Dari Air Minum Hingga Kapal Selam, Nuklir Punya Tiga Peran Besar di Luar Listrik

Author: Redaksi Android62

Selama ini nuklir kerap dibicarakan seolah hanya soal pembangkit listrik. Padahal, panas yang dihasilkannya bisa diarahkan ke kebutuhan lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari air minum, kapal laut, sampai bahan bakar bersih untuk industri.

Daya tariknya sederhana: reaktor listrik hanya mengubah sekitar sepertiga energi nuklir menjadi listrik. Artinya, dua pertiga sisanya masih menyimpan peluang pemanfaatan yang besar jika diarahkan ke sektor lain yang butuh panas tinggi.

Air laut yang diubah jadi air minum

Salah satu penggunaan yang paling terasa manfaatnya ada pada desalinasi air laut. Ini penting karena UNICEF menyebut sekitar dua pertiga populasi dunia menghadapi kelangkaan air setidaknya selama satu bulan penuh setiap tahun, dan tekanan itu makin berat akibat perubahan iklim.

Masalahnya, lebih dari 97 persen air di Bumi memang asin dan tersimpan di samudra. Untuk menjadikannya layak minum, air laut harus melalui filtrasi dan distilasi yang sama-sama membutuhkan energi besar.

Di titik inilah nuklir punya peran menarik. Panas berlebih dari pembangkit nuklir dapat dialihkan ke fasilitas desalinasi, sehingga prosesnya bisa berjalan dengan emisi yang lebih rendah dan mengurangi pemborosan energi.

Saat ini, sebagian besar pabrik desalinasi masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk memasok daya. India sudah memakai pembangkit desalinasi berbasis nuklir, dan pendekatan serupa dinilai berpotensi diterapkan di Amerika Serikat.

Kapal yang bisa berlayar sangat lama

Penerapan berikutnya ada di laut lepas, terutama untuk kapal militer. Nuklir sudah lama digunakan untuk menggerakkan kapal selam dan kapal induk karena bahan bakar fosil terlalu cepat habis jika kapal harus bertugas dalam waktu lama.

Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi pelopor lewat USS Nautilus, kapal selam bertenaga nuklir pertama di dunia, pada 1955. Kapal itu juga tercatat sebagai kapal selam pertama yang melintasi bawah Kutub Utara.

Sejak saat itu, seluruh kapal selam Angkatan Laut AS dan seluruh kapal induknya memakai tenaga nuklir. Keunggulan utamanya terletak pada daya tahan operasi yang sangat panjang, karena kapal selam dan kapal induk bertenaga nuklir dapat beroperasi hingga 20 tahun tanpa perlu pengisian bahan bakar.

Mereka membawa reaktor kecil di dalam kapal untuk memecah atom dan menghasilkan panas bagi turbin uap. Reaktor itu dilindungi ketat agar awak tetap aman dari radiasi, dan penggunaannya berada di bawah regulasi yang sangat ketat.

Keberhasilan di sektor ini juga mendorong minat untuk menerapkan nuklir pada moda transportasi lain. Salah satu contohnya adalah proposal NASA untuk perjalanan ke Mars.

Hidrogen bersih untuk kebutuhan industri

Peluang ketiga datang dari produksi hidrogen. Bahan ini sering dipandang sebagai energi bersih karena limbah akhirnya hanya air, tetapi metode yang paling umum dipakai saat ini justru menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar.

Metode yang paling banyak digunakan adalah steam-methane reforming, yaitu menggabungkan metana dari gas alam dengan uap superpanas sekitar 1.300 derajat Fahrenheit. Proses ini menyumbang sekitar 830 juta metrik ton CO2 per tahun, setara dengan emisi seluruh Iran pada 2024 menurut World Population Review.

Nuklir dapat membantu membuat proses itu lebih bersih. Panas dari pembangkit nuklir bisa mendukung steam-methane reforming sehingga ketergantungan pada bahan bakar fosil berkurang.

Ada juga jalur yang masih diteliti dan dinilai lebih menjanjikan, yaitu membuat hidrogen langsung dari air dengan panas nuklir. Proses ini membutuhkan suhu sangat tinggi, hingga 1.000 derajat Celsius atau 1.832 derajat Fahrenheit, untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Jika cara ini berhasil dikembangkan, limbah yang tersisa hanya air residu. Dengan permintaan hidrogen global yang terus meningkat, jalur tersebut berpotensi menjadi salah satu pemakaian paling penting dari energi nuklir di luar listrik.

Berita Terbaru