Dari PHK ke Pasar Dunia, Dara Baro Ubah Sisa Kain Jadi Fesyen Bernilai Tinggi

Dara Baro kini tidak hanya dikenal sebagai brand fesyen wastra, tetapi juga sebagai contoh bagaimana limbah produksi bisa diubah menjadi produk bernilai jual tinggi. Sejak 2022, sisa kain dari koleksi ready to wear berbasis wastra diolah kembali agar tidak terbuang percuma.

Langkah itu membuat sisa bahan yang dulu menumpuk di gudang berubah menjadi sumber ide baru. Dari potongan kain kecil, Dara Baro kemudian memproduksi masker, pouch, dan selop, lalu mengembangkannya lagi menjadi baju, rok, celana, kemeja, hingga outer.

Berawal dari PHK dan modal terbatas

Perjalanan merek ini berangkat dari kondisi yang tidak mudah. Dimita Agustin membangun Dara Baro setelah terkena PHK pada 1998, lalu memulai usaha dengan modal sekitar Rp600 ribu.

Pada masa awal, ia juga membantu usaha ibunya yang perajin rotan di Palembang sebelum pindah ke Jakarta. Dari situ, ia mulai mencoba membuat karya berbasis kain ketika belum memiliki pekerjaan tetap.

Produk pertama yang dibuat bukan pakaian, melainkan sarung bantal dari kain batik. Barang itu dijual ke teman, ternyata laku, lalu modalnya diputar kembali untuk produksi berikutnya.

Dari produk rumah tangga ke busana wastra

Awalnya Dara Baro fokus pada produk rumah tangga berbahan batik seperti sarung bantal dan dekorasi interior. Namun, permintaan pasar mengubah arah bisnis karena banyak pelanggan mulai menanyakan kapan baju dan rok akan dibuat.

Dari respons itu, Dimita mulai membuat kebaya sederhana lalu berkembang ke koleksi pakaian wanita berbasis wastra Indonesia. Sejak 2005, ia semakin serius menekuni busana dan aktif mengikuti pameran besar seperti Gelar Batik dan Kriyanusa.

Dara Baro tidak hanya memakai batik. Brand ini juga mengolah jumputan, tenun, hingga shibori, dengan bahan kain dari berbagai daerah seperti Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Garut, Palembang, dan Makassar.

Wastra, pelatihan, dan makna nama brand

Dimita menyebut wastra sebagai kain-kain dari seluruh Indonesia, sedangkan batik hanya salah satu bagiannya. Untuk menjaga kualitas dan memperkaya teknik, ia terus belajar lewat kursus dan pelatihan di Balai Besar Batik Yogyakarta serta Balai Tekstil Jakarta.

Nama Dara Baro sendiri diambil dari bahasa Aceh yang berarti calon pengantin perempuan. Pilihan itu punya makna personal karena usaha ini dirintis saat Dimita berada di fase hidup yang juga dekat dengan makna nama tersebut.

Limbah kain jadi desain dengan teknik Boro

Perubahan besar berikutnya terjadi saat Dara Baro masuk lebih serius ke konsep fesyen berkelanjutan. Potongan kain yang selama ini hanya disimpan mulai dipilah, lalu dicari cara agar tetap punya nilai ekonomi.

Proses itu turut memanfaatkan teknik jahit tradisional Jepang bernama Boro. Metode tersebut memakai lapisan kain kecil atau kain bekas yang dijahit ulang dengan tusuk tangan yang sengaja terlihat sebagai bagian dari estetika produk.

Konsep ini membuat desain Dara Baro memiliki ciri yang kuat. Salah satu pelanggan, Afifah Zahwah, menilai koleksinya kreatif, unik, eksklusif, dan tidak pasaran, sekaligus menonjolkan sentuhan sustainable fashion melalui teknik patchwork.

Harga, perajin, dan jangkauan pasar

Dengan pendekatan itu, Dara Baro menawarkan produk fesyen yang rentang harganya cukup lebar, mulai dari Rp475 ribu hingga sekitar Rp5 juta per item. Harga bergantung pada jenis produk dan tingkat kerumitan pengerjaannya.

Di balik produksi, Dara Baro melibatkan lebih dari 10 perajin dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Solo, Cirebon, Garut, Bogor, Palembang, hingga sejumlah perajin tenun di Pulau Jawa. Dalam satu transaksi, Dara Baro biasanya membeli minimal 20 lembar kain dari tiap perajin.

Nilai pembelian dari satu perajin rata-rata mencapai Rp5 juta, dan jika dihitung dengan sekitar tujuh perajin utama, nilainya bisa mencapai sekitar Rp35 juta per periode. Kemitraan ini memberi kepastian pasar bagi para perajin sekaligus menjaga pasokan kain tetap tersedia untuk produksi.

Pasar Dara Baro juga sudah menembus sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rumania, Belanda, Prancis, Turki, Jepang, dan Korea Selatan. Salah satu momen penting terjadi saat Dimita diundang ASEAN–Korea Centre untuk mengikuti pameran B2B di Seoul pada 2011.

Menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas

Di tengah ekspansi itu, Dara Baro tetap menghadapi tekanan biaya bahan baku. Dimita menjelaskan bahwa kain mori sebagai bahan dasar batik dan jumputan umumnya masih bergantung pada impor dari Tiongkok sebelum diolah para perajin.

Ia juga menyebut kenaikan harga bisa mencapai sekitar 10% ketika dolar naik, dan dampaknya tidak hanya pada kain, tetapi juga pada benang, kancing, logistik, hingga packaging. Karena itu, Dara Baro memilih efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.

Strateginya meliputi penghematan listrik, penggunaan ulang material sisa, serta pemanfaatan tas dan kantong belanja yang sudah ada. Saat ini, produksi banyak bergantung pada stok bahan yang tersedia, sehingga karya baru dibuat ketika sisa kain kembali terkumpul.

Dalam perjalanan usahanya, Dara Baro juga ikut dalam UMKM EXPO(RT) BRILianpreneur 2023. Ajang itu memperluas akses pasar dan membuka pertemuan dengan buyer dari mancanegara, sekaligus menegaskan posisi Dara Baro sebagai pelaku fesyen wastra yang terus naik kelas lewat inovasi dan kolaborasi.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait