Modal paling rendah untuk masuk ke usaha berbahan ikan sapu-sapu ada di kisaran Rp500 ribu, dan peluangnya tidak hanya satu. Dari satu bahan baku yang selama ini dianggap hama perairan, muncul berbagai produk yang bisa menyasar peternak, petani, pemilik hewan peliharaan, hingga kebutuhan rumah tangga.
Nilai ekonominya terbentuk karena ikan ini mudah ditemukan dalam jumlah melimpah. Kondisi itu membuat pengolahannya relatif fleksibel, mulai dari pakan, pupuk, media budidaya, sampai produk turunan untuk kebersihan dan perawatan hewan.
Peluang termurah ada di pengolahan sederhana
Salah satu jalur yang paling mudah dimulai adalah membuat pupuk organik cair dari ikan sapu-sapu. Bahan baku dicacah, dicampur air dan bahan fermentasi seperti gula merah, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama 7 hingga 14 hari.
Produk ini biasanya dikemas dalam botol 250 ml sampai 1 liter. Modal awalnya sekitar Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta, dengan harga jual Rp10.000 hingga Rp25.000 per botol dan margin bersih sekitar 40 persen.
Masih dengan modal yang relatif ringan, ikan sapu-sapu juga bisa dijadikan bahan pakan lalat BSF. Ikan dicacah lalu dicampur bersama limbah organik lain sebagai media tumbuh larva, kemudian dijual ke peternak BSF sebagai bahan mentah atau paket siap pakai.
Untuk usaha ini, modal awalnya berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta. Harga jual bahan sekitar Rp3.000 hingga Rp6.000 per kg, dan omzet bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta jika penjualan menyentuh 500 kg per bulan.
Masuk ke pasar peternakan dengan produk olahan
Di sektor peternakan, ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi pelet pakan ternak. Prosesnya dimulai dari pembersihan ikan, perebusan, pengeringan, penggilingan, lalu pencampuran dengan bahan lain seperti dedak sebelum dicetak menjadi pelet.
Produk pelet ini bisa dikemas dalam plastik tebal dengan berbagai ukuran. Pasarnya mengarah ke peternak ayam, bebek, dan ikan, serta bisa dipromosikan lewat media sosial dan komunitas peternak setempat.
Pilihan lain yang masih menyasar peternak adalah tepung ikan. Referensi menyebut modal awal usaha ini berkisar Rp2 juta hingga Rp5 juta, dengan harga jual sekitar Rp8.000 hingga Rp12.000 per kg.
Jika produksi mencapai 200 kg per bulan, omzetnya bisa berada di kisaran Rp1,6 juta hingga Rp2,4 juta. Margin bersihnya disebut sekitar 25 persen setelah biaya produksi dihitung.
Masih di jalur yang sama, ikan sapu-sapu juga bisa difermentasi menjadi suplemen ternak lele. Produk ini dijual dalam botol dan dipasarkan kepada peternak lele melalui komunitas budidaya dan toko pakan.
Liputan6 mencatat modal awal usaha ini sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Dengan harga jual Rp15.000 per botol dan target penjualan 150 botol per bulan, omzetnya dapat mencapai Rp2,25 juta dengan margin sekitar 35 persen.
Buka jalan untuk pertanian, budidaya, dan pasar filter kolam
Selain untuk pakan, ikan sapu-sapu juga punya ruang di sektor pertanian melalui pembuatan pupuk organik cair. Pasarnya jelas, karena produk cair seperti ini mudah dipakai pada kebutuhan tanaman rumahan maupun lahan kecil.
Ada pula peluang sebagai bahan pakan lalat BSF yang dikerjakan di skala kecil. Jalur ini menarik karena memanfaatkan limbah organik sekaligus memberi nilai tambah pada ikan yang sebelumnya tidak dilirik sebagai komoditas.
Untuk pelaku budidaya ikan, ikan sapu-sapu juga bisa diolah menjadi media filter biologis untuk kolam. Bagian tubuh ikan dibersihkan dan dikeringkan hingga bisa dipakai sebagai tempat tumbuh mikroorganisme penunjang kualitas air.
Modal usaha ini disebut sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Harga jual per paket berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp50.000, dengan potensi omzet Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan bila terjual 100 paket.
Produk rumah tangga hingga hewan peliharaan juga terbuka
Di luar sektor budidaya, ikan sapu-sapu yang difermentasi bisa menjadi cairan enzim pembersih. Produk ini dipasarkan untuk kebutuhan rumah tangga seperti pembersih lantai, kamar mandi, dan saluran air.
Modal awalnya berkisar Rp800 ribu hingga Rp2 juta. Dengan harga jual Rp10.000 hingga Rp20.000 per botol dan penjualan 200 botol per bulan, omzetnya dapat mencapai Rp2 juta hingga Rp4 juta.
Ada juga peluang membuat minyak ikan untuk hewan peliharaan. Minyak diambil dari pemanasan daging ikan yang sudah dibersihkan, lalu disaring dan disimpan dalam botol tertutup.
Pasarnya menyasar pemilik kucing dan anjing, serta toko perlengkapan hewan. Modal awal usaha ini sekitar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta, dengan harga jual Rp20.000 hingga Rp35.000 per botol dan margin sekitar 30 persen.
Peluang lain yang masih terhitung unik
Ikan sapu-sapu hidup juga bisa dijual sebagai ikan pembersih akuarium. Penjual cukup memilah ukuran ikan, menyiapkan wadah penampungan dengan sirkulasi air, lalu mengemasnya dalam kantong plastik berisi air dan oksigen.
Usaha ini tergolong murah untuk dimulai karena modalnya sekitar Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta. Harga jualnya Rp2.000 hingga Rp5.000 per ekor, dan omzet bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp5 juta jika 1.000 ekor terjual dalam sebulan.
Dari sisi olahan lanjutan, ada pula sabun protein kulit yang memanfaatkan ikan sapu-sapu melalui ekstraksi protein sebelum dicampurkan ke bahan dasar sabun. Modal awalnya sekitar Rp2 juta hingga Rp4 juta, dengan harga jual Rp10.000 hingga Rp20.000 per unit dan potensi omzet Rp3 juta hingga Rp6 juta bila terjual 300 unit per bulan.
Masih ada satu opsi lain berupa tepung halus untuk industri kosmetik. Produk ini membutuhkan proses pengeringan lebih lama dan penggilingan sangat halus sebelum dipasarkan ke pelaku usaha kosmetik rumahan, dengan modal awal sekitar Rp2 juta hingga Rp4 juta serta harga jual Rp15.000 hingga Rp30.000 per kg.
