Bank Indonesia melihat dorongan dari dalam negeri masih menjadi penahan utama ketika ekonomi global melemah. Di tengah tekanan eksternal, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi tetap bergerak positif sehingga aktivitas ekonomi nasional masih terjaga.
Salah satu penopang yang paling menonjol datang dari peredaran uang di masyarakat yang ikut terdorong oleh penyaluran THR, kenaikan belanja sosial, dan berbagai insentif pemerintah. Gubernur BI Perry Warjiyo menilai rangkaian kebijakan itu membantu menjaga momentum pertumbuhan karena permintaan di berbagai sektor tetap hidup.
Permintaan Domestik Masih Menopang
BI menilai ketahanan ekonomi Indonesia saat ini bertumpu pada permintaan domestik yang belum kehilangan tenaga. Konsumsi rumah tangga masih kuat, sementara belanja pemerintah dan investasi juga terus memberi kontribusi positif.
Kondisi itu membuat perekonomian Indonesia relatif mampu bertahan di tengah memburuknya situasi global. Sejumlah indikator yang dipantau BI bahkan menunjukkan penguatan pada triwulan I 2026, menandakan aktivitas ekonomi masih bergerak sejalan dengan dukungan dari sisi dalam negeri.
THR dan Belanja Sosial Menghidupkan Aktivitas Belanja
Momen Idulfitri 1447 H ikut memberi dorongan tambahan bagi konsumsi masyarakat. Kenaikan permintaan pada periode hari besar keagamaan nasional tersebut membuat aktivitas belanja lebih terjaga dan membantu menopang konsumsi rumah tangga.
Di saat yang sama, daya beli masyarakat dinilai tetap terjaga, sementara keyakinan pelaku ekonomi masih solid. Kombinasi inilah yang membuat ritme belanja tidak mudah melemah meski tekanan dari luar negeri masih terasa.
Perry Warjiyo menekankan bahwa belanja pemerintah berdampak langsung pada perekonomian. Penyaluran THR, peningkatan belanja sosial, serta insentif lain termasuk transfer ke daerah menjadi faktor penting yang menjaga perputaran uang di masyarakat.
Investasi Bangunan Tetap Memberi Sinyal Positif
Selain konsumsi, BI juga melihat investasi masih berada pada jalur yang baik. Sektor bangunan disebut tetap menunjukkan kinerja positif seiring akselerasi berbagai program prioritas pemerintah.
Percepatan program-program tersebut membantu menjaga aktivitas investasi tetap bergerak. Dalam situasi perlambatan global, investasi domestik masih dipandang sebagai salah satu sumber pertumbuhan yang dapat diandalkan karena mencerminkan keyakinan dunia usaha terhadap pasar dalam negeri.
Aktivitas pembangunan dan sektor-sektor terkait pun berpotensi terus mendapat dukungan selama program prioritas berjalan. Hal ini memperkuat peran investasi sebagai salah satu penopang ekonomi nasional di tengah ketidakpastian eksternal.
BI Dorong Penguatan Kebijakan
Ke depan, BI menilai respons kebijakan perlu terus diperkuat agar dampak perlambatan global bisa dimitigasi. Penguatan itu dibutuhkan baik dari sisi pemerintah maupun bank sentral untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan.
BI juga menekankan pentingnya mengoptimalkan sumber pertumbuhan dari dalam negeri. Program prioritas pemerintah yang menyerap tenaga kerja, meningkatkan permintaan domestik, dan menjaga ketahanan fiskal dinilai perlu terus diperkuat agar ekonomi nasional tetap memiliki ruang tumbuh yang sehat.
Dalam kerangka itu, BI berkomitmen menjaga stabilitas sambil tetap mendorong pertumbuhan. Bauran kebijakan akan diperkuat melalui sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran bersama pemerintah.
Dengan konsumsi rumah tangga yang masih kuat, belanja pemerintah yang terdorong THR dan belanja sosial, serta investasi domestik yang tetap positif, BI memprakirakan perekonomian Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%. Sinyal ini menunjukkan kekuatan utama ekonomi nasional masih berasal dari permintaan dalam negeri ketika tekanan global belum mereda.
Source: www.beritasatu.com






