Dari Kelas, Siswa SMA Merancang AI Untuk Public Speaking Dan Deteksi Bullying

Author: Redaksi Android62

Karya paling menonjol di ajang ITECH Competition Season 9 datang dari ide-ide yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Dari sekian banyak tim, dua gagasan yang paling menyita perhatian justru lahir dari persoalan sehari-hari di sekolah, yaitu latihan berbicara di depan umum dan deteksi perundungan.

Di STMIK LIKMI, para pelajar SMA dan SMK tidak hanya datang sebagai peserta lomba. Mereka tampil sebagai perancang solusi yang memakai AI untuk menjawab masalah nyata di lingkungan belajar mereka sendiri.

Solusi yang lahir dari ruang kelas

Juara I diraih SMA Santa Angela Bandung lewat karya AI Teachable Machine for Public Speaking. Inovasi ini dibuat untuk membantu siswa melatih rasa percaya diri saat berbicara di depan umum dengan membaca gestur dan ekspresi.

Di posisi berikutnya, SMA Santo Aloysius Bandung mengusung Bullying Detector berbasis AI. Karya ini ditujukan sebagai sistem deteksi dini perundungan di sekolah agar persoalan tersebut bisa dikenali lebih cepat.

Sementara itu, SMKN 1 Cimahi menampilkan Tracker Konsumsi. Alat ini berfungsi memantau pola makan siswa sebagai bagian dari dorongan menuju gaya hidup sehat di sekolah.

AI yang mudah dijangkau pelajar

Seluruh karya itu muncul dalam ajang bertema “AI Playground: Battle of Creators”. Tema tersebut menempatkan siswa sebagai pembuat solusi, bukan sekadar pengguna teknologi.

Lewat Teachable Machine, peserta menunjukkan bahwa model AI bisa dipelajari dengan cara yang lebih sederhana dan lebih mudah diakses generasi muda. Pendekatan ini membuat AI terasa dekat dengan aktivitas belajar, bukan sesuatu yang hanya berada di ruang riset.

Penilaian dari akademisi dan industri

Kualitas karya para peserta diuji oleh panel juri yang melibatkan unsur akademisi dan industri. Komposisinya terdiri dari Djajasukma Tjahjadi, S.E., M.T. dari STMIK LIKMI, Dhanny Setiawan, S.T., M.T. sebagai Kepala UP Prodi Teknik Informatika, dan Lusia Elsa Dika Damayanty dari Telkom AI Connect Bandung.

Kehadiran AI Center Bandung dalam proses penjurian menegaskan dorongan literasi digital sejak dini. Penilaian tidak hanya melihat aspek teknis, tetapi juga menilai apakah AI dipakai sebagai alat pemecah masalah yang sederhana, kontekstual, dan berdampak bagi lingkungan pendidikan.

Cara pandang yang mulai matang

Lusia Elsa Dika Damayanty menilai pola pikir para peserta sudah mendekati cara pandang mahasiswa atau startup tahap awal. Ia melihat siswa memosisikan AI sebagai alat yang bisa mereka latih sendiri, bukan teknologi yang jauh atau rumit.

Hal itu juga terlihat saat sesi tanya jawab. Para peserta mampu mengaitkan AI dengan isu keamanan, kebersihan lingkungan, dan aktivitas organisasi siswa.

Momentum seperti ini dipandang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mencetak talenta digital sejak bangku sekolah. Dari kelas, ide-ide itu mulai tumbuh menjadi solusi yang relevan untuk kebutuhan sehari-hari pelajar.

Source: id.mashable.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru