Bagi NASA, benda yang dibawa ke luar angkasa tidak selalu berbentuk instrumen rumit atau peralatan ilmiah murni. Ada kalanya yang ikut terbang justru mainan, properti film, hingga aksesori yang kemudian punya makna lebih besar daripada sekadar benda bawaan biasa.
Kehadiran objek-objek itu menunjukkan bahwa misi antariksa juga bisa menjadi ruang untuk edukasi, penanda teknis, dan jembatan budaya populer. Dari dinosaurus kecil sampai jam tangan yang berstatus legendaris, setiap benda punya fungsi dan cerita yang membuatnya terasa tidak lazim di tengah dunia yang sangat teknis.
Jam tangan yang berubah jadi bagian sejarah antariksa
Salah satu benda paling dikenal adalah Omega Speedmaster, jam tangan yang dipakai dalam berbagai misi era Apollo dan mendapat julukan Moonwatch. Sebelum dipercaya masuk ke misi, jam ini menjalani pengujian ekstrem dari NASA.
Pengujiannya mencakup suhu panas dan dingin yang ekstrem, tekanan tinggi, getaran saat peluncuran roket, serta kondisi vakum luar angkasa. Di orbit, jam ini bukan hanya aksesori, tetapi juga cadangan jika sistem elektronik utama rusak agar astronaut tetap memiliki alat penunjuk waktu yang akurat untuk prosedur keselamatan dan navigasi.
Mainan kecil yang memberi tanda penting
Benda lain yang terlihat lucu justru punya peran teknis yang jelas, yaitu boneka dinosaurus kecil. Mainan itu digunakan sebagai penanda nol gravitasi atau zero gravity indicator ketika wahana memasuki fase mikrogravitasi.
Saat roket mencapai orbit, boneka tersebut akan melayang bebas di dalam kabin. Dari situ, astronaut dan penonton di Bumi bisa langsung tahu bahwa kondisi nol gravitasi sudah tercapai.
Lego sampai Buzz Lightyear ikut membantu edukasi
NASA juga pernah memakai Lego sebagai media pembelajaran di luar angkasa. Balok-balok mainan itu dimanfaatkan untuk menjelaskan konsep fisika dan teknik dalam kondisi mikrogravitasi kepada pelajar.
Di lingkungan tanpa gravitasi, Lego bisa memperlihatkan perbedaan gaya, gerakan, dan struktur dibandingkan di Bumi. Astronaut juga memakainya untuk mendemonstrasikan momentum, keseimbangan, dan konstruksi sederhana.
Selain itu, ada Buzz Lightyear dari Toy Story yang pernah dikirim ke luar angkasa dan tinggal selama berbulan-bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS. Figur itu menjadi bagian dari program edukasi untuk mengenalkan kehidupan astronaut kepada anak-anak.
Selama berada di orbit, Buzz Lightyear kerap muncul dalam video edukasi NASA. Melalui karakter ini, aktivitas sehari-hari astronaut seperti tidur, makan, dan bekerja dalam kondisi tanpa gravitasi bisa dijelaskan dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Lightsaber yang menarik perhatian publik
Di antara semua benda unik itu, lightsaber Star Wars menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Pada 2007, NASA menerbangkan lightsaber asli dari film Star Wars dengan pesawat ulang-alik Discovery.
Properti milik Luke Skywalker tersebut dibawa sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-30 franchise Star Wars. Sebelum masuk wahana antariksa, lightsaber itu sempat dipamerkan dalam seremoni khusus.
Momen ini menarik perhatian penggemar, ilmuwan, dan media internasional karena mempertemukan budaya pop dengan eksplorasi ruang angkasa. Dari situ terlihat bahwa benda yang tampak absurd di awal justru bisa membawa pesan yang dekat dengan publik.
Kombinasi mainan dinosaurus, Lego, tokoh kartun, properti film, dan jam tangan antariksa memperlihatkan bahwa NASA tidak selalu membangun komunikasi dengan pendekatan yang kaku. Dalam beberapa misi, humor, nostalgia, dan budaya populer justru dipakai untuk membuat sains terasa lebih dekat dan lebih mudah diterima masyarakat.
