Dalam sehari berjualan di kawasan Monas saat peringatan May Day, Slamet pulang dengan omzet bersih yang bisa mencapai Rp 300 ribu. Pedagang roti berusia 56 tahun itu mengandalkan keramaian ribuan buruh yang memadati Jakarta Pusat untuk membuat dagangannya cepat habis.
Slamet membawa sekitar 300 potong roti rumahan ke lokasi tersebut. Seluruh stok itu ludes hanya dalam dua jam, setelah ia mulai membuka lapak sekitar pukul 08.00 dan selesai menjual dagangannya pada pukul 10.00.
Roti yang dibawanya bukan produk pabrikan. Dagangan itu dibuat secara rumahan oleh keponakannya, dengan isian pisang, olesan madu, taburan keju, lalu dipanggang.
Bagi Slamet, momen seperti ini memang menjadi target utama untuk berjualan. Ia mengaku kerap memilih lokasi yang ramai, terutama saat akhir pekan atau ketika ada kegiatan besar di Jakarta.
“Kalau nggak ada acara, saya dagang di pasar, halte, atau stasiun. Tapi kalau ada acara kayak gini ya pasti ke sini, ramai,” ujarnya.
Keramaian semacam itu, menurut Slamet, sangat membantu pedagang kecil. Ia menilai kehadiran banyak orang membuat barang dagangan lebih cepat berpindah tangan dan memberi manfaat bagi para pedagang yang datang dari berbagai wilayah.
“Wah sangat berkah sih buat pedagang. Apalagi yang jarang ke sini jadi pada datang semua (pedagangnya). Memang sangat bermanfaat,” tuturnya.
Di tengah tingginya harga bahan baku, Slamet memilih mempertahankan harga jual. Ia menyebut biaya bahan naik sekitar 30 persen, tetapi harga roti tetap dipatok Rp 5.000 untuk tiga potong.
Agar usaha tetap berjalan, ukuran roti disesuaikan. Slamet menilai cara itu lebih aman daripada menurunkan harga, karena kembalian akan lebih sulit diatur.
“Bahan naik sekitar 30 persen. Jadi ukurannya agak dikecilin. Kalau harga diturunin malah susah kembalian, jadi tetap Rp 5.000 dapet 3,” ucapnya.
Untuk mengejar hasil terbaik, Slamet sudah mulai bekerja sejak tengah malam. Ia berkeliling ke pasar-pasar dan stasiun kereta api sebelum akhirnya berhenti di titik keramaian pada pagi hari.
Dengan pola itu, penghasilan bersih yang ia kantongi dalam satu hari bisa mencapai Rp 300 ribu. Situasi ramai di Monas saat May Day pun menjadi kesempatan yang membuat roti rumahan miliknya habis lebih cepat dari hari biasa.







