Maung buatan Pindad kini bukan lagi sekadar kendaraan taktis ringan yang dipakai di lapangan. Produksinya telah menembus 3.200 unit, menandai bahwa kendaraan ini sudah masuk ke fase pemakaian yang jauh lebih matang di dalam negeri.
Perjalanan itu juga mengubah citra Maung dari alat operasional militer menjadi kendaraan yang punya nilai simbolik lebih luas. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut Maung kini digunakan dalam berbagai operasi dan kebutuhan dalam negeri, sekaligus tampil sebagai penanda kemandirian industri pertahanan Indonesia.
Dari pesanan awal hingga produksi besar
Jejak pengembangan Maung sudah dimulai sejak 2018, ketika kendaraan ini masih disiapkan dengan nama Bima M-31. Proyek tersebut kemudian berlanjut pada masa Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan pada 2019-2024.
Pada periode itu, Prabowo memesan 500 unit dari Pindad. Pesanan tersebut kemudian diserahkan secara resmi pada Januari 2021, dan Maung juga banyak dipesan untuk kebutuhan kendaraan operasional TNI.
Dukungan negara terus mengalir
Skala pemesanan Maung kembali terlihat pada Maret 2025, ketika Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyerahkan secara simbolis 700 Maung MV3 ke TNI. Dalam kesempatan itu, Sjafrie menyebut pemerintah memesan kurang lebih 4.000 unit Maung.
Meski jumlah pesanan besar, penyerahannya dilakukan bertahap. Alasannya, produksi kendaraan ini disebut masih terbatas sehingga distribusinya tidak bisa dilakukan sekaligus.
Masuk ke kendaraan simbol negara
Penggunaan Maung kemudian melampaui fungsi utamanya sebagai rantis. Salah satu variannya, MV3 Garuda Limousine, dipakai sebagai mobil kepresidenan oleh Prabowo saat pelantikan presiden pada 20 Oktober 2024.
Momen itu membuat Maung semakin dikenal publik sebagai produk pertahanan dalam negeri. Kendaraan ini tidak lagi dipandang hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai bukti kemampuan industri nasional.
Tampil di panggung internasional
Sorotan terhadap Maung semakin kuat saat kendaraan itu dibawa dalam kunjungan Prabowo ke Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ke-48 ASEAN di Filipina. Teddy menyampaikan bahwa Maung digunakan Prabowo selama berada di Filipina pada 7-8 Mei 2026.
Kehadiran Maung di forum internasional memberi makna baru bagi kendaraan buatan Pindad. Teddy menyebut penggunaannya bukan sekadar sarana mobilitas, melainkan simbol kemandirian bangsa, kepercayaan diri nasional, dan kemajuan industri Indonesia.
Dengan produksi yang sudah mencapai 3.200 unit dan pesanan yang terus bertambah, Maung kini berada di posisi yang berbeda dari awal pengembangannya. Kendaraan ini bergerak dari kebutuhan taktis menuju representasi yang lebih luas, termasuk sebagai simbol diplomasi Indonesia di panggung dunia.
Source: www.cnnindonesia.com






