Keputusan di pinggir lapangan kini jadi bagian paling penting dari peran Hendra Setiawan bersama tim Indonesia di Piala Thomas. Di Horsens, Denmark, ia tidak lagi berada di posisi pemain yang tinggal siap bertanding, melainkan membantu menentukan arah tim dari kursi pelatih.
Perubahan peran itu membuat beban Hendra berbeda dari masa-masa ketika ia masih aktif di lapangan. Ia harus menilai kondisi pemain, membaca kekuatan lawan, lalu memilih susunan yang paling tepat agar target Indonesia tetap terjaga di turnamen beregu bergengsi itu.
Tugas baru yang jauh lebih kompleks
Hendra menilai pekerjaan pelatih memang lebih sulit dibanding saat masih menjadi pemain. Jika dulu fokusnya hanya menyiapkan diri sendiri, sekarang ia ikut memikirkan banyak hal sekaligus, mulai dari siapa yang turun hingga kapan keputusan harus diambil.
Dalam keterangan resmi PP PBSI, Hendra menyebut situasi itu menuntut ketelitian yang jauh lebih besar. “Rasanya mungkin lebih susah jadi pelatih. Kalau dulu sebagai pemain tinggal siap main, sekarang harus menentukan siapa yang turun, melihat kondisi pemain, dan juga lawannya,” ujarnya.
Baginya, kesempatan menjalani peran tersebut bukan sesuatu yang sudah dirancang sejak lama. Hendra justru melihatnya sebagai panggilan tugas yang harus diterima dengan siap, sekaligus ruang untuk menambah pengalaman di dunia kepelatihan.
“Enggak kepikiran sebelumnya, tapi ini panggilan jadi saya harus siap. Ini juga buat pengalaman saya sebagai pelatih,” kata dia.
Bekal panjang dari Piala Thomas
Hendra datang ke kursi pelatih dengan modal pengalaman yang sangat besar di ajang ini. Ia sudah sembilan kali memperkuat Indonesia di Piala Thomas sejak edisi 2006 dan merasakan berbagai fase penting bersama tim Merah Putih.
Pada penampilan perdananya, Hendra ikut membawa Indonesia meraih medali perunggu. Ia kemudian terus menjadi bagian dari skuad hingga Indonesia merebut gelar ke-14 pada 2020, pengalaman yang membuatnya memahami betul tekanan dalam pertandingan beregu.
Pengalaman panjang itu kini menjadi bekal saat ia mendampingi tim dari sisi teknis. Hendra tahu bahwa pertandingan beregu bukan hanya soal kemampuan individu, tetapi juga soal kestabilan mental ketika situasi berubah cepat.
Mental tim jadi perhatian utama
Hendra menilai daya juang harus lebih kuat dalam turnamen seperti ini karena satu hasil pertandingan bisa memengaruhi suasana seluruh tim. Karena itu, fokus setiap pemain tetap menjadi hal yang paling penting di tengah tekanan yang datang secara berlapis.
“Daya juang harus lebih karena ini pertandingan tim. Hasil satu pemain bisa berpengaruh ke yang lain. Tapi yang terpenting tetap fokus masing-masing,” ujarnya.
Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan Indonesia yang tampil dengan komposisi berisi pemain senior dan pemain muda. Situasi tersebut menuntut keseimbangan antara pengalaman dan energi baru agar tim bisa menjaga performa di setiap partai.
Skuad Indonesia dan peran Hendra di dalamnya
Indonesia turun di Grup D bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair. Komposisi pemain yang dibawa juga menunjukkan adanya proses regenerasi yang berjalan berdampingan dengan kekuatan para pemain yang sudah mapan.
Daftar pemain Indonesia di Piala Thomas terdiri atas Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama, Moh Reza Pahlevi Isfahani, Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, Raymond Indra, dan Nikolaus Joaquin.
Di dalam tim, Hendra mendampingi pasangan Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani. Tugas itu membuat kehadirannya tidak hanya sekadar bagian dari staf pelatih, tetapi juga erat kaitannya dengan kebutuhan teknis dan mental pemain yang sedang bertanding.
Dalam situasi seperti Piala Thomas, keputusan pelatih bisa sangat menentukan karena satu partai saja dapat mengubah jalannya pertandingan. Hendra memahami betul pola itu, dan pengalaman panjangnya kini dipakai untuk membantu Indonesia menjaga keseimbangan antara pemain senior, pemain muda, dan tuntutan hasil di level internasional.
Source: www.antaranews.com