanpa menyapu kotoran tikus kering, menutup celah masuk tikus ke bangunan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, dan membersihkan filter udara secara rutin di fasilitas umum.
WHO juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan urbanisasi dapat memperbesar interaksi manusia dengan hewan pengerat. Karena itu, kewaspadaan terhadap hantavirus tetap relevan di pedesaan, perkotaan, dan fasilitas publik dengan sanitasi yang kurang ketat.
Source: www.beritasatu.com






