Ikan sapu-sapu sering menjadi perhatian karena tingkat ketahanannya yang tidak biasa saat berada di luar air. Kondisi inilah yang membuat penanganannya tidak bisa dilakukan sembarangan, terutama ketika ikan tersebut perlu dipastikan benar-benar tidak lagi hidup setelah diangkat dari perairan.
Alasan penguburan kerap disarankan adalah karena ikan sapu-sapu tidak langsung mati hanya karena sudah berada di darat. Dalam situasi tertentu, ikan ini masih dapat bertahan untuk sementara waktu, sehingga bangkai yang dibiarkan begitu saja tetap menyimpan risiko, apalagi bila area sekitar kembali basah atau terkena aliran air.
Mengapa ikan sapu-sapu sulit mati di daratan?
Berbeda dari banyak ikan lain yang cepat kehilangan fungsi tubuh saat terlepas dari air, ikan sapu-sapu memiliki daya tahan yang lebih kuat. Saat berada dalam kondisi minim air, aktivitas tubuhnya dapat melambat sehingga proses kematian berjalan lebih lama.
Secara umum, ikan bernapas dengan insang untuk menyerap oksigen dari air. Namun, pada ikan sapu-sapu, kemampuan beradaptasi ini membuatnya masih bisa bertahan meski insangnya tidak bekerja optimal. Itulah sebabnya pengeringan di permukaan tanah dinilai tidak cukup aman untuk mematikannya.
Keterangan yang dikutip dari The Science Times dalam artikel referensi juga menyebut ikan sapu-sapu masih bisa memperoleh oksigen meski tidak sepenuhnya berada di dalam air. Kondisi ini menjelaskan mengapa ikan tersebut tampak tetap hidup lebih lama dari perkiraan saat hanya diletakkan di darat.
Alasan penguburan dianggap lebih efektif
Penguburan dipilih karena cara ini menutup akses oksigen dengan lebih total dan membatasi ruang gerak ikan. Dengan kondisi itu, peluang ikan untuk bertahan menjadi jauh lebih kecil dibandingkan jika bangkai hanya ditinggalkan di permukaan tanah.
- Menutup akses oksigen agar ikan tidak bertahan di darat.
- Menghentikan fungsi organ yang masih aktif setelah ikan keluar dari air.
- Mengurangi peluang ikan hidup kembali saat terkena hujan atau aliran air.
- Mencegah bangkai menjadi sumber polutan di lingkungan sekitar.
Dalam penanganan lapangan, metode ini dinilai lebih terkendali karena memberi kepastian bahwa ikan tidak kembali aktif ketika kondisi lingkungan berubah. Hal tersebut penting terutama di lokasi yang rawan genangan atau dekat aliran air.
Risiko jika bangkai dibuang sembarangan
Selain kuat bertahan hidup, ikan sapu-sapu juga dapat membawa kontaminan dari lingkungan tempat hidupnya. Artikel referensi menyebut penelitian dalam jurnal Heliyon menemukan tubuh ikan sapu-sapu dari sungai tercemar seperti Ciliwung mengandung logam berat berbahaya, termasuk merkuri dan timbal.
Jika bangkai dibiarkan membusuk di ruang terbuka, zat berbahaya itu berisiko berpindah ke tanah atau air di sekitarnya. Dampaknya bisa makin luas ketika bangkai dimakan hewan lain, karena racun dapat masuk ke rantai makanan dan memengaruhi ekosistem lebih jauh.
Mengapa ikan sapu-sapu menjadi perhatian dalam pengendalian populasi?
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan perairan. Populasinya yang besar berpotensi menekan ikan lokal dan memperburuk kualitas habitat sungai.
Penelitian dalam jurnal Scientific Reports yang disebut dalam sumber juga menjelaskan bahwa ikan tertentu memiliki toleransi hipoksia, yaitu kemampuan bertahan dalam kondisi minim oksigen untuk waktu singkat sebelum terjadi kerusakan saraf. Fakta ini memperkuat alasan mengapa ikan sapu-sapu tidak bisa dianggap sudah mati hanya karena berada di darat.
Dalam praktik pengelolaan lingkungan, penguburan digunakan untuk memastikan ikan benar-benar berhenti hidup sekaligus mengurangi risiko penyebaran polutan. Cara ini juga membantu mencegah ikan kembali menjadi ancaman jika bangkainya terkena air di kemudian hari.
Source: www.idntimes.com






